Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Opini: Tantangan NU Bojonegoro di Era Post Truth

Y
Penulis: Yuan Edo Ramadhana❯
Fauzan Fuadi, Ketua DPC PKB Bojonegoro (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
Fauzan Fuadi, Ketua DPC PKB Bojonegoro (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
FAUZAN FUADI
Ketua DPC PKB Bojonegoro, Anggota DPRD Jatim Dapil Bojonegoro Tuban

 


Advertisement

NU Bojonegoro punya gawe seremonial cukup besar. Ya, apalagi kalau bukan Pelantikan Serentak pada tanggal 03 Agustus 2025 ini. Kepengurusan di level kabupaten mulai dari Syuriyah dan Tanfidiyah PCNU, PC Ansor, PC Fatayat, hingga PC IPNU dan IPPNU akan mengikuti semacam pengukuhan kepengurusan secara bersama-sama.

Informasinya, Ketua Umum dan Sekjend PBNU dijadwalkan hadir langsung. Bahkan sejumlah pejabat kementerian kabarnya juga akan hadir ke bumi malawapati.

Namun dibalik gemerlap dan kemeriahan seremonial dimaksud, tersirat berbagai pertanyaan, diantaranya menyangkut bagaimana kedepan para petinggi NU dan badan-badan otonomnya ini mampu mengelola sumberdaya yang dimiliki guna menghadapi tantangan zaman di masa ini?

Kebenaran Baru

Sesuai dengan cita-cita ideologisnya, NU tentu concern terhadap tugas-tugas menegakkan syiar Islam ala Ahlussunnah Waljama’ah yang implementasinya bisa merambah pelbagai bidang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai ormas, NU dikenal mempunyai kiprah di dunia kesehatan, pendidikan, keagamaan dan tentu saja sosial budaya. Kiprah-kiprah tersebut, hari ini mendapat tantangan serius seiring perkembangan teknologi informasi komunikasi yang semakin canggih.

Advertisement

Ambil contoh. Tiba-tiba beranda salah satu akun di platform sosial media yang saya punya, melintas sebuah video yang saya yakini 100 persen content tersebut hoaks. Digambarkan disitu kapal megah melaju gagah dibawah Jembatan Sosrodilogo dan tampak ratusan penumpang berteriak-teriak histeris bahagia.

Secara teknis, content tersebut tidak tampak seperti hoaks. Visualisasi yang begitu riil dan apik. Tapi secara faktual, kita semua tahu kapal itu tidak pernah melintas. Mungkin dampak negatif dari contoh yang saya sebut diatas bahkan sama sekali tidak ada, alih-alih malah seperti sebuah kreatifitas yang patut kita banggakan. Akan tetapi, point utama yang ingin saya tekankan pada contoh tersebut bukan pada dampak melainkan kekhawatiran akan fakta kebenaran baru yang tersaji dalam kenyataan objektif yang bertolak belakang dengan kenyataan berulang-ulang yang disuguhkan kepada kita secara virtual.

Advertisement

Ya, inilah yang disebut dengan the illusory truth effect. Kebohongan yang disebarkan berulang-ulang, lambat laun ia akan dipercaya menjadi kebenaran. Mungkin kalau content-nya tidak terlalu berbahaya tidak terlalu merisaukan bagi kita. Tapi bagaimana kalau content yang tersebar berantai itu content yang berbahaya?

Era post truth tidak lagi menekankan kebenaran yang sesungguhnya, apakah itu sesuai dengan norma hidup bernegara, bermasyarakat, bahkan oleh kaidah agama sekalipun. Ia menerobos sekat-sekat apapun, dan berlindung dibalik rezim algoritma yang agamanya telah berganti menjadi kebutuhan untuk viral dan lalu monetisasi.

Maka jangan kaget, bila belakangan ini kita sering menjumpai FYP di akun kita content-content yang asal bisa viral maka posting saja langsung, soal resiko pikir nanti. Ada content seorang influencer makan daging babi sambil baca bismillah. Barusan ada juga content creator mempromosikan minuman keras di Kota Malang dengan caption yang provokatif dan jauh dari edukasi. Meskipun akhirnya content- content tersebut ditindak oleh penegak hukum, bukan berarti ancaman peristiwa sejenis tidak akan lagi terjadi.

Peran NU

Dari elaborasi diatas, maka dalam konteks inilah dituntut peran strategis NU berkolaborasi dengan negara untuk melakukan edukasi secara terus menerus. Setidaknya pada level daerah, PCNU Bojonegoro bisa memulai mengorkestrasi sumberdaya yang dimiliki untuk ambil bagian dalam menghadapi tantangan era post truth ini dengan aksiaksi konkret. Secara umum, NU Bojonegoro mempunyai banyak prospek untuk memainkan tugas ini di barisan paling depan.

Ditinjau dari aspek sosiologis, warga NU di Bojonegoro pastinya adalah mayoritas. Dari 28 kecamatan yang ada, hampir semuanya telah berdiri kantor-kantor MWC NU yang secara tidak langsung menandakan aktifitas keorganisasian dan keummatan yang berjalan dengan baik. Kantor PCNU bahkan berdiri diatas lahan yang sangat luas, disamping Rusunawa NU dan kampus kebanggaan bersama yakni Unugiri.

Di bidang pengembangan ekonomi dan bisnis, bahkan MWC NU Ngasem sukses membuat BMT NU yang hari ini namanya telah dikenal dimana-mana karena berbagai core bisnis yang sudah dirintisnya.

Selain aset-aset potensial diatas, tentunya masih terdapat aset lainnya yang membanggakan, baik yang perlu dilakukan revitalisasi atau bahkan yang sudah eksis berkiprah. Sebut saja di bidang pendidikan formal dalam naungan Ma’arif hingga di bidang kesehatan.

Dalam dunia dakwah, meskipun tidak secara langsung menjadi representasi struktural NU, keberadaan mubaligh-muballigh asal Bojonegoro juga membuat kota ini layak berbangga. Ketika dakwah dengan pemanfaatan media digital belum seramai saat ini, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilunnajah Simo Kanor Bojonegoro telah merajai kanal Youtube, dan bahkan masih sangat eksis hingga saat ini ketika teknologi kecerdasan buatan (artifisial intelegent) telah mengambil-alih sebagian besar tugas manusia. Belakangan, mulai viral juga KH. Safarun (Lek Run) asal Megaleh Kedungadem dengan gaya ceramahnya yang khas.

Pondok pesantren besar dengan jumlah santri ribuan juga terdapat di kabupaten dengan APBD tertinggi kedua di Jawa Timur setelah Surabaya ini. Pondok Pesantren Attanwir Talun Sumberejo, Pondok Pesantren Abu Dzarrin, Pondok Pesantren Nurul Falah Sumbertlaseh Dander dan lain-lain.

Berbagai potensi yang saya deskripsikan diatas, alangkah dahsyatnya ketika diorkestrasi menjadi sebuah gerakan kolektif yang saling mendukung potensi satu sama lain. Kolaborasi antar stakeholder yang mengelola aneka potensi yang ada itu,bukan tidak mungkin sekali melangkah akan menghasilkan banyak produktifitas sekaligus. Ibarat dalam satu tarikan nafas, banyak hal bisa dikerjakan langsung.

Menyelesaikan tantangan di era digitalisasi adalah awal langkah untuk menghadapi tantangan-tantangan lain yang muncul sebagai konsekuensi dari zaman yang terus berubah. Kunci lainnya tentu solid dan kompak. Momentum pelantikan bersama kali ini semoga tidak saja menjadi ajang pengukuhan kepengurusan, tetapi juga bisa mengakrabkan satu sama lain sesuai dengan perannya masing-masing untukbersama-sama memajukan NU Bojonegoro. Selamat Sang Dirijen, Dokter Kholid Ubed. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

OPINI: Beban Berat NU Pasca-Muktamar

OPINI: Beban Berat NU Pasca-Muktamar

Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) 2026-2031 sudah diumumkan. Jumlah personelnya 210 orang. Periode lima tahun sebelum ini, 2021-2026, hanya 189 orang.

Nahdlatul Ulama, Pesantren, dan Intelektual Masa Depan

Nahdlatul Ulama, Pesantren, dan Intelektual Masa Depan

KIAI Haji (KH) Wahab Chasbullah begitu kerasan saat singgah di Padangan, Bojonegoro. Era 1930, kiai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu kerap mampir di Padangan. Kawasan dekat Bengawan.

Struktur Pengurus DPC PKB Belum Terbentuk, Beralasan Menunggu Keputusan DPP

Struktur Pengurus DPC PKB Belum Terbentuk, Beralasan Menunggu Keputusan DPP

Susunan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bojonegoro belum final. Masih proses hingga bulan depan.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer