BLORA, Radar Bojonegoro - Temuan potongan fragmen bongkahan batu bata merah kuno di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo bikin geger. Berdasar struktur perekat batu bata, dugaan besar dari abad ke-19. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora masih mengkaji bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah.
Potongan-potongan batu bata tersebut ditemukan Ipung Widi, 45, saat menggali tanah untuk ditanami pisang. Sekitar 50 sentimeter dari permukaan tanah didapati potongan-potongan batu bata merah dengan motif garis melengkung. Diduga batu bata zaman kerajaan.
Praktisi sejarah Blora, Totok Supriyanto mengaku, telah berkunjung di lokasi penemuan batu bata. Setelah dicermati, karakteristik batu bata dari abad ke-19. Hal itu berdasar perekat batu bata yang digunakan berupa campuran pasir kali dan kapur.
’’Kalo era sebelumnya tidak memakai perekat seperti itu,” bebernya. Totok menduga, batu bata tersebut tidak terlepas dari masa-masa Diponegoro. Selain itu, lokasi penemuan tidak jauh dari petilasan Sunan Pojok (tokoh penyebar Islam di Blora), berada di tapal batas antar dusun Buluroto.
’’Kemungkinan zaman Perang Diponegoro, lokasinya juga berdekatan dengan petilasan Sunan Pojok," terangnya.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora Siti Rokhayah menjelaskan, pihaknya mengetahui adanya temuan dari laporan masyarakat. Pihaknya pun menerjunkan tim.
’’Kami sudah terjubkan tim kemarin (Kamis) dan kami belum bisa menyimpulkan, batu bata itu zaman klasik atau seperti apa,” imbuhnya. Ia menjelaskan, petugas yang dikirim meninjau lokasi yang berada di area pertanian milik Ipung Widi.
Menurutnya, untuk menentukan status batu bata tersebut butuh kajian. Pihaknya telah melaporkan penemuan warga tersebut kepada BPK Wilayah X Jawa Tengah. Pihaknya memeparkan, batu bata yang ditemukan berupa bata merah, dengan panjang 15-18 sentimeter, lebar 12-16 sentimeter dan tebal bata 5 sentimeter. (luk/bgs)
Editor : Hakam Alghivari