Krisis Air Tersebar di 103 Desa, Sehari Dropping Air Bersih di 46 Desa

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Masyarakat harus waspada bencana iklim. Tahun ini, kemarau berkepanjangan berdampak signifikan di sejumlah wilayah Bojonegoro. Meski hujan mulai turun, tak lantas persoalan air bersih teratasi.
Buktinya, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) masih melakukan dropping air bersih hingga kemarin (29/10).
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro Heru Wicaksi mengatakan, krisis air bersih dampak kekeringan meluas hingga 103 desa di 22 kecamatan. Bahkan, kemarin penyaluran mencapai 46 desa. "Hari ini (kemarin, red) dropping air di 46 desa," katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Baca Juga: Langganan Kekeringan di Desa Sumberrejo, Kecamatan Margomulyo: Kekeringan Terpanjang dalam Sejarah
Apakah berpotensi bertambah, Heru berharap, semoga tidak dan tetap berprasangka baik. Ia tidak memastikan secara pasti optimisme tidak meluasnya kekurangan air bersih ini karena hujan turun di sejumlah wilayah. "Semoga tidak (bertambah, red). Tetap berprasangka baik dulu," katanya.
Sementara itu, saat disinggung mitigasi bencana alam khususnya banjir bandang yang berpotensi terjadi saat musim hujan, ia mengatakan, mitigasi bersifat fisik dilakukan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait seperti normalisasi embung dan drainase.
Baca Juga: Musim Hujan Diprediksi November, BPBD Sebut Hujan Hasil Modifikasi Cuaca
Sementara, BPBD melakukan penyuluhan. Untuk pemetaan daerah rawan banjir, terjadi di Kecamatan Gondang dan Sekar. "Mitigasi fisik dari dinas terkait seperti dinas PU SDA (pekerjaan umum sumber daya air) dan dinas cipta karya atau bina marga. Untuk satgas kebencanaan sendiri minggu depan kami bahas dengan asda (asisten daerah) 1 (asisten pemerintahan dan kesejahteraan rakyat)," bebernya. (yna/msu)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




