Oleh:
Tonny Ade Irawan
Mantan Wartawan Radar Bojonegoro
JALUR Lintas Selatan atau JLS kembali menjadi topik pembicaraan setelah beberapa tahun wacana ini menghilang. Pemkab Bojonegoro kembali mewacanakan membangun JLS beberapa tahun mendatang. Bahkan dipimpin Bupati Bojonegoro Setyo Wahono sudah membahas secara serius realisasi JLS bersama tim dari Universitas Gajah Mada beberapa waktu lalu.
JLS sebenarnya bukan barang baru dan merupakan wacana lama yang kembali menjadi harapan bagi warga masyarakat Bojonegoro. Wacana ini sebenarnya telah bergulir dari beberapa periode Bupati Bojonegoro sebelumnya.
Sudah bergulir 2002 atau 2003 lalu di masa kepemimpinan Bupati Bojonegoro Santoso dan timbul tenggelam sampai dengan saat ini.
Pembaca tentu pernah merasakan macet di Kawasan jalan Untung Suropati, Gajah Mada atau Rajekwesi saat jam sibuk. Menunggu cukup lama di lampu traficlight atau di perlintasan kereta api di sekitar jalan tersebut.
Saat itu, wacana JLS terbagi menjadi dua bagian rencana besar dari JLS dan JLK atau Jalur Lingkar Kota. Studi kelayakan pun sudah dilakukan.
Yang pertama wacana JLS saat itu adalah melalui wilayah Selatan Bojonegoro dengan akses masuk kecamatan dari Surabaya menuju Jawa Tengah melalui pintu masuk Baureno melewati Kepohbaru, Kadungadem, Sugihwaras, Temayang, Dander, Kalitidu, Ngasem serta Purwosari dan Ngraho.
Sementara wacana JLS yang kedua oleh Bupati Santoso adalah melingkar di selatan kota atau disebut dengan Jalur Lingkar Kota atau JLK. Tujuannya menumbuhkan ekonomi baru di selatan kota utamanya sekatan rel Kereta Api adalah untuk memecah padatnya lalu lintas yang menuju atau dari kota Bojonegoro.
Mulai Proliman Kapas hingga Ngujo Kalitidu serta akses lanjutan menuju pintu keluar Purwosari bergabung dengan rencana JLS melalui Ngasem. Uniknya akses JLK ini ditambahi dengan akses menuju Tuban dengan pintu keluar di Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas yang menuju jembatan Simo Glendeng untuk menuju Tuban.
Dan aksesnya melalui Desa Wedi dan Kalianyar menuju ke Tanjungharjo menggunakan Flyover di wilayah Proliman, Kalianyar di Kapas dan Ngujo Kalitidu. Wacana ini pun hilang seiring pergantian Bupati ke Suyoto meskipun gambar Flyover dan akses jalan sudah banyak diketahui masyarakat.
Wacana JLK ini sendiri muncul kembali di era pemerintahan Bupati Suyoto pada periode kedua 2013 dan 2014. Saat itu pembangunan doubletrack kereta api sudah selesai dan dirasakan dampaknya saat ada kereta lewat dengan padatnya jadwal kereta dan jumlah kendaraan yang mengantre.
Saat itu pemetaan dilakukan dengan akses sama di jalan Rajekwesi lama. Bahkan Pembangunan sejumlah ruas jalan rajekwesi sudah dilakukan dengan pelebaran dan perbaikan jalan. Dari data yang ada sebenarnya akses Jalan Rajekwesi adalah selebar 11 sampai dnegan 12 meter dan cukup untuk membuat JLK. Meski demikian proses tersebut juga hilang termasuk kelanjutan Pembangunan seiring berganti kekuasaan ke Bupati Anna Mu’awannah.
Pada era Bupati Anna Mu’awanah wacana baik JLS maupun JLK tak pernah terdengar lagi. Sebab bupati Perempuan ini lebih memilih melebarkan akses jalan dari Bojonegoro menuju Surabaya sampai Baureno guna memperlancar lalu lintas. Selain juga mewacanakan membangun flyover di atas perlintasan kereta api di dua titik yaitu di Proliman Kapas dan Jetak .
Wacana yang sudah dua dekade ini kembali muncul di era pemerintahan Bupati Setyo Wahono dengan nama JLK. Ada sesuatu yang baru memang dalam rencana terbaru.
Namun tujuannya tetap sama yaitu mengutangi kepadatan lalu lintas, kemudian menumbuhkan kawasan ekonomi baru di Selatan Bojonegoro. Rencananya Pembangunan dimulai dengan pemetaan dan pengadaan lahan di 2027 dan pembangunannya dilakukan dalam dua tahap sampai 2030 mendatang.
Yang baru adalah akses masuk tidak lagi di Proliman Kapas tapi bergeser ke Desa Kabunan dan melintas di Kecamatan Kapas, Dander serta Kalitidu di sekitar Ngujo Kalitidu untuk akses keluar. Dengan skenario ini maka panjang JLS atau JLK adalah 20 kilometer.
Sementara alternatif akses masuk kedua adalah di Kapas di sebalah timur Sekolah Model Terpadu dengan melintasi Kapas Dander dan Kalitidu. Dan dengan alternatif pintu masuk kedua maka panjang JLK atau JLS atau sekitar 17 kilometer.
Agak berbeda secara lokasi yang mungkin untuk menyesuaikan dengan kondisi saat ini serta pembiayaan. Namun, yang paling penting adalah ditunggu realisasinya Pembangunan JLS atau JLK ini. Sebab waktu dua dekade dengan kondisi APBD yang luar biasa adalah waktu yang sudah cukup lama. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bai pemeirntaha Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah.
Tentunya dengan terealisasinya JLK atau JLS ini tentu akan menjadikan masyarakat lebih bahagia karena akses jalan dan transportasi yang nyaman dan lancar.
Selain juga dengan terealisasinya JLK atau JLS ini tentu akan menjadikan kawasan ekonomi baru tumbuh yang akan menjadikan masyarakat lebih Makmur.
Termasuk juga terealsaisnya JLK atai JLS ini tentu akan membanggakan bagi masyarakat Bojonegoro dengan hasil pembangunannya. Yang pada akhirnya nanti akan mewujudkan slogan Pemkab Bojnegoro saat ini mewujdukan Bojonegoro yang bahagia makmur dan membanggakan. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana