Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

BMKG Ramal Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal dan Berpotensi Muncul Fenomena El Nino

Bhagas Dani Purwoko • Kamis, 5 Maret 2026 | 15:24 WIB

 

EL NINO: Tahun ini berpotensi terjadi fenomena El Nino menurut prediksi BMKG.
EL NINO: Tahun ini berpotensi terjadi fenomena El Nino menurut prediksi BMKG.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sepertinya kita harus segera berpamitan dengan hujan yang sering mampir belakangan ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja meniup peluit peringatan: Musim kemarau 2026 diprediksi bakal "curi start" alias datang lebih awal dibandingkan rata-rata biasanya. Tak hanya datang lebih cepat, kemarau tahun ini diproyeksikan akan terasa lebih menyengat dan bertahan lebih lama.

Lonceng peringatan ini dibunyikan langsung oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Konferensi Pers di Jakarta, Rabu (4/3/2026). Apa yang sebenarnya terjadi pada langit kita?

Biang Kerok: Perpisahan dengan La Niña

Fenomena La Niña Lemah yang memberikan kita banyak bonus hujan resmi berakhir pada Februari 2026. Saat ini, kondisi atmosfer sedang berada di fase Netral. Namun, jangan senang dulu. Data indeks ENSO menunjukkan angka -0,28 dan diprediksi akan terus merangkak naik.

Baca Juga: Intensitas Hujan Tak Menentu di Lamongan Dipengaruhi Peralihan dari El Nino ke La Nina

"Mulai semester kedua tahun ini, terdapat peluang sebesar 50-60% munculnya fenomena El Niño kategori Lemah-Moderat," ujar Faisal. Pergeseran ini ibarat memutar tuas pemanas pada suhu global kita.

Jadwal "Main" Kemarau: Siapa yang Kena Duluan?

Penanda utama kemarau adalah beralihnya Monsun Asia (Angin Baratan) menjadi Monsun Australia (Angin Timuran). Berdasarkan pemetaan BMKG terhadap Zona Musim (ZOM), berikut adalah jadwal "invasi" udara kering di Indonesia:

Data yang paling mencolok adalah sebanyak 46,5% wilayah Indonesia (325 ZOM) diprediksi mengalami awal kemarau yang MAJU atau lebih cepat dari kalender biasanya.

Puncak "Terik" di Bulan Agustus

Jika Anda merasa April sudah mulai panas, tunggu sampai Agustus 2026. BMKG memproyeksikan bulan ini sebagai puncak penderitaan bagi 429 ZOM (61,4% wilayah Indonesia).

Wilayah yang akan merasakan "panggangan" matahari paling maksimal di bulan Agustus meliputi Sumatra tengah-selatan, seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi.

Secara umum, kemarau tahun ini bersifat Bawah Normal alias lebih kering dari biasanya di 64,5% wilayah Indonesia. Hanya segelintir tempat di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang diprediksi tetap mendapatkan curah hujan normal atau lebih.

Baca Juga: BPBD Bojonegoro Peringatkan Potensi Hujan Ringan pada Malam Pergantian Tahun Disertai Petir dan Angin Kencang

Survival Kit 2026: Early Warning to Early Action

BMKG menegaskan bahwa informasi ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai dasar Early Action. Berikut langkah strategis yang harus segera dilakukan:

  1. Sektor Pertanian: Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam. Pilihlah varietas tanaman yang "tahan banting" terhadap kekeringan, hemat air, dan memiliki siklus panen singkat.

  2. Manajemen Air: Revitalisasi waduk dan perbaikan pipa distribusi harus digenjot sekarang juga sebelum debit air menyusut. Ini krusial untuk air domestik maupun operasional PLTA.

  3. Waspada Karhutla: Pemerintah daerah di wilayah rawan seperti Sumatra dan Kalimantan wajib siaga satu terhadap potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta penurunan kualitas udara.

Bagi Anda yang ingin memantau kondisi cuaca secara real-time di wilayah masing-masing, pastikan untuk selalu mengecek aplikasi Info BMKG atau portal resmi bmkg.go.id. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#cuaca #terik #curah hujan #panas #la nina #Musim Kemarau #el nino #Musim Hujan #BMG #klimatologi