“Kita bukan lagi aksara tanpa makna, melainkan kedua doa yang tak pernah sama. Karena kita hanyalah dua atma yang tak diizinkan semesta untuk bersama.” -Alexandria A. N-
MENDUNG tampak semakin pekat. Telah tiba saatnya sinar matahari tidak tampak lagi, serasa waktu sudah malam. Lampu-lampu di pinggir jalan menyala bersama bintang. Bulan bersinar seolah menghiasi langit malam yang gelap.
Gadis berambut pendek kini menatap langit malam dengan kagum. Begitu menenangkan hatinya. Ia selalu bahagia ketika malam tiba. Selain melihat langit favoritnya, juga mendapat ketenangan tidak akan ia rasakan di pagi, siang, atau sore.
Kini gadis itu meminum soda, kesukaannya. Seraya menatap kagum langit malam dengan mata berbinar. Tidak disadarinya, sebulir air mata tiba-tiba menetes membasahi pipi chubby-nya. Sering kali ia mengalami hal seperti ini. Sudah berkali-kali menangis tanpa sebab ketika melihat sesuatu membuat hatinya tenang. Seperti halnya melihat senja, rintik hujan, serta lelaki ia cintai. Mereka semua sangat berarti bagi gadis baru beranjak remaja.
Alexandria Azzura Narumi, itulah namanya. Ia kerap kali dipanggil Alexa. Gadis bersuara sedikit cempreng menderita gangguan mental akibat kondisi keluarganya. Bisa dikatakan haus kasih sayang orang tuanya. Orang tuanya lebih mempedulikan dan memanjakan adik laki-lakinya. Tidak hanya masalah keluarga, ia juga memiliki beberapa masalah di luar, misalnya di sekolah. Ia tidak memiliki teman banyak. Tersadar akan dirinya kurang asyik dan sering mencari-cari perhatian.
Selain memiliki masalah keluarga dan teman, Alexa memiliki suatu masalah hal percintaan. Ia mencintai seorang lelaki jelas-jelas tak akan bisa ia gapai. Ia juga terobsesi pada lelaki tersebut.
Achmad Hafy Al-Mahdi. Nama dan juga dirinya memenuhi isi hati Alexa. Tidak sopan menerobos masuk ke dalam hati seseorang tanpa mengucap salam atau meminta izin kepada sang pemilik hati, Alexa. Sosok pria bersuara berat, namun terdengar lemah lembut.
Hafy seorang guru agama dan bahasa Arab di sekolah Alexa. Hafy memiliki kepribadian membuat perempuan maupun wanita mana saja kagum. Lelaki paham agama, membatasi interaksi dengan lawan jenis, taat beribadah, iman kuat, ramah, humoris, dan banyak lagi hal dimilikinya. Seakan Hafy sosok sempurna.
“Kalau Pak Hafy nikah, kira-kira aku bisa ikhlas, nggak?” Alexa selalu bertanya seperti itu, entah kepada dirinya sendiri ataupun kepada temannya.
Sungguh Alexa takut tidak bisa mengikhlaskan kepergian Hafy dengan wanita lain. Tapi ia tidak berhak melarang Hafy menikah atau mencintai wanita lain, karena ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah orang asing masuk kehidupan Hafy.
Jujur, Alexa heran dengan dirinya sendiri bisa-bisanya mencintai gurunya hingga terobsesi. Ia ingin membuang perasaan itu jauh. Tetapi, semakin ia mencobanya, semakin menjadi-jadi pula perasaannya. Seakan-akan ia tidak bisa menghilangkan perasaan yang muncul kepada gurunya itu. Ia memikirkan awal mula hatinya bisa memilih Hafy, ia tidak menemukan jawabannya.
“Pak Hafy masih hamba amatiran, terkadang masih melakukan kesalahan. Satu-satunya manusia patut kita kagumi hanya Nabi Muhammad SAW.” nasihat Hafy.
Alexa selalu merasa tertampar tapi tak tersentuh ketika mendengar kalimat diucapkan sang guru tersebut. Selain tentang Islam, makna dari setiap kata keluar dari mulut Hafy begitu dalam. Itulah dinamakan “ada makna di setiap kata”.
