Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

EMCL Mengebor Tujuh Sumur Baru, Kandungan Minyak Diproyeksikan 42 Juta Barel

Hakam Alghivari • Sabtu, 2 Maret 2024 | 18:50 WIB
SUMUR BARU: Tajak sumur baru di Pad-B Lapangan Banyu Urip. Pengeboran 7 sumur  baru diharapkan menambah produksi minyak untuk kebutuhan nasional. (WAHYU DHANI ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)
SUMUR BARU: Tajak sumur baru di Pad-B Lapangan Banyu Urip. Pengeboran 7 sumur baru diharapkan menambah produksi minyak untuk kebutuhan nasional. (WAHYU DHANI ALFIANSYAH/RADAR BOJONEGORO)

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Menurunnya produksi minyak dari Lapangan Banyu Urip di Bojonegoro menjadi perhatian serius. Sebab, pada produksi puncak sebelumnya mencapai 230.000 barel per hari (BPH), akhir-ahir ini sekitar 160.000 BPH.

Untuk menambah produksinya, Exxonmobile Cepu Limited selaku operator dari lapangan Banyu Urip menambah tujuh titik sumur. Dua titik di Pad-B dan lima titik di Pad-C.

Tajak sumur Banyu Urip Infill Clastik ini diprediski mengandung minyak sekitar 42 juta barel. Sehingga, diharapkan meningkatkan produksi untuk kebutuhan minyak nasional.

Lapangan minyak di Kabupaten Bojonegoro ini memiliki peran besar untuk ketersediaan minyak nasional. Sebelumnya, Lapangan Banyu Urip menyumbang sekitar 25 persen dari kebutuhan nasional.

‘’Saat ini direncanakan ada 7 pemboran, jika dibandingkan 8 tahun lalu tidak ada sama sekali pemboran. Harapannya, lapangan Clastic memiliki potensi yang sama dengan lapangan Carbonat yang memiliki potensi hingga 1 miliar barel,’’ kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif saat di Lapangan Banyu Urip kemarin (1/3).

Menurut Arifin, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) telah menjaga produksi di Blok Cepu dengan optimal, awal potensinya 400 juta barel, sampai menghasilkan 630 juta barel dan berpotensi hingga 1 miliar barel.

Saat ini, produksi di blok ini mulai menurun, sehingga bersama pemangku kepentingan mendorong menjaga produksi Banyu Urip.

Arifin berharap pemboran sumur infill dan clastic akan ada tambahan 20.000 hingga 30.000 barel per hari sehingga bisa menahan laju penurunan produksi, serta kedepannya diharapkan lapangan Clastic menghasilkan produksi yang sama dengan lapangan Carbonat.

‘’Kami berharap banyak dengan output yang semaksimal mungkin dari lapangan Cepu,’’ beber Arifin.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menambahkan, SKK Migas memberikan perhatian yang besar terhadap upaya menjaga produksi lapangan minyak di Banyu Urip agar tetap optimal.

Produksi lapangan Banyu Urip telah melampaui yang ditargetkan dalam plan of development (POD), berbagai upaya dan terobosan yang dilakukan oleh SKK Migas dan EMCL dalam menjaga kinerja blok Banyu Urip.

‘’Tajak sumur infill carbonate lapangan Banyu Urip adalah upaya lanjutan yang dilakukan oleh SKK Migas dan ExxonMobil selaku operator untuk meningkatkan produksi minyak sebesar 42 juta barel dengan tetap memerhatikan kemampuan dan daya dukung reservoir yang ada,’’ terang Dwi.

Dwi menambahkan, SKK Migas terus mendorong kinerja operasi yang semakin optimal di Blok Banyu Urip. "Sebagai lapangan dengan produksi minyak sekitar 25 persen dari produksi minyak secara nasional, Banyu Urip sangat diharapkan kontribusinya untuk mencapai target peningkatan produksi dimasa depan, yaitu produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) di tahun 2030 untuk mendukung ketahanan energi nasional,’’ jelasnya.

Presiden ExxonMobil Indonesia Carole Gall menyampaikan proyek Banyu Urip Infill and Clastic, atau yang biasa kita sebut Proyek BUIC, memiliki arti yang sangat penting.

‘’Proyek ini akan berkontribusi besar terhadap aspirasi yang kami dukung penuh, yaitu tercapainya target nasional produksi 1 juta barel minyak per hari pada awal tahun 2030, yang sekaligus memperkuat keamanan energi nasional,’’ tuturnya.

Sesuai rencana drilling campaign, pemboran 2 sumur infill carbonate akan dilaksanakan tahun 2024 diproyeksikan akan mulai onstream di tahun 2024 ini dengan dilakukan tie in ke fasilitas eksisting. Selanjutnya diikuti dengan pemboran 3 sumur infill carbonate dan 2 sumur clastics dalam rentang waktu hingga tahun 2025 dan diharapkan onstream tahun 2026.

Kegiatan drilling campaign Banyu Urip menggunakan anjungan dan peralatan yang keseluruhannya dibuat di Indonesia dan dioperasikan oleh PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero).

Pengeboran ini menunjukkan tingkat kompetensi PDSI di bidang pengeboran minyak dan gas bumi, serta dukungan industri hulu migas untuk tumbuh berkembangnya perusahaan nasional serta komitmen SKK Migas dan KKKS dalam mengimplementasikan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di industri hulu migas. (dan/msu)

 

 

 

Editor : Hakam Alghivari
#Baru #kandungan #sumur #pengeboran #barel #bojonegoro #emcl #minyak