Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Berharap Jamaah Haji Meruqyah Politisi

M. Yusuf Purwanto • Senin, 6 Juni 2022 | 14:00 WIB
Mundzar Fahman (Dokumen Pribadi For R.Bjn)
Mundzar Fahman (Dokumen Pribadi For R.Bjn)
AKHIR-akhir ini kian banyak politisi di negeri ini kayaknya perlu diruqyah. Harapannya, pikiran, ucapan, dan perilaku politisi bisa lebih baik. Jika politisi baik, insya Allah, kondisi bangsa berpeluang menjadi lebih baik. Sebaliknya, politisi yang tidak baik malah bikin gaduh. Bikin ruwet. Jadi beban negeri.

 

Lalu siapa yang meruqyah politisi? Menurut saya, ada baiknya yang meruqyah politisi adalah para calon jamaah haji (CJH) dari Indonesia. Para CJH hendaknya berkenan menyisipkan doa terbaik mereka selama di Tanah Suci nanti. Untuk para politisi di negeri ini. Apalagi, tahun 2022 ini sudah memasuki tahun politik. Tensi politik akan terus meningkat hingga 2024. Bahkan, mungkin seterusnya.

 

Mulai Jumat lalu CJH Indonesia 2022 berangkat menuju Tanah Suci. Jika tidak ada kendala kesehatan atau lainnya, sebanyak 100.051 CJH Indonesia akan menunaikan ibadah haji tahun ini. Hari ini CJH asal Bojonegoro diberangkatkan menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya.

 

Ruqyah  adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allah SWT untuk mencegah dan mengobati bala dan penyakit. Dalam Islam, ruqyah yang paling utama adalah doa dan bacaan yang bersumber dari Al Qur an dan Assunnah. (wikipedia).

 

Mengapa banyak politisi perlu diruqyah? Karena akhir-akhir ini banyak politisi ambisinya overdosis terhadap jabatan. Terhadap kekuasaan. Salah satu indikasinya, banyak politisi kesannya kebelet ingin menjadi calon presiden. Berbagai cara mereka lakukan. Tiada hari mereka tanpa bicara politik. Tiada hari mereka tanpa pencitraan politik. Padahal, mereka itu jika nanti terpilih menjadi presiden belum tentu mampu lo. Kata orang Jawa: dewek e iku iso opo ora? Ojo-ojo dewek e mung rumongso iso. Ananging ora iso rumongso (Jangan-jangan mereka hanya merasa bisa. Tetapi mereka tidak bisa mengukur kemampuan dirinya). Jika kita memperhatikan tampang politisi yang banyak tampil di media, kita dapat membayangkan mana yang kira-kira mampu dan mana yang kira malu-maluin.

 

Soal kemampuan mungkin dapat dipelajari. Bisa di-upgrade. Apalagi, presiden punya banyak pembantu yang sangat ahli. Tetapi, masalahnya, apakah mereka berani melakukan penataan negeri ini? Itulah intinya. Jika kemampuan tidak punya. Keberanian juga nol. Lalu gimana? Sekalipun punya teori bagus untuk menata negeri tetapi jika tidak memiliki keberanian ya percuma. Karena mafia hitam akan menolak ditertibkan. Mereka merasa dirugikan.

 

Apa yang diucapkan dan dilakukan para politisi tentu berdampak luas di masyarakat. Ujaran kebencian, permusuhan, dan pernyataan-pernyataan kontroversial, misalnya, itu dapat menimbulkan kegaduhan sosial. Apalagi kebijakan keliru yang mereka bikin. Tentu dampak negatifnya sangat luas di masyarakat. Misal, kebijakan terkait distribusi minyak goreng beberapa waktu lalu. Hari-hari ini emak-emak juga sambat karena harga bahan kebutuhan dapur juga naik.

 

Masih banyaknya pejabat publik korupsi juga berdampak luas bagi masyarakat. Kasus korupsi terbaru, ada seorang walikota baru dua minggu lengser justru terkena OTT (Operasi Tangkap Tangan) oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). (Jawa Pos Jumat Kliwon 3 Juni 2022).

 

Juga, ada buron tersangka korupsi sudah bertahun-tahun tetapi tidak tertangkap. Kasus-kasus seperti itu juga tidak lepas dari adanya campur tangan politisi tertentu. Politisi yang perlu diruqyah. Biar tidak semakin parah. Syukur-syukur mereka bisa sembuh menjadi lebih baik.

 

Mengapa yang meruqyah perlu jamaah haji? Karena jamaah haji yang sedang di Tanah Suci (Makkah dan Madinah)   merupakan tamu-tamu Allah. Dhuyufurrahman. Selain itu, di Tanah Suci banyak tempat yang diyakini mustajabah. Jika seseorang berdoa di tempat-tempat tersebut doanya berpeluang besar diijabahi/dikabulkan oleh Allah SWT. Misal, berdoa di Multazam, di Hijr Ismail, atau saat wukuf di Arafah. Atau, di Raudhah (lokasi khusus) di dalam Masjid Nabawi di Madinah.

 

Dapat dibayangkan. Jumlah CJH Indonesia tahun ini 100 ribu lebih. Jika separo saja yang berdoa untuk para politisi, insya Allah berpeluang besar diijabahi oleh Allah. Ini demi bangsa kita agar ke depan lebih baik. Melalui doa rakyat, khususnya jamaah haji, semoga para politisi dibukakan hatinya. Boleh saja mereka mengincar jabatan. Tetapi orientasi terbesarnya haruslah untuk kebaikan rakyat, kebaikan negeri ini. Bukan semata untuk kepentingan pribadi. Apalagi dengan cara mengorbankan negerinya. Dan rakyatnya. Kasihan rakyat.

Sering ada ungkapan. Rakyat sering hanya diposisikan sebagai pendorong mobil mogok. Rakyat diminta mendorong mobil mogok. Setelah mobil berjalan normal, yaa wassalam. Pejabat yang duduk di kursi empuk gak peduli wong cilik.

 

Nah. Rakyat yang tahun ini belum berkesempatan berhaji berarti belum bisa ikut meruqyah politisi dari Tanah Suci. Meruqyah dari tanah air saja.

 

Kita berdoa semoga keberangkatan para CJH lancar. Semoga segala urusan selama di Tanah Suci nanti juga lancar. Begitu pula saat kepulangan nanti, dan pulang dengan predikat haji mabrur. Mudah-mudahan jamaah yang gagal berangkat karena tidak lolos tes kesehatan, mereka sabar. Mungkin ada hikmah di balik musibah itu. Labbaika Allahumma Labbaik... (*)

 

 

*)  Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro.


  Editor : M. Yusuf Purwanto
#anna mu'awanah #bupati bojonegoro #opini #bojonegoro #Jemaah Haji