Oleh:
Choirul Anam
Perangkat Desa Margomulyo Balen, Ketua PAC Ansor Balen
Di sebuah pagi berembun di Bojonegoro, Sastro berdiri di depan warung kopi kecil milik Mbok Nem. Bau tembakau dari tangan orang-orang yang baru datang naik perlahan, seperti asap dari ingatan masa lalu. Padahal, papan besar bertuliskan “Kawasan Tanpa Rokok—PERDA KTR” terpampang lebar di samping warung. Tapi siapa yang berani menegur? Bahkan Mbok Nem sendiri hanya nyengir, “Perda-perda kui, Le… kadang mung dadi tulisan.”
Sastro tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena kenyataan dari desanya sudah lama melampaui drama televisi. Ia baru pulang dari rapat kelurahan tempatnya bekerja sebagai pendamping sosial. Rapat yang—seperti biasanya—lebih banyak membahas kendala daripada kemajuan. Mulai dari serapan APBD yang rendah, laporan BKKD yang belum rapi, sampai program-program besar yang jalan pelan seperti sapi sepuh. Tapi subuh itu, ia datang bukan untuk mengeluh. Ia sudah berjanji kepada dirinya untuk menuliskan cerita panjang tentang perubahan kecil di kotanya—perubahan yang mungkin tak masuk berita, tapi terasa nyata di hati warga.
“Pak Sastro, kok mlungker ndelok HP wae?” suara lembut datang dari belakang.
Rupanya Mbak Wiji, kader Posyandu yang paling cekatan di desa. Perempuan itu baru saja mengantar beberapa ibu muda ke Puskesmas. “Alaa, aku nunggu laporan stunting terbaru, Mbak,” jawabnya. “Syukurlah, tahun iki angka stunting nduk kelurahan kita turun tiba-tiba. Rasane kaya menang undian.”
Mbak Wiji tertawa, “Iyo, Le. Soale saiki ibu-ibu pada ngerti pentingé gizi. Program Gayatri kuwi lumayan nulungi. Ayam petelur sing dibagi menyang keluarga rawan pangan, akhirnya dadi protein tambahan. Siji rong butir saben dina wis ndongkrak kesehatan bocah.”
Ah, Program Gayatri Budi Daya Ayam Petelur—itu salah satu cerita yang membuat Sastro betah mengabdi. Para ibu rumah tangga yang dulunya bergantung pada suami kini bisa menjual telur sendiri, atau minimal konsumsi harian anak bisa terjamin. Bukan program mewah, tapi terasa nyata. “Nek Bojonegoro pengin maju,” pikir Sastro, “ya kudu dimulai saka dapor-dapor cilik iki.”
Siangnya, Sastro berjalan menuju Kantor Kecamatan. Ada pelatihan ekonomi keluarga. Namun sebelum masuk ruangan, ia melihat Rini, perempuan muda yang duduk sambil menggendong bayinya. Mata perempuan itu sembab.
“Lho, kok nangis, Nduk?” tanya Sastro hati-hati.
Rini mengusap wajah, “Pak… aku arep ngurus berkas cerai.”
Sastro tertegun. Ia bukan orang baru dalam urusan semacam ini—angka perceraian di Bojonegoro memang tinggi, bahkan seperti deret angka yang enggan turun. Penyebabnya macam-macam: tekanan ekonomi, suami yang pergi tak kembali, sampai judol—judi online—yang merusak rumah tangga seperti rayap memakan kayu jati.
“Suwargo ora iso dipaksakné, Pak,” lanjut Rini lirih. “Mbois tenan saiki wong lanangku. Kerja sakedhik, main HP saklawase. Duit gaji entek sadurunge tekan dapor.”
Sastro menarik bangku dan duduk di sampingnya. “Aku ngerti angelmu. Tapi nek iso, sampeyan pikir maneh. Anake isih kecil.”
Rini menggeleng pelan. “Dadi ibu tunggal luwih gampang, Pak, tinimbang ngrasakke ngenteni wong sing ora bali-bali.”
Sastro terdiam lama. Ia ingin menasihati, tapi ia tahu setiap rumah tangga adalah medan perang yang tak bisa dilihat dari luar. Ia hanya bisa mendoakan diam-diam, semoga Bojonegoro suatu hari bisa menjadi tempat yang aman bagi keluarga—bukan medan penuh tekanan yang membuat cinta kalah oleh ekonomi.
Malamnya, Sastro pulang lebih lambat dari biasanya. Ia melewati jembatan Kaliketek, tempat lampu-lampu kuning menggantung seperti kunang-kunang dalam perayaan sunyi. Di kejauhan, kelap-kelip kota terlihat tenang. “Duh, Bojonegoro iki pancen unik,” gumamnya.
Wilayah yang kaya sumur minyak tapi miskin harapan. Yang punya bengawan besar tapi sering kekurangan air. Yang APBD-nya mungkin gemuk, tapi realisasinya kurus. Namun, di balik semua itu, Sastro percaya masih ada harapan kecil yang tumbuh.
Ketika sampai rumah, ia disambut suara keponakannya, Bagas, yang kini duduk di bangku SMA. “Paman… aku nulis cerpen soal kotaku. Bolehkah aku baca sebentar?”
Sastro mengangguk. Bagas duduk di lantai, membuka buku catatannya, lalu membaca dengan suara pelan:
“Bojonegoro adalah ibu yang selalu berusaha meski tak pernah sempurna. Ia punya anak-anak yang keras kepala, pejabat yang kadang abai, dan warga yang sering tak sabaran. Tapi ia tetap menanak perubahan dengan bara kecil yang setia. Ada Posyandu yang tak pernah libur, ada peternak ayam baru berkat Program Gayatri, dan ada kampanye Kawasan Tanpa Rokok yang walaupun dicibir, tetap berjalan. Di sini, orang-orang miskin masih banyak, tapi semangat mereka jauh lebih banyak lagi.”
Sastro terkejut. Ia memandang Bagas, “Kowe nulis apik tenan, Le.”
Bagas tersenyum, “Aku pingin wong-wong ngerti nek Bojonegoro ki ora mung soal angka-angka. Nanging soal manusia.”
Kalimat itu menusuk sekaligus menghangatkan dada Sastro.
Kesokan harinya, Sastro menemani tim desa berkunjung ke sebuah dusun terpencil di pinggiran hutan jati. Mereka hendak mengecek perkembangan program budidaya ayam. Di rumah pertama, ia bertemu Marto, petani tua yang semula skeptis ikut program tapi akhirnya jadi salah satu yang paling berhasil.
“Pak Sastro, iki telurku dina iki,” kata Marto bangga, sembari menunjukkan ember kecil berisi telur cokelat. “Wingi-wingi aku penak dungakne pemerintah. Nek ora ana program iki, mungkin cucuku isih mangan tempe saben dina.”
Sastro tersenyum. Ia tahu cerita Marto bukan satu-satunya. Ada banyak keluarga yang perlahan naik dari jurang kemiskinan berkat bantuan kecil namun konsisten. Meski data menunjukkan kemiskinan di Bojonegoro masih tinggi, kenyataan di lapangan mulai menunjukkan titik terang.
Namun perjalanan itu tidak semuanya indah. Di rumah berikutnya, mereka bertemu keluarga yang justru mengalami masalah baru. Anak laki-lakinya kecanduan judol sampai menggadaikan motor. Ibunya menutupi wajah karena malu.
“Pak… aku ora ngerti carane metu saka masalah iki,” lirihnya.
Sastro memperhatikan wajah-wajah yang muram itu. “Iki dudu salah panjenengan,” katanya menenangkan. “Nang negara wae judol dadi pageblug nasional. Nanging ayo pelan-pelan tak bantu sambungke karo pendamping PKH lan satgas sosial.”
Di titik itu, Sastro sadar: kemiskinan bukan hanya tentang kekurangan uang. Tapi juga kurangnya kontrol, harapan, dan pengetahuan. Ia melihat sendiri bagaimana ketidakpastian ekonomi membuat banyak keluarga rapuh, mudah patah seperti ranting kering.
Sore menjelang maghrib, rombongan tim desa singgah di balai dusun. Ada diskusi singkat soal serapan APBD. Lagi-lagi, laporan BKKD masih menggantung, menunggu revisi. Beberapa warga mulai sambat.
“Kapan to dana rehab posyandu turun?”
“APBD kuwi mutere kok kaya lempung lengket wae.”
“Kabupaten liyane cepet, kok kene alon?”
Sastro hanya bisa tersenyum kecut. “Aku iki cuma jembatan, Rek. Tapi pelan-pelan, ayo didorong terus. Nek kabeh wong mung nggrundel, ora ono sing gerak.”
Seorang ibu nyeletuk, “Iyo, Pak. Tapi Bojonegoro ki ora kurang ide. Kurang pelaksana sing nekad wae.”
Semua tertawa getir. Humor pahit, tapi humor tetaplah penolong hati.
Malam terakhir di minggu itu, Sastro duduk di beranda rumahnya, menatap langit Bojonegoro yang cerah. Ia membuka catatan dan mulai menulis, menggambarkan kehidupan yang ia lihat dan rasakan sendiri:
“Bojonegoro bukan kota yang sempurna. Tapi ia kota yang berusaha.
Di mana setiap tetes keringat warga menjadi batu bata pembangunan.
Di mana para ibu bangun sebelum subuh agar anaknya tidak stunting.
Di mana kader kesehatan berjalan dari rumah ke rumah tanpa pamrih.
Di mana para petani jati dan ayam petelur merawat harapan kecil.
Di mana angka perceraian tinggi, tapi cinta tak pernah benar-benar mati.
Di mana kemiskinan masih ada, tapi semangat gotong royong lebih keras suaranya.”
Selesai menulis, ia menutup buku.
Angin malam meniup rambutnya pelan.
Di kejauhan, suara adzan Isya berkumandang.
“Halah, Bojonegoro…” gumamnya pelan, “kowe iki repot, tapi aku tresna.”
Dan malam itu, Sastro tersenyum sendiri—penuh lelah, tapi juga penuh harapan. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana