RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Jukut, yang kerap kita temui di warung lalapan, sering dianggap sekadar sayuran pelengkap.
Padahal, di balik kesegarannya, terdapat sejarah panjang dan kontroversi cara penyajiannya. Salah satunya adalah kebiasaan menggoreng jukut, seperti kol goreng,
Selada air dan lain-lain, yang disebut-sebut dapat menimbulkan risiko kesehatan. Di indonesia, khususnya di daerah Jawa Barat (Sunda) dan Bali, istilah “jukut” baru-baru ini sering dibicarakan dan dicari-cari di dunia kuliner sambelan atau lalapan.
Namun, banyak orang mengira bahwa jukut adalah satu jenis sayuran tertentu. Faktanya, jukut merupakan sebutan umum untuk berbagai jenis sayuran atau tumbuhan hijau yang bisa dimakan sebagai pendamping makanan utama.
Dalam bahasa Sunda dan Bali, kata “jukut” berarti sayur. Beberapa contoh jukut yang sering disajikan di warung lalapan antara lain adalah kol (kubis), daun kemangi, kenikir, pahpohan, hingga selada air.
Selada air (Nasturtium officinale) memang termasuk salah satu jenis jukut yang populer karna rasanya yang segar dan kandungan vitamin C, K, serta kalsium yang tinggi, tetapi tidak semua jukut adalah selada air.
Tradisi menyajikan jukut dalam bentuk lalapan sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian khas kuliner Nusantara.
Baca Juga: Keragaman Kerupuk di Indonesia, Warisan Kuliner yang Tak Lekang oleh Zaman
Lalapan biasanya berfungsi sebagai pelengkap yang memberikan kesegaran, tekstur renyah, dan asupan serat pada hidangan seperti ayam goreng, ikan bakar, atau pecel lele.
Seiring berkembangnya waktu, sebagian jukut tidak hanya disajikan mentah atau direbus, tetapi juga digoreng dengan cepat dalam minyak panas, contohnya selada air goreng yang sekarang banyak diminati karna rasanya yang gurih dan teksturnya renyah.
Namun, kekhawatiran muncul mengenai bahaya konsumsi jukut yang digoreng. Proses penggorengan pada suhu tinggi dapat memicu terbentuknya senyawa akrilamida, yaitu zat yang muncul akibat reaksi antara asam amino dan gula pada suhu tinggi.
Senyawa ini diduga dapat meningkatkan risiko kanker apabila dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang.
Selain itu, menggoreng sayuran juga dapat mengurangi kandungan vitamin dan serat yang bermanfaat bagi tubuh.
Risiko kesehatan semakin besar apabila minyak jelantah atau telah dipakai berulang kali karena dapat memicu pembentukan radikal bebas.
Meski begitu, bukan berarti mengonsumsi jukut goreng harus dihindari sepenuhnya. Jika dikonsumsi sesekali dalam jumlah wajar, dan menggunakan minyak goreng yang bersih, jukut goreng masih aman untuk dinikmati. (nfs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko