Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menghidupkan Malam Ramadan Tanpa Mengabaikan Kesehatan

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯

dr. Rika Tricha Widiarti, Wakil Direktur RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo / Bendahara IDI Cabang Bojonegoro
dr. Rika Tricha Widiarti, Wakil Direktur RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo / Bendahara IDI Cabang Bojonegoro


Advertisement

 

Oleh:
dr. Rika Tricha Widiarti
Wakil Direktur RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo / Bendahara IDI Cabang Bojonegoro

SEPULUH hari terakhir Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, doa lebih panjang, dan malam terasa lebih hidup. Umat Islam berlomba menjemput Lailatul Qadar dengan memperbanyak shalat malam, dzikir, dan tilawah.

Namun di tengah semangat tersebut, muncul pertanyaan yang kerap saya temui sebagai dokter: apakah begadang demi ibadah tidak membahayakan kesehatan?

Perlu dipahami, kesehatan dan ibadah bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya saling menguatkan. Tubuh yang sehat memudahkan seseorang beribadah dengan khusyuk dan optimal.

Advertisement

Sebaliknya, ibadah yang dilakukan dengan tenang dan penuh kesadaran menghadirkan ketenangan jiwa yang berdampak baik bagi kesehatan fisik.

Secara medis, kurang tidur memang dapat menurunkan daya tahan tubuh, mengganggu konsentrasi, serta memperburuk penyakit kronis tertentu. Namun begadang yang terencana dan disiasati dengan baik tidak serta-merta menjadi ancaman. Kuncinya adalah manajemen waktu dan pola hidup yang tepat.

Pertama, maksimalkan tidur malam dengan tidur lebih awal dan menerapkan sleep hygiene. Pastikan kamar tidur nyaman, tenang, dan minim gangguan. Jauhkan gawai serta matikan televisi setidaknya satu jam sebelum tidur, karena paparan cahaya biru dapat menghambat hormon pemicu rasa kantuk. Jika memiliki waktu senggang di siang hari, manfaatkan untuk tidur singkat sekitar 20 menit guna memulihkan energi.

Advertisement

Kedua, atur porsi makan dengan baik. Komposisi yang dianjurkan saat puasa adalah sekitar 40% saat sahur, 50% saat berbuka, dan 10% setelah tarawih. Saat sahur, konsumsi makanan bergizi seimbang yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral.

Hindari makanan terlalu manis dan berlemak karena dapat memicu rasa haus. Batasi pula minuman berkafein yang meningkatkan produksi urin. Saat berbuka, awali dengan kurma atau buah untuk menaikkan gula darah secara bertahap dan merangsang pencernaan. Pastikan kebutuhan cairan 1,5–2 liter per hari terpenuhi agar tidak dehidrasi.

Ketiga, tetap lakukan olahraga ringan agar tubuh tetap bugar saat beribadah malam.

Yang perlu dihindari adalah memaksakan diri hingga kelelahan. Islam tidak mengajarkan ibadah yang merusak kesehatan. Jika tubuh terasa sangat lemah atau muncul keluhan, beristirahatlah sejenak.

Ibadah bukan hanya soal durasi, tetapi kualitas dan keikhlasan. Dengan pengaturan yang bijak, kita dapat menghidupkan malam Ramadan tanpa mengabaikan kesehatan karena keduanya berjalan beriringan, saling menyempurnakan. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

8 Kedai Ramen Kaki Lima dan Fusion Paling Hits di Surabaya

8 Kedai Ramen Kaki Lima dan Fusion Paling Hits di Surabaya

Mau makan ramen rasa autentik tanpa bikin kantong jebol? Coba sensasi makan di kedai Yatai kaki lima dan cicipi ramen unik rasa Carbonara di Surabaya. Ada opsi halal dan non-halal. Cek lokasinya di sini!

BI Ungkap Alasan Struktur Utang Masih Sehat

BI Ungkap Alasan Struktur Utang Masih Sehat

Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai 453,4 miliar dolar AS pada triwulan II 2026. Meski nilainya meningkat 4,4 persen secara tahunan, Bank Indonesia (BI)

6 Tanda Kucing Sehat yang Bisa Dilihat dari Perilakunya

6 Tanda Kucing Sehat yang Bisa Dilihat dari Perilakunya

Kesehatan kucing tidak selalu harus dilihat dari kondisi fisiknya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer