EKONOMI – Jenis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Bojonegoro sangat banyak. Total ada 120 ribu jenis usaha berbagai jenis bidang tersebar di 28 kecamatan. Namun yang dibina Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Bojonegoro sebanyak 300-an usaha dengan jenis usaha mencapai 4 ribu jenis. Banyaknya jumlah UMKM ternyata bukan tanpa kendala. Justru, ceruk pasar dan minimnya event menjadi kendala kerap ditemui.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Bojonegoro, Elzadeba Agustina, ditemui di kantornya kemarin (30/1) menjelaskan, jumlah pelaku UMKM di Bojonegoro sangat banyak. Tidak hanya banyak, tapi juga berbagai jenis usaha. Hanya, di 2018 ini banyak tantangan dihadapi. Diantaranya ceruk pasar. Dia mengakui, dengan kualitas produk yang sangat bagus, pelaku UMKM di Bojonegoro kerap terkendala masalah pemasaran.
“Masalah kualitas produksi sudah sangat bagus, hanya ceruk pasar yang sulit dicari,” kata mantan Kepala DLH tersebut.
Dia menerangkan, media penjualan berupa pasar bagi para pelaku UMKM di Bojonegoro sangat sulit didapat. Sebab, masih mengandalkan event-event luar daerah. Alasannya, hingga saat ini Bojonegoro belum memiliki agenda event pameran UMKM dengan jadwal tetap. Akibatya, berbagai macam hasil karya kurang dikenal.
Padahal, kata dia, UMKM berbasis produksi dan setiap karya harus bisa dibeli untuk bisa mengembalikan modal. Nah, jika potensi penjualan tertutup karena tidak adanya pameran dan minimnya event tentu juga menjadi masalah. Menurut dia, masalah utama dari pengembangan UMKM justru pada masalah pasar.
Disinggung terkait ketidakadaan agenda pameran, Elza mengatakan, sejauh ini memang kendalanya ada di anggaran. Dia mengaku, anggaran Dinas Koperasi dan Usaha Mikro memang sangat kecil. Pada 2017 lalu misalnya, Dinkop benar-benar tidak ada anggaran APBD sehingga event dan pameran pun tidak terlaksana.
Tahun ini, dari total anggaran Dinkop UM sebesar Rp 1,3 miliar, alokasi khusus UMKM-nya hanya sebesar Rp 250 juta. Anggaran tersebut difokuskan untuk melakukan pelatihan-pelatihan UMKM. Sebab, dengan anggaran terbatas, menurut dia sangat sulit menggelar pameran dan event.
Dia menambahkan, tantangan UMKM saat ini hanya satu. Yakni kemampuan untuk mempertahankan eksistensi. Banyak UMKM gulung tikar karena sulit mencari pasar. Karena eksistensi bisa dipertahankan dengan mengikuti pameran, pihaknya kerap membangun jaringan komunikasi dengan berbagai daerah agar tetap bisa mengikuti pameran.
“Tantangan 2018 ini adalah bagaimana bisa tetap eksis. Sebab, menjaga eksistensi hanya bisa dilakukan dengan membuka peluang pasar konsumen,” pungkas dia.
Editor : Ebiet A. Mubarok