Keuletan Sumarni mendalami kerajinan rajut membuahkan hasil. Pandangan sebelah mata dari orang di sekitarnya dibuktikan dengan karya nyata.
DEWI SAFITRI, BOJONEGORO
SUMARNI terlihat dengan teliti membuat beragam jenis kerajinan. Mulai dari gantungan kunci, boneka, bando, dompet, hingga aneka jenis tas. Merajut telah menjadi hobinya sejak SMP.
Kemudian, mulai mendalami lagi seni rajut pada 2018. Kemudian, berkelompok rutin belajar dan membuat kerajinan rajut. Bahkan, telah menerima orderan dari Jogjakarta.
Di pertengahan perjalanan bersama timnya, orderan rajut semakin sepi. Sumarni langsung memutar otak seketika. Mencari cari agar tetap bisa mendapat penghasilan dari hobi rajut yang telah didalami. Akhirnya, memutuskan membuka usaha rajut pribadi.
‘’Awalnya secara kelompok, tapi karena orderan sepi. Akhirnya memutuskan untuk membuat usaha rajut sendiri,’’ tuturnya
Pahit manis dirasakan Sumarni ketika awal perjuangan memulai usahanya. Cemooh dari orang-orang di sekeliling turut terdengar di telinga.
Meski cukup menghancurkan mental saat itu, namun pandangan rendah dari orang-orang tersebut tidak pernah menghentikan langkahnya.
Sumarni terus semangat dengan berusaha menutup telinga. Terus maju mewujudkan mimpinya. Ketika membuat tas rajut sering diremehkan sama salah seorang dari anggota keluarga sendiri, dianggap tidak berguna.
‘’Sering dikatain, mau jadi apa ikut begituan, saya cuma bisa diam. Tapi, alhamdulillah suami selalu mendukung,’’ kenangnya dengan mata berlinang air mata.
Cemooh tidak pernah dibalas dengan kata-kata, Sumarni menjawabnya langsung dengan tindakan dan hasil nyata. Kini, telah menjadi pengusaha kerajinan rajut. Memiliki penghasilan sendiri dan bisa beli apapun dengan hasil jerih payah yang dibangun sendiri.
Baca Juga: Jadikan Eceng Gondok Bahan Kerajinan Tas, Lima Pelajar Terima Medali Perunggu ISIF 2023
Kini hasil karya Sumarni tidak hanya terjual di dalam Kota Bojonegoro. Melainkan, diminati hingga masyarakat di luar kota. Seperti, Surabaya, Tuban, Ponorogo, hingga mencangkup pelanggan dari Provinsi Jawa Tengah. Bahkan, produk karajinan rajutnya juga diminati oleh orang luar negeri.
Selain memesarkan melalui aneka pameran. Sumarni juga menjual hasil karyanya secara langsung di toko di Pasar Pungpungan, Kalitidu. Juga menitipkan rajutnya di berbagai toko besar di Bojonegoro.
Tak jarang pula dipromosikan hasil karya di sosial media pribadinya. ‘’Bucamat, dokter juga banyak yang pesan. Bahkan, saat ada pameran B-TIFF juga diborong oleh bule-bule luar negeri,’’ katanya.
Sumarni merasa senang dengan hasil dari segala perjuangannya. Bahkan, salah seorang keluarga yang sempat memandangnya sebelah mata, kini ikut bangga dengan keberhasilan yang dicapainya.
‘’Semoga saya bisa memiliki toko khusus kerajinan di rumah sendiri,’’ harap perempuan tinggal di Dusun Gempol, Desa Mayangrejo, Kalitidu itu. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana