RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bojonegoro melakukan studi tiru ke Dekranasda Sragen, tepatnya di Sentra Industri Kreatif dan Kerajinan (SIKK) Sragen pada Senin (8/12). Tujuannya membuka ruang kolaborasi dan sinergi dengan pihak luar.
Terlebih, Dekranasda Sragen dikenal dengan pengelolaan galeri dan sentra kerajinan yang tertata baik.
Ketua Dekranasda Bojonegoro, Cantika Wahono menyampaikan, kunjungan ini bukan sekadar studi tiru, melainkan langkah untuk membangun hubungan jangka panjang antar dua daerah yang sama-sama memiliki kekayaan kriya.
“Kami berharap ada kerjasama yang berkelanjutan antara Bojonegoro dan Sragen. Termasuk kolaborasi di beberapa kriya dari kedua kabupaten ini,” ujarnya.
Bunda Cantika tersebut melanjutkan, ruang kemitraan dan saling berbagi pengalaman sangat penting. Utamanya, untuk memperkuat posisi para pelaku usaha kerajinan dalam menghadapi tantangan pasar.
“Kami senang sekali bisa belajar langsung dari contoh-contoh baik yang ada di Sragen. Mudah-mudahan apa yang kami upayakan ini diridhai Allah. Sehingga, kami pulang membawa banyak ilmu dan pengalaman,” harapnya.
Ketua Dekranasda Sragen, Linda Sigit Pamungkas menyambut kedatangan Dekranasda Bojonegoro dengan hangat. Sragen sebagai The Land of Java Man. Karena 50 persen fosil manusia purba di dunia yang ditemukan di Indonesia, sebagian besar berada di Sragen.
Menurutnya, meski Sragen memiliki keunggulan. Namun, masih ada kekurangan yang dapat diperbaiki melalui pertemuan dan diskusi seperti ini.
“Pasti ada yang kurang dari kami. Bisa jadi justru yang tidak ada di sini itu hadirnya di Bojonegoro. Karena itu, mari kita saling mempelajari satu sama lain. Apa pun yang bisa diadopsi dan diperbaiki, kami berharap dapat masukan,” ujarnya.
Materi seputar strategi pemasaran Dekranasda yang memanfaatkan website, pameran, radio, hingga penjualan melalui SIKK dipaparkan oleh Ketua Harian Dekranasda Sragen, Tugiyono.
Adanya sinergi antar OPD, pendekatan komunikasi yang humoris dan humanis dinilai penting. Untuk mempercepat program pengembangan UMKM kreatif. Kemandirian pengusaha batik yang mampu membuka galeri di berbagai kota juga menjadi kekuatan tersendiri bagi Sragen.
“Motivasi untuk berpikir mandiri menjadi kunci berkembangnya batik Sragen,” lanjutnya
Ketua Dekranasda Bojonegoro juga berkesempatan mencoba secara langsung proses membatik khas Sragen. Menjadikan pengalaman sekaligus kedekatan tersendiri antar dua Dekranasda untuk saling berkolaborasi. (*/ewi)
Editor : Yuan Edo Ramadhana