Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Bojonegoro Membara: Mengapa Cuaca Terasa Ekstra Panas Akhir-Akhir Ini?

Bhagas Dani Purwoko • Rabu, 8 Oktober 2025 | 02:31 WIB
Bojonegoro Sumuk.
Bojonegoro Sumuk.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu daerah yang kerap merasakan suhu udara cukup tinggi, bahkan seringkali menjadi wilayah terpanas di Jawa Timur.

Belakangan ini, sensasi panas tersebut terasa semakin menyengat, dengan suhu maksimum di siang hari yang bisa menyentuh angka 36°C hingga 38°C.

Fenomena ini adalah hasil dari kombinasi faktor astronomis, dinamika atmosfer regional, dan kondisi lingkungan lokal Bojonegoro sendiri.

1. Faktor Astronomis dan Dinamika Atmosfer

Penyebab utama dari cuaca panas yang melanda Bojonegoro dan wilayah lain di selatan ekuator Indonesia adalah fenomena alamiah yang terjadi setiap tahun.

Gerak Semu Matahari

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), salah satu pemicu utama adalah Gerak Semu Matahari (Kulminasi). Pada periode tertentu (biasanya sekitar September dan Oktober), posisi matahari berada pada atau bergerak mendekati garis Ekuator sebelum bergerak ke selatan.

Tujuan: Posisi matahari yang tegak lurus atau relatif dekat dengan wilayah Indonesia bagian selatan (termasuk Bojonegoro) menyebabkan intensitas penyinaran matahari menjadi sangat optimal. Energi panas langsung memanaskan permukaan bumi tanpa hambatan signifikan.

Minimnya Tutupan Awan

Saat ini, sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berada dalam periode musim kemarau atau pancaroba (peralihan) menuju musim hujan.

Tujuan: Kondisi cuaca yang didominasi oleh langit cerah dan minimnya pertumbuhan awan hujan membuat radiasi matahari langsung sampai ke permukaan bumi secara maksimal, sehingga suhu udara terasa lebih terik dan kering di siang hari.

2. Faktor Lingkungan dan Geografis Lokal Bojonegoro

Di samping faktor global dan regional, kondisi spesifik Bojonegoro memperparah sensasi panas yang dirasakan masyarakat.

Krisis Pepohonan (Urban Heat Island Effect)

Bojonegoro, meskipun dulunya dikenal sebagai penghasil kayu jati, kini memiliki tutupan lahan hijau yang minim di area perkotaannya.

Tujuan: Jumlah bangunan dan aspal yang masif di perkotaan menyerap panas matahari lebih banyak pada siang hari dan melepaskannya perlahan pada malam hari. Kekurangan pohon sebagai peneduh dan penyerap panas alami memperkuat efek Pulau Panas Perkotaan (Urban Heat Island Effect), membuat suhu di Bojonegoro terasa jauh lebih tinggi daripada daerah pedesaan di sekitarnya.

Kecepatan Angin dan Kelembapan

Faktor lokal seperti kecepatan angin dan tingkat kelembapan udara juga berperan. Udara yang tidak stabil dan kering cenderung membuat sensasi panas terasa lebih menyengat atau sumuk. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#sumuk #panas #bojonegoro #BMKG