Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Jumlah PMI Asal Bojonegoro Naik: Tercatat 452 PMI pada 2025, Gaji Besar Jadi Daya Tarik

Dewi Safitri • Sabtu, 17 Januari 2026 | 07:30 WIB
JOB FAIR: Perjuangan pencari kerja di Bojonegoro memasukkan puluhan surat lamaran saat momen job fair.
JOB FAIR: Perjuangan pencari kerja di Bojonegoro memasukkan puluhan surat lamaran saat momen job fair.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Faktor ekonomi masih menjadi alasan utama warga Bojonegoro mengadu nasib di negeri orang. Tekanan kebutuhan hidup, terbatasnya lapangan pekerjaan lokal, hingga selisih upah yang cukup jauh antara bekerja di dalam dengan luar negeri membuat ratusan masyarakat Bojonegoro memilih menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Berdasar data Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Bojonegoro, naik turun jumlah PMI dari Bojonegoro selama lima tahun terakhir. Pada 2021 tercatat hanya sekitar 137 PMI.

Meningkat drastis menjadi 799 PMI di 2022. Kemudian, mengalami penurunan menjadi 588 PMI di 2023. Tren penurunan berlanjut pada 2024 tercatat terdapat sebanyak 434 PMI. Meski tipis, namun jumlah PMI dari Bojonegoro kembali menunjukan peningkatan di tahun lalu. Yakni, naik menjadi 452 PMI dari Bojonegoro di 2025.

Tyani, salah satu Gen Z Bojonegoro yang memutuskan menjadi PMI di Jepang mengatakan, banyak cara untuk mengubah nasib. Utamanya, dalam hal kehidupan ekonomi. Salah satunya, merantau ke luar negeri.

Terlebih, mengingat upah minimum kabupaten (UMK) yang tergolong kecil di sini. Berbeda dengan upah di luar negeri yang cukup besar, dengan biaya hidup rendah. Sehingga, masih bisa menabung untuk merubah nasib.

‘’Misal gaji di luar negeri, dikurangi biaya hidup, masih bisa nabung lebih banyak. Daripada bekerja di negara sendiri,’’ kata perempuan berjilbab tersebut.

Terpisah, ibu dua anak asal Kecamatan Dander yang bekerja di Hongkong menyampaikan, sudah puluhan tahun menjadi PMI, sebagai asisten rumah tangga (ART). Berbagai negara sudah dijejaki untuk memperbaiki ekonomi. Juga, biaya hidup sehari-hari, termasuk biaya pendidikan anak-anak.

Tidak sia-sia, kerja kerasnya mengadu di negeri orang berbuah hasil. Selain bisa menabung asset, anak-anak juga bisa menempuh pendidikan tinggi. Meski perjuangan yang dilalui tidak mudah, namun ia bersyukur dengan apa yang telah dipilih untuk jalan hidupnya bersama keluarga.

‘’Menjadi PMI karena faktor ekonomi. Cari kerja susah di sini, apalagi untuk yang sudah berumur. Sebelumnya, juga sempat menjadi PMI, kemudian pulang cukup lama, mencoba bekerja dari rumah. Namun, tidak bertahan lama. Tuntutan ekonomi membuat harus kembali merantau ke negeri orang hingga sekarang,’’ terang perempuan yang enggan disebutkan namanya tersebut. (ewi/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#PMI #merantau #umk #pekerja migran #Ekonomi #dander #bojonegoro #Luar Negeri #jepang #Disperinaker #disperinaker bojonegoro