Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Lamongan Menuju “Naik Kelas”: Dari Lumbung Pangan Menjadi Pusat Hilirisasi Padi

Bachtiar Febrianto • Kamis, 5 Maret 2026 | 18:20 WIB

BACHTIAR FEBRIANTO (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
BACHTIAR FEBRIANTO (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
Bachtiar Febrianto, S.P, M.Agr
Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG)

 

Pembangunan pertanian tidak hanya diukur dari banyaknya hasil panen, tetapi juga dari kualitas produk dan kesejahteraan petani yang menghasilkannya. Dalam konteks ini, Kabupaten Lamongan layak mendapat apresiasi. Daerah ini berhasil menempatkan diri sebagai produsen padi terbesar di Jawa Timur, sekaligus menjadi salah satu lumbung pangan nasional. Tantangan berikutnya adalah bagaimana Lamongan “naik kelas”: tidak hanya unggul secara kuantitas produksi, tetapi juga kualitas hasil serta nilai ekonomi bagi petani.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Lamongan, produksi padi tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 904,93 ribu ton gabah kering giling (GKG), meningkat sekitar 16,57 persen dibandingkan 2024 yang sebesar 776,29 ribu ton GKG. Jika dikonversi menjadi beras, produksi tersebut mencapai sekitar 522,52 ribu ton beras untuk konsumsi masyarakat. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Lamongan)

Capaian ini menempatkan Lamongan sebagai peringkat pertama produksi padi di Jawa Timur. Padahal, secara keseluruhan Provinsi Jawa Timur sendiri merupakan salah satu sentra produksi padi terbesar di Indonesia, dengan produksi sekitar 10,44 juta ton GKG pada tahun 2025. Dengan kata lain, kontribusi Lamongan terhadap ketahanan pangan provinsi maupun nasional sangat signifikan.

Prestasi tersebut tentu bukan terjadi secara kebetulan. Berbagai kebijakan pemerintah daerah telah berperan besar, mulai dari program luas tambah tanam (LTT), peningkatan akses pupuk, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pendampingan teknis kepada petani. Dukungan tersebut terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan dan menjaga stabilitas produksi.

Namun, keberhasilan kuantitatif ini perlu dikembangkan lebih jauh. Dalam perspektif ekonomi pertanian modern, peningkatan produksi belum tentu secara otomatis meningkatkan kesejahteraan petani. Banyak kasus menunjukkan bahwa ketika produksi meningkat, harga justru turun akibat pasokan melimpah. Akibatnya, nilai tambah yang diterima petani tidak meningkat secara signifikan.

Di sinilah pentingnya transformasi menuju pertanian bernilai tambah melalui hilirisasi padi. Hilirisasi berarti mengolah hasil pertanian menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Dalam konteks padi, hilirisasi dapat berupa pengembangan industri beras premium, beras organik, beras fortifikasi, hingga produk olahan seperti tepung beras, beras instan, atau makanan berbasis beras.

Baca Juga: Meneropong Setahun Kepemimpinan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi dan Wabup Dirham Akbar Aksara: Memperkuat Ketahanan Pangan hingga Daya Saing Investasi

Pendekatan ini sejalan dengan teori agribusiness value chain, yang menyatakan bahwa keuntungan terbesar dalam sektor pertanian sering kali berada pada tahap pascapanen dan pengolahan, bukan pada produksi bahan mentah semata. Jika Lamongan mampu mengembangkan industri pengolahan padi secara sistematis, maka nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berhenti di tingkat petani sebagai produsen gabah, tetapi meluas hingga industri pangan.

Selain hilirisasi, peningkatan kualitas beras juga harus menjadi agenda strategis. Pasar beras Indonesia kini semakin tersegmentasi. Konsumen kelas menengah mulai mencari beras dengan kualitas premium, rendah residu pestisida, atau bahkan beras organik. Ini membuka peluang besar bagi daerah penghasil padi seperti Lamongan untuk masuk ke pasar bernilai tinggi.

Sebenarnya Lamongan telah menyiapkan infrastruktur untuk hilirisasi padi. Ditunjukkan dengan melimpahnya usaha penggilingan padi di Kota Soto tersebut. Sehingga tinggal men-diversifikasi produknya dalam berbagai produk olahan padi.

Langkah lain yang penting adalah memperkuat ekosistem pertanian modern. Digitalisasi pertanian, penggunaan varietas unggul tahan iklim, sistem irigasi presisi, serta mekanisasi pertanian dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan biaya usaha tani. Dengan demikian, margin keuntungan petani dapat meningkat.

Tidak kalah penting adalah penguatan kelembagaan petani, seperti koperasi atau korporasi petani. Melalui kelembagaan yang kuat, petani dapat memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam rantai pasok, mulai dari pengadaan sarana produksi hingga pemasaran hasil panen.

Dalam hal ini, sukses Lamongan sebagai daerah terbaik dalam progress pembangunan koperasi desa kelurahan (kopdeskel) merah putih menjadi prospek tersendiri. Tentu harus ditunggu realisasinya.

Lamongan telah membuktikan dirinya sebagai lumbung padi Jawa Timur. Namun, masa depan pertanian tidak lagi hanya soal berapa banyak padi yang diproduksi, melainkan berapa besar nilai ekonomi yang dapat diciptakan dari setiap bulir padi tersebut.

Karena itu, langkah “naik kelas” menjadi keharusan. Dengan menjaga produktivitas sekaligus mengembangkan hilirisasi, meningkatkan kualitas beras, dan memperkuat kelembagaan petani, Lamongan tidak hanya akan dikenal sebagai daerah dengan produksi padi terbesar, tetapi juga sebagai model pembangunan pertanian modern yang menyejahterakan petani.

Jika transformasi ini berhasil, maka Lamongan bukan sekadar lumbung pangan, melainkan pusat ekonomi pangan yang berdaya saing tinggi. (feb)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#Jawa Timur #Gabah #pangan #Panen #gabah kering giling #Petani #gkg #penggilingan padi #Pertanian #produsen padi #padi #hasil panen #hilirisasi #lamongan #lumbung pangan #naik kelas