“Tidak ada salahnya mencintai seseorang, bukan? Kami berhak memilih pilihan kita sendiri, terpenting tidak salah pilih. Dalam Islam juga tak ada larangan mencintai seseorang.”
“Memang tidak dilarang, tetapi jika menggunakan cara seperti ini dapat menimbulkan zina, Alexa. Wa laa taqrabuzzinaa innahu kaana faahisyatan, wa saa-a sabiilaa. Dan janganlah kamu mendekati zina (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji dan suatu jalan buruk. Telah dijelaskan dalam Alquran Surah Al-Isra’ ayat 32.”
Interaksi antara Hafy dan Alexa dapat menimbulkan zina dan fitnah. Alexa selalu mengejar-ngejar Hafy, itu bisa menimbulkan zina. Hafy berusaha menghindar dari Alexa juga bisa menimbulkan fitnah. Pahamilah posisi Hafy dan Alexa sekarang. Mereka berstatus guru dan pelajar. Tak seharusnya mereka bersatu dengan usia mereka berbeda jauh.
“Pak Hafy percaya rencana terbaik untuk hamba-Nya hanya rencana Allah?” Hafy menggelengkan kepalanya. Bukan ia tak setuju, namun pernyataan Alexa kurang tepat.
Hafy tersenyum tipis, lalu berucap: “Allah tidak berencana, Alexa. Tetapi berkehendak dan menetapkan takdir seluruh makhluk ciptaan-Nya.” Alexa menunduk, merasa malu dengan apa ia tanyakan tadi.
“Alexa masih punya rasa malu?” tanya Hafy bukan berniat mengejek Alexa. Tetapi ia hanya ingin bertanya, entah untuk apa. Mungkin saja Hafy penasaran dengan salah satu kepribadiannya. Alexa hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya.
“Masya Allah... Rasulullah SAW telah bersabda: Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak, sedangkan akhlak Islam adalah rasa malu (HR. Ibnu Majah). Malu dan iman itu bergandengan bersama; bila salah satunya diangkat, maka yang lain pun terangkat (HR. Al-Hakim).” Ucap Hafy menjelaskan beberapa hadits mengenai rasa malu.
Alexa pada dasarnya tidak terlalu paham tentang agama pun mencoba mencerna kalimat Hafy dengan baik-baik. Tak butuh waktu lama ia memahaminya, karena Alexa orang mudah hafal, mudah paham, dan mudah lupa. Patut dimaklumi, ia hanya manusia biasa, tidak sesempurna Nabi ataupun malaikat.
“Ada kepentingan lain lagi? Jika tidak, maka kita akhiri sampai di sini agar tidak akan ada fitnah di antara kita berdua.”
“Saya ingin menyampaikan sesuatu. Eem, ini bukan karena diriku tak tau malu atau tak punya harga diri. Namun, saya benar-benar cinta pak Hafy, saya terobsesi selama tujuh bulan ini. Saya sudah merasa lelah menyembunyikan perasaan ini, Pak... Saya tahu, kok, kita tidak akan pernah bersama, tapi saya hanya ingin Pak Hafy tahu bahwa saya cinta Pak Hafy.” Ujar Alexa panjang kali lebar kali tinggi kali cinta author kepada crush-nya xixixi.
Hafy hanya tersenyum mendengar ucapan Alexa. Sebenarnya Hafy mengetahuinya sedari dulu. Belum lama, baru dua bulan. Dan Hafy menyadari akan keanehan terjadi pada Alexa semenjak mulai penasaran dengan kehidupannya.
Dengan mata tertuju pada Alexa menundukkan kepalanya, Hafy menasihati siswi telah ia anggap anaknya sendiri. “Saya mengetahui semuanya, Alexa. Intinya, apapun dan bagaimanapun keadaannya, Pak Hafy tetap anggap Alexa dan juga murid-murid lainnya sebagai anak, tidak lebih dari itu. Dan Alexa harus ingat, perjalanan hidup Alexa masih panjang. Ada orang tua harus dibahagiakan, cita-cita yang harus Alexa gapai. Pak Hafy yakin dan haqqul yaqin, kalau Alexa sudah sukses, semua pasti akan mendekat. Semangat bergelut dengan kehidupan.”
Langkah demi langkah, Hafy melenggang pergi meninggalkan Alexa masih saja menunduk dengan air mata mengalir deras. Sakit, sakit sekali rasanya. Inilah derita mencintai guru sendiri hingga terobsesi.
“Alexa nggak boleh lemah! Harus semangat! Pria di dunia ini bukan hanya Pak Hafy. Tapi, pria seperti itu hanya Pak Hafy...” Alexa mengusap air matanya dengan kasar.
Ia harus bangkit! Alexa dan Hafy hanya dipertemukan oleh takdir Allah, bukan dipersatukan. Ia tidak boleh menyalahkan takdir Allah sudah jelas itu kehendak-Nya terbaik. Bisa saja Allah cemburu kepada Alexa, karena Alexa terlalu mencintai ciptaan-Nya daripada penciptanya.
“Ya Allah... Kuatkan hatiku agar tidak jatuh cinta kepada seseorang terlalu dalam lagi. Seseorang belum tentu menjadi pasangan hidupku, seseorang terkadang hanya merusak keimananku. Seseorang hanya bisa membuat pandangan dan hatiku porak-poranda karena cinta. Seseorang hanya bisa membuatku lebih mencintai hamba-Nya daripada penciptanya. Seseorang membuatku labil antara cinta dan iman. Seseorang selalu mengganggu pikiran dan hatiku, bahkan seseorang membuat diriku ingin mengajak setiap hal bersama tanpa adanya ikatan halal.”
Alexa tidak menyesal mencintai Hafy begitu dalam. Ia menyesal dengan dirinya tidak bisa menguatkan iman hanya karena sebuah cinta tak pasti. Jika waktu bisa diputar kembali, ia lebih memilih cinta pada Allah daripada kepada Hafy.
“Aku menyerah, bukan tak lagi peduli ataupun tak lagi menunggu. Aku masih tetap menunggu, meski aku tahu bahwa akhirnya akan tetap sama saja.” Lelah, sungguh Alexa lelah.
Tak akan ada kata ‘akhir’ antara mereka berdua, bahkan memulainya saja belum. Bukan memulai kisahnya, tapi memulai hubungannya. Memulai hubungan? Hal bodoh itu hanya akan terjadi di dalam mimpi Alexa. Bukankah bodoh mengharapkan seseorang sudah jelas tidak mengharapkan kita kembali?
Hal harus dilakukan saat ini menjauh dari Hafy sebisanya. Jika Hafy memanglah jodohnya, Hafy akan kembali. Takdir adalah ketetapan Allah terbaik. Jadi, janganlah merasa kesal dengan hidup kalian tidak sesuai keinginan.
“Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’aha, Allah tidak membebani seseorang melain-kan sesuai dengan kesanggupannya.” ucap seorang pria bersuara lemah lembut tiba-tiba berada di belakang Alexa.
“Alexa sampai di titik ini, artinya Alexa masih sanggup sesuatu lebih berat daripada ini. Tetap ikhtiyar menghadapi cobaan dari Allah. Jika Alexa tidak sanggup lagi, bisa bertawakal. Pasrahkan semua kepada Yang Maha Kuasa.” Lanjutnya dengan me-nunjukkan senyuman manisnya dengan matanya menyipit ketika tersenyum.
Alexa tak asing dengan suara itu langsung memutar tubuhnya. Dapat ia lihat pria tadi meninggalkannya kini kembali kepadanya. “Maafkan saya telah menyakiti hatimu. Maaf juga telah membuat gadis kuat seperti dirimu menjadi rapuh.” Alexa menggeleng-geleng kepalanya. Sungguh Alexa tidak percaya dengan jalan hidupnya penuh misteri. Terkadang bahagia dan sedih. Inilah dinamakan takdir, tidak ada yang tahu selain Allah.
“Cinta antara dua insan tidak ada ikatan halal memang menyakitkan, Alexa. Jangan cintai saya belum tentu menjadi suamimu di masa depan kelak. Tak ada yang tahu takdir Allah.”
