RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Di era digital ini, membagikan momen tumbuh kembang anak di media sosial sudah menjadi hal umum. Namun, di balik kebahagiaan berbagi, tersimpan sebuah ancaman yang disebut 'sharenting'.
Istilah ini merujuk pada kebiasaan orang tua yang membagikan terlalu banyak informasi pribadi atau foto/video anak di platform daring, seringkali tanpa memikirkan potensi konsekuensi jangka panjang bagi privasi dan keamanan anak.
Apa itu 'Sharenting' dan Mengapa Berbahaya?
Sharenting adalah gabungan dari kata 'share' (berbagi) dan 'parenting' (pengasuhan). Ini mencakup segala bentuk unggahan orang tua di media sosial yang mengandung informasi pribadi anak, mulai dari foto saat mandi, video tantrum, lokasi sekolah, hingga detail medis.
Bahaya dari sharenting tidak bisa dianggap remeh:
- Risiko Pencurian Identitas (Identity Theft): Informasi seperti tanggal lahir, nama lengkap, atau bahkan alamat rumah yang terungkap bisa dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk mencuri identitas anak di masa depan.
- Perundungan Siber (Cyberbullying): Foto atau video memalukan yang diunggah orang tua bisa menjadi bahan ejekan atau perundungan oleh teman sebaya anak di kemudian hari.
- Paparan Predator Anak: Data lokasi atau kebiasaan anak yang diunggah tanpa sengaja bisa menjadi petunjuk bagi predator online.
- Jejak Digital Permanen: Apa pun yang diunggah ke internet cenderung permanen. Foto atau informasi yang diunggah saat ini mungkin akan membuat anak malu atau tidak nyaman di masa depan, saat mereka sudah dewasa dan memiliki kontrol atas identitas digital mereka sendiri.
- Pelanggaran Privasi Anak: Anak memiliki hak atas privasinya sendiri. Mengunggah detail pribadi mereka tanpa persetujuan (terutama jika mereka sudah cukup besar untuk memahami) bisa melanggar hak tersebut.
Tips Menjaga Privasi Anak di Media Sosial
Meskipun sharenting berisiko, bukan berarti orang tua harus sepenuhnya berhenti berbagi momen bahagia. Kuncinya adalah menjadi bijak dan bertanggung jawab. Berikut adalah beberapa tips untuk menjaga privasi anak:
Pertimbangkan Sebelum Mengunggah
Selalu tanyakan pada diri sendiri: "Apakah foto/video ini akan membuat anak saya merasa malu di masa depan?" atau "Apakah ada informasi sensitif yang bisa dieksploitasi?" Jika ragu, lebih baik tidak diunggah.
Periksa Pengaturan Privasi
Pastikan profil media sosial Anda diatur ke 'Pribadi' atau 'Hanya Teman'. Batasi siapa saja yang bisa melihat unggahan anda.
Hindari Informasi Lokasi
Matikan fitur geotagging saat mengunggah foto atau video anak. Jangan pernah mengunggah foto yang menunjukkan lokasi spesifik seperti alamat rumah, sekolah, atau tempat les.
Sensor Informasi Sensitif
Jika harus mengunggah akta kelahiran atau sertifikat penghargaan anak, tutupi informasi sensitif seperti nama lengkap, tanggal lahir, atau alamat.
Pikirkan Konten "Memalukan"
Hindari mengunggah foto atau video anak saat tantrum, telanjang, atau dalam situasi yang bisa dianggap memalukan di kemudian hari.
Libatkan Anak dalam Keputusan (jika sudah besar)
Untuk anak yang sudah cukup dewasa (misalnya, usia sekolah dasar ke atas), libatkan mereka dalam keputusan tentang apa yang boleh dan tidak boleh diunggah tentang mereka. Ini melatih mereka memahami konsep privasi dan jejak digital.
Batasi Jumlah Unggahan
Tidak perlu mengunggah setiap momen. Pilih momen-momen istimewa saja.
Gunakan Grup Tertutup atau Aplikasi Khusus
Untuk berbagi dengan keluarga besar, pertimbangkan menggunakan grup pesan tertutup atau aplikasi berbagi foto khusus yang lebih aman.
Kapan Media Sosial Berguna untuk Orang Tua?
Meskipun ada risiko sharenting, media sosial tetap memiliki kegunaan positif bagi orang tua jika digunakan secara bijak:
- Menghubungkan dengan Keluarga dan Teman: Memungkinkan keluarga dan teman yang jauh untuk tetap terhubung dan melihat perkembangan anak.
- Mencari Dukungan Komunitas: Bergabung dengan grup atau forum parenting online dapat memberikan dukungan emosional, berbagi tips, dan merasa tidak sendirian dalam menghadapi tantangan pengasuhan.
- Mendokumentasikan Momen: Sebagai album digital untuk mendokumentasikan kenangan indah anak. Namun, pastikan ini disimpan di tempat yang aman dan pribadi.
- Inspirasi dan Edukasi: Mengikuti akun-akun edukasi parenting atau psikologi anak bisa menjadi sumber inspirasi dan informasi yang bermanfaat.
Pada akhirnya, tanggung jawab ada di tangan orang tua. Dengan kesadaran akan risiko dan penerapan tips keamanan yang tepat, orang tua bisa tetap berbagi kebahagiaan tanpa mengorbankan privasi dan masa depan anak di era digital. (yna)
Editor : Yuan Edo Ramadhana