Bidikan lensa kamera Sucipto sering ke alam liar. Tak seperti fotografer umumnya, rutinitasnya ke hutan lebih membuatnya seperti pecinta alam. Bahkan, hobinya memotret hewan di hutan sering ditertawakan.
DHANI WAHYU ALFIANSYAH, Radar Bojonegoro.
LINGKUNGAN seakan berpengaruh pada hobi yang digeluti Sucipto, Lahir di kawasan hutan Desa Bareng, Kecamatan Sekar, membuatnya tumbuh dengan menekuni fotografer alam liar.
Bahkan, meski kini tinggal di Desa/Kecamatan Baureno, dirinya selalu menyempatkan waktu ke hutan dan tempat-tempat satwa liar di Bojonegoro.
Saat Jawa Pos Radar Bojonegoro menemui, Cipto menuturkan bahwa hobi memotret satwa liar baru digelutinya kurang dari satu tahun terakhir.
Namun, kecintaannya akan satwa liar dan alam sudah dirasakannya sejak kecil. ‘’Baru keturutan beli alat-alat dan kamera, akhirnya full tiga bulan terakhir memotret,” bebernya.
Menurutnya, fotografi alam liar memiliki tantangan berbeda dengan fotografi peristiwa, karena ada beberapa disipin ilmu lain yang harus dipelajari.
Bahkan, acap kali melakukan kamuflase agar hewan yang akan dibidik tidak lari atau terbang, hingga menutup seluruh bagian tubuh menyerupai warna rumput .
Namun, hobi yang dilakukannya ternyata memang berat. Selain harus sabar mengamati pergerakan hewan, juga harus memiliki keberanian . Tak jarang, dirinya dianggap sebagai pemburu satwa liar di hutan.‘’Karena lebih sering di hutan sendirian, dan memang sampai saat ini belum menemukan orang dengan hobi yang sama di Bojonegoro,” ungkapnya.
Pria yang telah beristri itu, juga mengaku hobi tersebut sering dianggap remeh, meski dirinya memaklumi karena kurang populernya fotografer alam liar, khususnya di Bojonegoro.
‘’Kalau di hutan atau di waduk, pasti ada yang datang tanya, kalau saya jawab memfoto burung pasti selalu ditertawakan,” ceritanya dengan tertawa.
Selain itu, menjadi fotografer alam liar harus senang berwisata dan mencintai alam. Karena itu, dirinya merasa beruntung tinggal di kawasan dekat hutan dan pegunungan.
Tak jarang, di lokasi pegunungan Kecamatan Sekar, dirinya masih sering menemukan satwa liar. ‘’Masih ada elang jawa, elang hitam, dan alap-alap, itu pun mencarinya susah dan sangat sulit ditebak,” pungkasnya. (*/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana