LAMONGAN, Radar Lamongan - Cuaca terik matahari mengiringi perjalanan wartawan koran ini menuju ke Perumahan Witara perbatasan antara Desa Tanjung dan Desa Baturono, Kecamatan Lamongan, kemarin siang (16/9). Hal itu terbayarkan dengan pemandangan bunga bugenvil di halaman rumah Zulia Rohma.
Tanaman yang populer dinamakan bunga kertas tersebut banyak bermekeran, yang menghiasi sekitar rumahnya.
Selanjutnya, Zulia Rohma mengajak ke lantai atas rumahnya. Pada area berukuran 6 meter x 6 meter tersebut dipenuhi bunga bugenvil bermekaran dengan beragam warna yakni ungu, putih, merah, pink, dan kuning. Sehingga menciptakan suasana tenang, ketika digunakan berkumpul bersama keluarga.
‘’Alasan saya suka bugenvil, bunganya paling cantik, saat musim kemarau tambah bagus, tidak banyak butuh siraman (disiram air, Red). Jadi tambah panas, tambah bagus bunganya,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (16/9).
Berbeda dengan tanaman hias lainnya yang butuh perawatan ektra saat musim kemarau, bunga bugenvil malah bagus saat musim kemarau.
‘’Kalau musim hujan bugenvil daunnya tumbuh subur dan bagus dilihat, dinikmati daunnya saat musim hujan, kalau kemarau bunganya yang bagus, karena kalau musim hujan bunganya jarang tumbuh maksimal,’’ ujarnya.
Zulia mengatakan, menanam bunga bugenvil sejak rumahnya dibangun enam tahun lalu. Awalnya banyak yang mengira bunga bugenvil tersebut dijual. Melihat peluang tersebut, Zulia mencoba memasarkan bunga bugenvil miliknya.
‘’Merawat bersama suami. Sebelum suami berangkat ke kantor menyirami bunga dulu,’’ ujar perempuan berusia 55 tahun ini.
Zulia kini memiliki ratusan bunga boegenville di rumahnya dati tiga jenis. Meliputi bugenvil varigata, bugenvil Singapore, dan bugenvil lokal.
‘’Jenis bugenvil Singapore bunganya agak mennumpuk dan panjang,’’ ucap ibu dua anak ini.
Satu jenis bunga bougenville milik Zulia paling banyak ada enam macam bunga. ‘’Paling banyak satu tanaman enam bunga berwarna merah, putih, kuning, orange, pink, dan ungu,’’ katanya.
Untuk memperbanyak bunga, biasanya Zulia melakukan stek saat musim hujan. Sebab lebih subur dan cepat subur. Jadi dia memotong batangnya, kemudian dicangkok dan ditaruh miring.
‘’Kalau tegak atasnya kering, kalau miring menaruhnya, ketika sudah ada trubusan (kuncup tanaman, Red) dibalik dan ditanam di polybag,’’ imbuhnya.
Untuk harga bunga bugenvil cukup bervariasi. Lokalan yang biasa mulai Rp 50 ribu hingga 80 ribu per tanaman. Bahkan, terdapat juga satu tanaman dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per tanaman. Menurut dia, semakin mahal bunga ini, dinilai dari bentuknya.
‘’Lebih pendek, lebih mahal. Untuk warna juga berpengaruh, tapi tidak seberapa, jadi kecil seperti bonsai, sekitar 80 cm tingginya’’ ujarnya.
Untuk perawatan seperti pada umumnya, yakni dipotongi dan dibentuk sesuai keinginan. Untuk penyiraman dilakukan dua hari sekali.
‘’Untuk media cukup organik, sekam, dan pupuk kandang dengan sedikit tanah,’’ pungkasnya. (sip/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana