LAMONGAN,Radar Lamongan Di balik menjamurnya kafe – kafe yang menyajikan kopi, muncul barista – barista baru.
Aroma kopi itu cukup menyengat. Seorang barista menuangkan air ke sebuah teko yang ada kopinya. Teko berisi air kopi itu kemudian dituangkan ke sebuah cangkir.
Tak jauh dari barista itu, barisan barista lainnya siap menunggu giliran untuk unjuk gigi, meracik kopi di hadapan juri dalam acara barista competition beberapa waktu lalu.
Sandi, salah satu juri, mengatakan, menyeduh kopi itu menggunakan perasaan. Selera setiap orang berbeda. Dalam sebuah kompetisi, dibutuhkan aturan khusus yang bisa menyatukan selera. Juga, aspek yang dinilai.
Salah satunya, presentasi untuk kopi sendiri. Jenis kopi, aroma dan rasa, dan takaran gula. Takaran yang terlalu manis, bakal terasa tidak enak bagi penikmat kopi.
Jenis perlombaan untuk penyaji kopi juga cukup banyak. Ada coffee roasting, latte art, dan brewers cup. Kompetisi seperti ini tidak menggunakan skor khusus. Namun, para juri melakukan kalibrasi untuk menentukan standar kopi yang diujikan. “Kita sudah tentukan takaran yang paling pas yang dijadikan pedoman penjurian,” ujarnya.
Sandi mencontohkan, jika aturannya tidak boleh menggunakan takaran air di bawah 150 ml, maka peserta yang melanggar otomatis akan didiskualifikasi.
Menurut dia, dalam dunia kopi ada banyak yang bisa dipelajari. Bagi pemula, biasanya membutuhkan waktu enam bulan untuk mengenal dan mempelajari teknik meracik kopi.
Hadirnya barista perempuan di sejumlah kafe menambah warna dunia perkopian. “Intinya kalau mau serius pasti bisa menjadi lapangan pekerjaan baru dan bukan untuk sekedar gaya, karena teknik menyeduh kopi cukup banyak,” terangnya.
Di even yang digelar tahun ini, Sandi menilai jumlah pesertanya lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Kualitas barista yang berlomba juga lebih baik dibandingkan even sebelumnya. (rka/yan)
Editor : Hakam Alghivari