Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Radar History: Kekeringan, Warga Makan Nasi Srinthil

M
Penulis: M. Irvan Romadhon❯
SEJARAH KEMISKINAN: Arsip Radar Bojonegoro pada 2003 silam menyguhkan fakta, warga Kecamatan Malo susah mengakses beras saat musim kemarau.(DOKUMENTASI RADAR BOJONEGORO) 
SEJARAH KEMISKINAN: Arsip Radar Bojonegoro pada 2003 silam menyguhkan fakta, warga Kecamatan Malo susah mengakses beras saat musim kemarau.(DOKUMENTASI RADAR BOJONEGORO)  

Advertisement

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kekeringan menjadi bencana musiman yang melanda Bojonegoro. Juga berdampak besar bagi kehidupan masyarakat. Bahkan, pada 2003 lalu kekeringan membuat masyarakat Kecamatan Malo mengalami krisis pangan.

Berdasarkan asrip Jawa Pos Radar Bojonegoro pada 17 Agustus 2003 ketika kemarau mendekati titik kritis, sebagian besar warga Dusun Ledok, Desa Tinawun, Kecamatan Malo, terpaksa makan nasi srinthil (ubi kayu yang dikeringkan lalu dicampur jagung). Bahkan berlangsung selama dua bulan.

Nasib warga dusun yang berada kawasan Hutan Tinawun itu benar-benar bertolak belakang dengan pernyataan yang selama ini digembar-gemborkan para pejabat pemkab setempat kala itu. Sejumlah pejabat menjamin bahwa warga Bojonegoro tidak akan mengalami krisis pangan pada kemarau 2003 lalu.

Advertisement

Supangat warga Dusun Ledok, Desa Tinawun, Kecamatan Malo mengatakan sejak kemarau makan nasi srinthil menjadi kebiasaan. Terlebih untuk mendapatkan beras susah. Nasi srintil terbuat dari ubi kayu kering lalu dicampur dengan jagung.

‘’ Mau bagaimana lagi? Untuk mendapat beras susahnya setengah mati,” ungkapnya kala itu.

Proses untuk membuat nasi srinthal cukup panjang. Warga harus menjemur ubi kayu dan jagung lebih dulu selama kurang lebih tiga sampai enam hari. Setelah itu, ubi kayu dan jagung yang telah kering dimasak sama seperti menanak nasi.

Advertisement

Bagi Supangat, makan nasi srinthil merupakan kenyataan yang harus dihadapi setiap musim kemarau tiba. Sebab, dia dan sebagian besar warga lainnya tidak mampu lagi membeli beras. Kondisi ini kian diperparah dengan minimnya lahan pertanian penduduk setempat, hanya 2 hektare. Apalagi, pada 2003 lalu, mereka gagal panen.

‘’Karena berbagai kesulitan itulah, warga harus makan nasi srinthil," jelas bapak dua anak ini.

Pengakuan serupa disampaikan Surani, 28, tetangga Supangat. Dia dan keluarganya terpaksa makan nasi srinthil karena kondisi yang serba sulit. Karena tidak mampu lagi membeli bahan makanan lain, sehingga mengandalkan ubi kayu yang ditanam sendiri serta membeli dari tetangganya.

"Yang penting perut terisi daripada tidak makan sama sekali," tuturnya saat itu.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Meresahkan Warga: Galian C di Kecamatan Malo Ditutup, Penambang Klaim Kantongi Izin

Meresahkan Warga: Galian C di Kecamatan Malo Ditutup, Penambang Klaim Kantongi Izin

Aktivitas tambang di Desa Senganten, Kecamatan Malo resmi ditutup kemarin (5/8). Karena dianggap meresahkan warga, dan belum mengantongi izin.

Krisis Air Tersebar di 103 Desa, Sehari Dropping Air Bersih di 46 Desa

Krisis Air Tersebar di 103 Desa, Sehari Dropping Air Bersih di 46 Desa

Masyarakat harus waspada bencana iklim. Tahun ini, kemarau berkepanjangan berdampak signifikan di sejumlah wilayah Bojonegoro. Meski hujan mulai turun, tak lantas persoalan air bersih teratasi.

Langganan Kekeringan di Desa Sumberrejo, Kecamatan Margomulyo: Kekeringan Terpanjang dalam Sejarah

Langganan Kekeringan di Desa Sumberrejo, Kecamatan Margomulyo: Kekeringan Terpanjang dalam Sejarah

Warga sekitar wisata religi Masjid Samin Baitul Muttaqin, Desa Sumberrejo, Kecamatan Margomulyo krisis air bersih. Meski sduah hujan, masih tetap minta kiriman air bersih.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer