Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Peluang dan Tantangan PCNU Lamongan

Bhagas Dani Purwoko
logo Nahdlatul  Ulama.
logo Nahdlatul Ulama.

 

Oleh:
Mahfud Shodiq
Anggota Fraksi PKB DPRD Lamongan

 


Advertisement

ENTAH hanya sekadar sendiran atau apa, tapi kalimat, “NU Lamongan,  kaya NU Lebanon” ini, pernah di ucapkan alm KH Hasyim Muzadi saat ceramah di hadapkan ratusan kader NU di Lamongan.

Tidak ada yang tahu  maksud dan tujuannya, hanya almarhun Kiai Hasyim dan Allah SWT  pernyataan itu dilontarkan.

“ Kiai Hasyim menyampaiakan hal itu tidak hanya sekali mas, tapi berulang kali,  di saat ke Lamongan, “ ujar salah satu kader NU.

Advertisement

Namun,  penulis sedikit bisa menerka, munculnya pernyataan itu, yang jelas bukan karena sebuah prestasi yang ditorehkan pengurus NU Lamongan ketika itu, akan tetapi sebuah sindiran  keras dari mantan Ketua PWNU Jatim ini, begitu melihat  keberadaan NU Kota Soto yang terus dirundung masalah.

Tidak begitu jelas, kapan mulai adanya masalah di tubuh NU Lamongan. Namun, tak sedikit yang menduga munculnya  “konflik” di PCNU lamongan ini imbas dari Konfercab 2002. Ketika itu Tsalis Fahmi memenangkan perebutan kursi Ketua Tanfizd  PCNU Lamongan mengalahkan KH Masnur arif. 

Pihak Masnur menganggap Konfercab kala itu diduga banyak terjadi kecurangan. Meski demikian, oleh PBNU Tsalis tetap dikukuhkan menjadi Ketua PCNU Lamongan periode 2002 - 2007.  Di tengah perjalanan, Tsalis yang hanya  memimpin NU sekitar hanya dua tahun itu, mencalonkan diri menjadi wakil Bupati Lamongan berpasangan H Masfuk.

Advertisement

Dari sini warga NU  ramai, tak sedikit yang minta Tsalis diganti. Yang akhirnya, digelarlah Konfercab NU, nama  KH Farhan terpilih sebagai ketua PCNU menggantikan Tsalis,  KH Farhan saat itu, mengalahkan H Abdul Mukti.

Namun takdir berkata lain, sekitar dua tahun memimpin NU tepatnya 2007 , Kiai Farhan yang terkenal dekat dengan Gus Gus itu meninggal dunia. Sebagai gantinya, KH Abdul Maun, ditunjuk  sebagai Plt-nya.

Tidak berjalan lama, sekitar satu tahun, kiai Maun diberhentikan, karena diangkat menjadi anggota DPRD Jatim dari FKB melalui proses PAW. Habib Husen lah ditunjuk sebagai penggantinya, tepatnya sekitar tahun 2010 an.

Tidak lama kemudian, digelar Konfercab PCNU massa bakti 2010 -2015.  Habib Husen  yang ketika itu mencalonkan sebagai ketua, bersaing dengan Siswanto,  akhirnya terpilih.

Entah apa yang terjadi, di era kepemimpinan Habib, sapaan akrab - Habis Husen - yang ke dua, hanya berjalan sekitar dua tahun,  PBNU tiba tiba menggantinya,  dengan menunjuk Kacung Marijan sebagai carteker  ketua PCNU  lamongan. Sekaligus dosen Fisip UNAIR ini ditunjuk untuk menggelar Konfercab.

Rupanya kekalahan Siswanto, tidak hanya berhenti di sini,  ia terus menjalin dan merajut dukungan, saat Konfercab digelar,  mencalonkan diri kembali, menjadi Ketua PCNU Lapmongan untuk ke dua kalinya,  kali ini sebagai rivalnya  Bi’in Abdul salam.

Namun apa yang terjadi, Siswanto tetap kembali kalah, pemenangnya adalah Biin Abdul Salam. Merasa tidak puas dan menganggap pelaksaaan Konfercab banyak terjadi kecurangan, Siswanto dan pendukungnya, akhirnya memisahkan diri dengan PCNU Lamongan dan menghidupkan PCNU Babat.

