
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Suasana malam Jalan Pemuda, Kecamatan Kota tak hanya diwarnai bising kendaraan. Jalan yang kian menyempit di malam hari itu juga penuh dengan kuliner malam.
Salah satunya Tahu Tek Zafran di sisi utara jalan, tepat di depan Rumah Sakit Islam Pemuda.
Warung besutan M. Abdul Wasid itu sudah dirintis sejak 2017, seusia anaknya. Menawarkan tahu tek Lamongan dengan sentuhan bumbu khas menggunakan petis dan kacang. Mempertahankan cita rasa daerah asal di tengah beragamnya kuliner dijajakan di Kota Ledre ini.
Bagi Wasid, tahu tek buatannya bukan sekadar tahu goreng, lontong, telur, dan kecambah yang disiram bumbu kacang. Ada tambahan petis yang menjadi racikan otentik makanan khas Bumi Joko Tingkir itu. Menurut dia, tahu tek di Bojonegoro umumnya lebih banyak menggunakan campuran kecap dan kacang, sementara petis terkadang hanya ditambahkan sedikit.
"Kalau khas Lamongan itu ada petisnya, enggak hanya kacang dan kecap. Ya biasanya pakai petis tapi dominan kacang sama kecap kalau di sini," ujarnya.
Perjalanan Wasid di dunia kuliner bukanlah barang baru. Ia bercerita, sebelum memutuskan berjualan di Bojonegoro, lebih dulu mengadu nasib di luar Pulau Jawa dengan berjualan tahu tek dan tahu campur. "Karena kondisi orang tua sakit jadi kembali ke Lamongan dan memutuskan berjualan di sini (Bojonegoro, red). Meski sekarang belum menetap, masih kontrak," katanya.
Namun, ia mengaku ingin menetap dan tinggal di kabupaten perbatasan antara Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng) ini. Perjalanannya pun cukup panjang. Tidak langsung di Jalan Pemuda. Sebelumnya, pernah membuka lapak di depan Lumintu, kawasan Perempatan Kelurahan Ngrowo, Kecamatan Kota. Dari sana, usahanya terus berjalan hingga memiliki pelanggan tetap.
Satu porsi tahu tek Zafran dibanderol Rp 13 ribu. Harga sudah termasuk tambahan telur. Pilihan harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu daya tarik bagi pelanggan yang ingin menikmati kuliner malam tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Salah satu pelanggan setianya, Wawan, mengaku cocok dengan sajian tahu tek tersebut. Warga Desa Campurejo, Kecamatan Kota yang juga berasal dari desa tetangga Wasid di Lamongan itu menilai rasa yang ditawarkan sebanding dengan harga dibayarkan. "Enak, sudah langganan lama di sini," ungkap dia. (yna/msu)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




