BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Lesunya pasar ekspor kayu jati dinilai memengaruhi pendapatan pelaku usaha kayu jati. Kondisi tersebut disinyalir karena menurunnya aktivitas pengolahan kayu jati keperluan mebel dan bangunan dampak adanya pandemi.
Sehingga, perlu perluas pasar domestik atau dalam negeri. ‘’Menurut beberapa sumber penurunan ekspor kayu jati akibat pandemi. Dimulai 2019 lalu,” kata Akademisi Ekonomi Retno Muslinawati kemarin (18/9).
Dia melanjutkan, penggunaan kayu jati di Bojonegoro tidak setiap saat. Permintaan masyarakat sesuai kebutuhan.
Sedangkan, kualitas kayu jati menjadi pimadona dalam perabotan rumah tangga dalam hingga luar negeri.
Namun, disesalkan pasar ekspor kayu jati saat ini melemah dan memengaruhi pendapatan pelaku usahanya. Karena permintaan olahan kayu jati dunia menurun.
‘’Penurunan ekspor kayu jati otomatis berdampak pada penurunan pengiriman dan pendapatan pengusaha,” jelas Retno sapana akrabnya.
Dia mengatakan, jika pasar ekspor terus melemah pelaku usaha bidang kayu jati bisa memperluas pasar domestik. Berupa terobosan dan inovasi menyajikan olahan kayu jati dengan kualitas bagus, desain menarik, dan harga terjangkau.
‘’Pengusaha bisa memperbanyak olahan lain kayu jati seperti souvenir dan bekerja sama dengan pengusaha lain seperti hotel,” tuturnya. Serta, perlu adanya pembahasan dan penerapan kebijakan dari pemerintah daerah (pemda) hingga pemerintah pusat dengan pakar di bidang tersebut untuk mencari solusi. (yna/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana