
Harga minyak dunia terus mengalami kenaikan. Saat ini harganya sudah di atas 100 dolar AS per barel.
Sebagai negara pengimpor minyak bumi, APBN Indonesia bakal tertekan. Apalagi, sampai di dalam negeri, minyak itu disubsidi sehingga beban APBN akan semakin besar untuk menstabilkan harganya.
Namun, jika harganya tidak dijaga, harga Pertalite bisa naik puluhan persen. Jika hari ini Pertalite dijual seharga Rp10.000,00 per liter, kenaikan 30 persen akan menjadikannya Rp13.000,00 per liter.
Dampaknya akan panjang. Harga kebutuhan pokok akan naik karena ongkos angkut juga akan ikut naik. Masyarakat akan semakin kesulitan. Inilah yang disebut inflasi.
Saat ini Indonesia adalah negara importir minyak. Kebutuhan minyak bumi di Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi minyak dalam negeri hanya mampu memenuhi 600 ribu barel per hari.
Sisanya, sebanyak 1 juta barel, harus diimpor dari luar negeri.
Indonesia memang tidak banyak melakukan impor langsung dari negara-negara Timur Tengah. Sebagian besar impor bahan bakar minyak (BBM) jadi berasal dari Singapura dan Malaysia. Namun, kedua negara itu pun mengimpor dari Timur Tengah, bukan memproduksi sendiri. Singapura tidak memiliki sumur minyak.
Seharusnya Indonesia mengimpor langsung dari negara-negara Teluk karena bisa lebih efisien dan tidak bergantung pada negara tetangga.
Namun, hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Ada praktik mafia yang sulit dikendalikan, bahkan oleh negara sekalipun.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