Alexa tahu itu. Sangat menyakitkan. Terkadang mencintai orang telah halal saja menyakitkan, apalagi belum halal. Banyak cobaan akan dihadapi. Jika dari awal Alexa mengetahui bahwa cinta semenyakitkan ini, ia lebih memilih hidup tanpa cinta. Jika seperti ini, bisakah mereka memulainya dari awal? Menjadi dua insan hanya saling mengenal tanpa ada ikatan cinta.
“Lebih baik kita bersikap seperti halnya guru dan murid pada umumnya. Lupakan kamu yang mencintai saya, lupakan juga saya yang menolakmu.” saran Hafy membuat Alexa menghela napasnya kasar.
“Tidak ada jatuh cinta yang sempurna jika tidak ada rasa sakit di dalamnya.”
Hafy tersenyum tipis. “Jika yang tersakiti adalah orang saya cintai, sungguh saya tidak rela, Alexa. Ahibbu tilka fataata bisababillah.”
“Kalau saya boleh tahu, siapa ‘orang’ dimaksud Pak Hafy?” Tanya Alexa penasaran. Jika Alexa belum menemukan jawaban dari rasa penasarannya, ia akan terus mencari jawaban hingga ketemu.
“Fatat ‘amami.” Jawab Hafy menggunakan bahasa Arab, sengaja supaya Alexa tak bisa mengetahuinya.
Sedangkan hati Alexa kini bergoyang dangdut. Jantungnya sedang pargoy. Canda. Jantung Alexa berdetak kencang, hatinya bahagia seperti awal-awal ia mencintai Hafy.
Kedua ujung bibir Alexa terangkat ke atas. Menampilkan sebuah senyuman manis bagi siapapun, apalagi Hafy. “Ahabbakalladzi ahbabtani lahu.” Jawab Alexa, membuat Hafy terkejut. Ia tak menyangka jika Alexa akan mengetahui perkataannya. Alexa tertawa melihat raut wajah Hafy kebingungan.
“Kamu tahu artinya, Alexa?” tanya Hafy masih tak percaya bahwa Alexa mengetahuinya.
Alexa mengangguk dengan senyumnya belum pudar. “Pak Hafy yang ajarin saya bahasa Arab sampai saya bisa. Masa lupa?” Ah, baiklah. Baru satu bulan lalu Alexa lancar berbahasa Arab.
Kini Hafy malu dengan dirinya sendiri. “Pak Hafy sudah tua, sih, makanya lupa.” Ujar Alexa mengejek Hafy, sedangkan Hafy tersenyum. Baru kali ini ia diejek tua, padahal usianya baru 25 tahun.
“Iya, bocil.” Sahut Hafy sembari tertawa kecil. kekehan itu membuat jantung Alexa tak bisa berdetak normal. Terasa ada getaran tersendiri di jantungnya ketika Hafy tertawa. Hemm, sudah biasa, sih.
“Diam, Pak. Jantung saya lagi pargoy, nih.” Hafy semakin tertawa mendengar kata-kata Alexa sangat lucu, seperti orangnya (bagi Hafy).
“Alexa, belajar rajin, ya. Banggakan orang tuamu, gapai cita-citamu, saya mohon jangan pikirkan tentang percintaan terlebih dahulu. Selesaikan pendidikan dulu, baru cita-cita. Setelah itu semua, kamu boleh mencari pasangan hidup. Ingat, jangan pacaran, jika bisa langsung nikah supaya tidak menimbulkan zina dan fitnah. Saya mau jujur, kamu perempuan satu-satunya yang bisa membuat hati saya luluh. Ana uhibbuki fillah, afwan wa syukron.”
“Ana uhibbuka fillah, afwan wa syukron lak aydhan.”
Mengakhiri suatu hubungan tanpa memulainya memang akan terasa menyakitkan. Tapi, itulah sejatinya cinta, tidak memulai suatu hubungan haram dan menunggu yang halal. (*)
Alexandria Azzukhruf Nurdita, Pelajar SMPN 2 Lamongan. Tinggal di Jalan Sunan Drajat Lamongan.
Editor : M. Yusuf Purwanto