Hujan aksara menderas di pintu masuk gerbang sekolah. Cuaca panas yang menghantam tubuh Pijar mendadak dingin seketika. Tatkala sang Duta Baca itu menampakkan sosoknya dari balik pintu mobil Safari Literasi. Lelaki dengan perawakan tegap itu menyapa dengan senyum yang mengembang.
Dengan memakai kemeja pendek warna merah motif kotak-kotak. Langkahnya pasti menaiki tangga aula. Terdengar suara tepukan panjang menandai kehadirannya. Pijar yang dari kemarin sudah menunggu kedatangnya duduk paling depan.
Ia mendengarkan dengan saksama setiap suara yang keluar dari mulut sang Duta Baca. Beberapa menit telah berlalu. Wajahnya terlihat sembab karena air mata. Matanya menerawang jauh menembus dinding aula.
Dari ketiga bersaudara Pijarlah yang mengalami nasib mujur. Dua saudaranya di rumah tak sempat menikmati bangku sekolah karena ketiadaan biaya. Kedua orang tuanya hanyalah buruh tani. Hidup pas-pasan dengan mengandalkan upah dari juragan tanah.
Juragan Parto memang terkenal memiliki sawah puluhan hektar. Istrinya empat orang. Dua diantaranya dinikahi secara siri. Setiap hari keliling desa dengan menaiki motor Harley kesayangan. Raungan kenalpotnya menerbangkan rerumputan kering di jalan desa.
Setiap berpapasan dengan motor Harleynya, penduduk kampung lebih memilih minggir. Sebab jika tidak, maka akan mengalami masalah serius. Setiap perintah dari mulut sang juragan, tak seorang pun berani membantahnya.
Pernah kang Muin mengalami benjolan di kepalanya gara-gara menyelip sepedanya dari arah belakang. Sejak peristiwa itu, dia tidak berani mengulangi kesalahan yang sama. Maklumlah jika orang yang terlanjur kaya kadang lupa daratan.
Menganggap bahwa harta yang di milikinya itu atas hasil usahanya sendiri tanpa campur tangan tuhan. Pijar tergeragap dari lamunan panjangnya, ketika sang duta baca itu berdiri persis di samping tempat duduk paling depan.
“Membaca itu Sehat dan Menulis itu Hebat” sebuah tagline yang diusung sang duta baca siang itu. Cerita tentang mimpi dan realita kadang menjadi sebuah inspirasi bagi semua orang. Dari peristiwa kecelakan itu, ia merelakan salah satu tanganya untuk diamputasi.
Perjalanan hidup harus dilewati dengan penuh semangat. Kata emaknya kalau ingin tanganya bisa panjang syaratnya harus membaca. Sang Duta Baca menyadari hal itu dengan menjadi seorang penulis. Walaupun hanya dengan satu tangan. Dari ketekunannya membaca dan menulis, ia bisa keliling dihampir 20 negara.
Bertahan untuk hidup dan hidup untuk bertahan. Menyambung kembali tanganya yang telah putus.***
Membaca Gol A Gong suatu siang adalah membuka lembaran-lembaran kisah perjalanan yang penuh makna. Hujan aksara semakin deras mengucur di ladang-ladang otak kepala. Mengalir jernih melewati ruas-ruas perjalanan.
Pijar sang gadis pembelajar itu mulai sadar akan perintah tuhan yang termaktub dalam kitab suci. Hakikat membaca adalah mengenali diri sendiri dan orang lain. Hakikat membaca adalah kebermaknaan hidup untuk diri dan orang lain.
Menyadari tentang pentingnya membaca, gadis pembelajar itu mengurai satu demi satu buku yang telah ditulis oleh sang Maestro Baca. Satu di antaranya berjudul “I am A Survivor” yang ia lahap sebelum kunjungan Safari Literasi di sekolahnya.
Tentang kesetaraan, realitas dan imajinasi, menyusuri daerah terpencil, dan bertahan hidup di saat kehabisan bekal dalam perjalanan. Menjadi kesan tersendiri bagi Pijar untuk belajar di tengah himpitan ekonomi keluarganya.
Orang “edan” begitulah orang menyebutnya. Dengan satu tangan dapat menulis buku ke 126. Kita yang dianugrahi dua tangan yang lengkap saja kadang tidak menyadari kelebihan yang dimiliki. Menjadi pribadi yang kuat dan tangguh kadang diraih oleh orang-orang yang hidup dalam keterbatasan.
Ngobrol bareng dengan sang Duta Baca akan menjadi penggalaman yang tak terlupakan bagi Pijar. Ruang aula tak lagi menjadi pembatas antara imaji dan realita. Bapak dan emaknya di kampung akan bangga.
Manakala hidup Pijar menjadi lampu penerang dalam kegelapan. Bapak dan emaknya berharap,nama yang dipilihnya saat hari ketujuh kelahiran anaknya waktu itu. Akan menjadi kenyataan. Sejurus kemudian sang Duta Baca bertanya kepada peserta Ngobrol Bareng,
‘’Apa yang menjadi motivasi kalian membaca buku?”, tanyanya dengan susana cair. Tak lama Pijar mengangkat jari telunjuknya untuk merespon pertanyaan tersebut. Pijar menjawab dengan tegas.
‘’Supaya tangan saya panjang, Pak!,” jawabnya.
‘’Looh, tanganmu kan sudah panjang, kok masih ingin panjang,” ucap sang Maestro menimpali.
‘’Walaupun tangan saya sudah panjang, pada hakikatnya masih pendek, Pak!,” balas Pijar.
‘’Maksudnya apa ya mbak?,” melontarkan kembali pertanyaan kepada Pijar.
‘’Selama ini saya dikarunia tangan yang lengkap. Ternyata belum mampu mengfungsikan tangan itu untuk kebaikan. Saya merasa malu dengan bapak, saya merasa malu dengan emak dan bapak di rumah.” Terang Pijar.
Suasana sedih dan terharu tumpah ruah seisi ruangan. Pijar menundukkan kepalanya ke lantai. Kristal bening jatuh menetes perlahan disamping pipi kirinya. Pijar sang gadis pembelajar itu menangis sejadi-jadinya menyadari kelemahannya.
Senja mulai turun di halaman sekolah. Berjalan menaiki tangga aula. Lalu menerobos masuk lewat lubang angin yang menempel di dinding. Peserta Ngobrol Bareng dengan sang Maestro Baca itu belum beranjak.
Mereka seakan tak mau pulang. Mereka belum sepenuhnya membaca “Gol A Gong” walau hampir dua jam berjalan. Banyak persoalan literasi yang mandek di tengah jalan. Budaya baca dan tulis ini menjadi permasalahan serius yang harus dipecahkan bersama.
Kita malu jika berbicara tentang peringkat dari negara tetangga. Kita malu jika hanya persoalan perut yang masih diurusi. Jika kita berjalan di jalan protokol yang ramai bukan toko bukunya.
Tetapi warung kopi dan pernak-perniknya yang ujung-ujungnya adalah persoalan perut. ‘’Sukses itu karena membaca. Jika sukses karena uang ujung-ujungnya ditangkap KPK,” kelakar Gol A Gong sore itu.
Teka-teki tentang siapa yang menjadi pilar utama budaya baca adalah lingkungan keluarga. Pondasi terkuat untuk memperkenalkan minat baca. Guru penggerak literasi adalah keluarga. Guru teladan minat baca adalah keluarga.
Angin menyapu wajah-wajah penuh aksara, mengirimkan berita tentang kejayaan. Di kota Soto ini Pijar melangkahkan kakinya sambil membawa segebok buku di ransel tasnya yang lusuh. Kendaraan lalu-lalang diterobosnya untuk sampai di alun-alun.
Terlihat dari jauh sekumpulan anak-anak kecil yang kurang mampu menunggu kedatangannya. Wajah mereka terlihat ceria tatkala bertemu dengan kak Pijar. Dengan sibuknya mereka membuka lembar demi lembar buku yang disukainya.
Cerita tentang seorang pangeran yang sibuk mengurusi rakyatnya yang kelaparan, tentang raja-raja yang mati karena kecongkakan dan kesombonganya. Tentang sahabat kura-kura sang penolong kawan. Tentang sahabat adiwiyata yang peduli lingkungan.Tentang Gol A Gong sang petualang dunia di tengah keterbatasan fisiknya.
‘’Apa kata dunia dik, jika kita tidak membaca!,” ucap Pijar untuk menyemangati mereka agar gemar membaca.
Guratan manis terlihat di wajah anak-anak. Pertanda mereka bahagia. Walaupun hidup tidak bergelimang harta. Anak-anak adalah aset bangsa yang mestinya tidak boleh dipandang remeh. Mereka bukan sekadar “tumbal” kepentingan untuk meraup suara.
Mereka bukan “tumbal” arogansi untuk ketenaran sesaat. Mereka adalah tetes embun yang membuat damai semesta. Mereka semestinya dihargai layaknya manusia. Mereka butuh hidup dan kehidupan.
Malam semakin merayap lamban. Lampu penerang alun-alun terlihat memancarkan sinarnya. Pantulannya menerangi buku-buku yang digelar dengan alas sekadarnya. Pijar adalah salah satu sosok gadis pembelajar pejuang literasi yang tumbuh di lingkungan ekonomi kurang mampu.
Tetapi semangat dan dedikasinya kepada kawan yang tak berpumya tak perlu di ragukan lagi. Berjuang bersama menjadi pelita di sekitarnya. Bukankah sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat kepada orang lain.
Pijar membuktikan hal itu. Walaupun dia sendiri tidak paham mengapa dia dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu. Pijar telah mampu membaca Gol A Gong dalam temaram cahaya tertutup dedaunan. Suara bising kendaraan seolah-olah mengabarkan tentang keberdayaanya menjadi pejuang literasi. Pijar kalah dalam persoalan ekonomi. tetapi bukan mati aksara, kawan!***
Bumi Utara, 1 September 2023
*SUHARSONO A.Q.S
Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Lamongan