Gagal berprestasi di cabang olahraga (cabor), M. Firman Afianto,19, memilih pindah ke cabor wushu dan kickboxing. Ternyata membawanya sukses hingga meraih juara tingkat provinsi.
DENGAN bangga M. Firman Afianto mengungkapkan kebanggaanya atas prestasinya meraih juara 1 Kejuaran Kickboxing Indonesia Jawa Timur kelas Kick Leek 61 Kg putra tahun ini. Sedangkan tahun lalu (2020) meraih juara 2 Kejurprov di Jember. ‘’Saya baru sekitar satu tahun berlatih kickboxing, tepatnya pada 2019, dan alhamdulillah bisa meraih juara,’’ ungkapnya.
Menariknya, kemampuan dasarnya sebenarnya bukan kickboxing. Tetapi pencak silat. Olahraga pencak silat digeluti sejak 2017. Tepatnya sejak kelas VIII SMP. Bahkan telah mengikuti beberapa kejuaraan. Selain di Lamongan, juga di Ngawi. Tapi semuanya gagal, tak pernah meraih juara. Apalagi dia sempat mengalami cedera kaki. ‘’Karena tidak pernah berprestasi di silat, kemudian muncul pikiran saya untuk pindah cabor lain agar bisa berprestasi,’’ ungkapnya.
Kemudian dia benar-benar memutuskan pindah cabor. Yakni sama-sama cabor bela diri, wushu. ‘’Baru beberapa bulan berlatih wushu ternyata saya bisa meraih juara tiga porkab pada 2018,’’ ungkapnya pemuda Desa Bulutengger Kecamatan Sekaran itu.
Meski sudah berhasil meraih juara, dia ternyata masih belum puas. Kemudian dia tertarik menerima tawaran temannya untuk berlatih cabor bela diri kickboxing di GOR Dinas Pendidikan. ‘’Saya latihan awal kickboxing pada 2019 sampai sekarang,’’ ungkapnya.
Ternyata cabor kickboxing dianggap paling cocok. Karena baru beberapa saat berlatih sudah berhasil meraih juara hingga tingkat provinsi. ‘’Dari situlah akhirnya terus meningkatkan kualitas fisik dengan berlatih setiap hari lari untuk mengatur pernapasan hingga kini,’’ bebernya
Sebagi bentuk komitmennya menekuni olahraga tersebut, Firman mengaku disiplin berlatih mandiri, khususnya untuk memperkuat fisik. Antara lain setiap hari jogging 30 menit pagi dan sore. Karena fisik prima sangat dibutuhkan untuk bisa bertahan dalam pertandingan selama tiga ronde. Setiap ronde selama 3 menit. Beda dengan wushu, pertandingannya hanya 2 ronde saja. ‘’Istrahat juga sangat saya jaga. Pukul 21.00 WIB sudah tidur. Terutama satu minggu sebelum bertanding,’’ ungkapnya.
Selain itu setiap hari juga push up untuk menjaga power dan reflek. Sedangkan untuk teknik, sepenuhnya mengikuti instruksi pelatih.