Lima tahun kemudian, tepatnya 2018- 2023  Biin kembali mencalonkan diri, untuk kedua kalinya, melawan H Supandi, namun apa yang terjadi mantan kepala MAN Lamongan ini, bisa mengalahkan Biin Abdussalm.

Namun karena kondisi kesehatan, mantan Kepala Kantor Kemenag Lamongan ini sedikit “ kurang” begitu maksimal dalam memimpin NU Lamongan.

Konfercab yang sebenarnya dilakukan 2023 molor terus hingga 2025. Selama dua tahun terakhir mulai 2023 hingga 2025,  sering dilakukan careteker. Imbasnya perjalanan organisasi tak maksimal.

Dan Alhamdulillah pertengahan 2025 bisa diselenggarakan Konfercab. Dan terpilihlah Gus Sahrul menjadi Ketua Tanfizd PCNU Lamongan yang baru dan telah dilantik.

Peristiwa ini sengaja diulas kembali oleh penulis, untuk  dijadikan pelajaran yang sangat berharga, agar jangan sampai terjadi lagi, adanya bongkar pasang kepengurusan PCNU di tengah jalan.  Yang mengakibatkan kebingunan di arus bawah.

Selain itu,  tantangan NU ke depan jauh tambah berat. Dibanding sekarang. Meski demikian, kami yakin dan percaya, dibawa kepemimpinan Gus Sahrul PCNU Lamongan akan tambah maju.

Hanya saja kami, kader NU kultural yang ada dilapisan ranting, sedikit  berpesan kepada kepengurusan PCNU yang baru agar menjalankan keputusan Muktamar Situbondo 1984. Yang memutuskan NU kembali ke Khittoh. Artinya, NU tidak akan berafiliansi dengan partai politik.

Yang kedua, merangkul seluruh potensi warga NU,  khususnya, dan anak bangsa pada umumnya, tanpa membedakan.  Disadari atau tidak, banyak kader NU yang tercecer.

Ke tiga, turun ke bawah melakukan penataa struktural di tingkat ranting sampai dengan kepengurusan MWCNU,  dan yang tak kalah pentingnya mampuh menempatkan mereka pada tempat.

Ke empat melakukan pendataan di dunia pendidikan milik NU, baik formal ataupun  nonformal. Karena di lapangan, banyak yang belun  tersentuh, jangan sampai peristiwa ambruknya ponpes di Sidoarjo terjadi di Lamongan.

Kelima,  mampu merambah ke dunia kesehatan. Karena disadari atau tidak kita lemah di bidang ini.

Intinya kepengurusan PCNU yang sekarang ini, harus mampu hadir ditengah tengah masyarakat, menjawab kebutuhan warga, sekaligus bisa memberikan solusi di berbagai bidang.  Bukan malah sebaliknya.

Sekali lagi, sedikit saran dan masukkan ini, semata mata kecintaan penulis terhadap NU Lamongan. Sekali lagi kami yakin dan percaya di bawa kepemimpinan Gus Sahrul, PCNU Lamongan makin moncer. Terakhir, selamat atas dilantiknya menjadi ketua PCNU Lamongan. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

OPINI: Beban Berat NU Pasca-Muktamar

OPINI: Beban Berat NU Pasca-Muktamar

Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) 2026-2031 sudah diumumkan. Jumlah personelnya 210 orang. Periode lima tahun sebelum ini, 2021-2026, hanya 189 orang.

Nahdlatul Ulama, Pesantren, dan Intelektual Masa Depan

Nahdlatul Ulama, Pesantren, dan Intelektual Masa Depan

KIAI Haji (KH) Wahab Chasbullah begitu kerasan saat singgah di Padangan, Bojonegoro. Era 1930, kiai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu kerap mampir di Padangan. Kawasan dekat Bengawan.

HSN 2026: Merawat Tradisi Santri Cinta NKRI

HSN 2026: Merawat Tradisi Santri Cinta NKRI

Pada momentum Hari Santri Nasional (HSN) 2026 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bojonegoro menggelar berbagai rangkaian kegiatan. Termasuk apel HSN yang digelar di Alun-alun Bojonegoro dan Kantor PCNU.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer