Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Blora Bidik Lumbung Pangan Nasional

R
Penulis: Rahul Oscarra Duta❯
SEKTOR ANDALAN: Bupati Arief saat meninjau panen padi di dua lokasi sekaligus minggu ini.(IST./RDR.BJN)
SEKTOR ANDALAN: Bupati Arief saat meninjau panen padi di dua lokasi sekaligus minggu ini.(IST./RDR.BJN)

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Musim kemarau bukan alasan bagi petani Blora untuk berhenti berproduksi. Panen padi di dua desa pada Selasa (3/11) menjadi bukti potensi pertanian daerah masih bisa diandalkan. Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar menghasilkan gabah, melainkan memastikan petani mendapat nilai ekonomi lebih tinggi.

Bupati Blora Arief Rohman menghadiri panen padi organik di Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, serta panen raya di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan. Dua lokasi tersebut menunjukkan pengembangan pertanian melalui pendampingan dan penerapan teknologi.

Advertisement

”Blora memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu lumbung pangan nasional. Potensi ini harus terus kita kembangkan,” ujarnya.

Di Gondel, sebanyak 108 petani mengembangkan padi organik di lahan seluas 6,6 hektare melalui pembinaan Trubus dan Exxon. Beras hasil panen telah memiliki merek Bestiw. Arief menilai, pertanian organik bisa menjadi jalan meningkatkan pendapatan petani, asalkan didukung pasar yang jelas.

''Kalau beras biasa sekitar Rp 13 ribu per kilogram, harapannya beras organik ini bisa dipasarkan minimal Rp 20 ribu. Ada nilai tambah bagi petani,” katanya.

Advertisement

Namun, nilai jual premium tersebut perlu ditopang kualitas dan pengolahan. Petani masih membutuhkan mesin penggiling, oven, hingga vakum.

”Kualitas, cita rasa, kepulenan, daya tahan, dan kemasan harus kita perhatikan agar konsumen percaya,” katanya.

Sementara di Sumber, panen raya memanfaatkan pupuk pembenah tanah Gemburin dari PT Chemstar Agro Indonesia. Arief meminta hasil demplot tidak berhenti sebagai percontohan. ”Perlu kajian lebih lanjut untuk mengukur peningkatan produksi, kualitas tanah, dan efisiensi biaya usaha tani,” ujarnya.

Dia meminta DP4 dan penyuluh pertanian mendampingi petani mempelajari teknologi tersebut. ”Kami berharap kerja sama ini berkelanjutan, sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” ucap Arief.

Pendampingan juga menyasar kelompok perempuan. Unsiatun Noor, perwakilan petani perempuan Gondel, menyebut peserta telah belajar menanam sayuran organik hingga membuat mikroorganisme lokal (MOL) berbahan nasi.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Harga Tembakau Rajang Kering di Bojonegoro Merangkak Naik

Harga Tembakau Rajang Kering di Bojonegoro Merangkak Naik

"Harga sekarang Rp 44 ribu per kg untuk rajang kering. Ini sudah unduhan kelima. Rata-rata di sini Rp 45 ribu per kg," kata Sahdan, petani tembakau asal Desa Genjor, Kecamatan Sugihwaras, Kamis (27/8).

Harga Tembakau di Bojonegoro Merangkak Naik

Harga Tembakau di Bojonegoro Merangkak Naik

PANEN tembakau mulai dirasakan sejumlah petani di beberapa wilayah.

Panen Perdana Daun Tembakau Rp 2.000 Per Lembar, Harga Rajangan Rp 40 Ribu Per Kilogram   

Panen Perdana Daun Tembakau Rp 2.000 Per Lembar, Harga Rajangan Rp 40 Ribu Per Kilogram  

Petani tembakau di Kecamatan Kedungadem, Sugihwaras, Sumberrejo, dan Kepohbaru mulai panen. Panen raya diprediksi akhir bulan ini.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer