Radar Tuban – Para pekerja seni yang tergabung dalam Persatuan Pelestari Seni Tuban (PPST) tak lelah memperjuangkan nasibnya untuk bisa pentas. Setelah tuntutan mereka yang disampaikan ke Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Tuban dua pekan lalu tak mendapat solusi.
Kemarin (19/8), mereka kembali menggelar unjuk rasa di depan kantor Pemkab Tuban, Jalan RA Kartini. Di depan kantor bupati tersebut, mereka bergantian orasi menggunakan sound system yang diusung di atas pikap. Beberapa seniman membentangkan poster desakan atas nasib yang dialami.
Edi Ronggo, salah satu seniman langen tayub, mengawali orasinya dengan membaca puisi. Saking larutnya dengan puisi yang dibacakan, dia sempat menitikan air mata saat mengungkapkan luapan hatinya. ‘’Banyak anak seniman yang putus sekolah karena tak mampu bayar. Tidak sedikit dari seniman yang hartanya habis terjual karena bertahan hidup,’’ ungkapnya.
Edi mengatakan, para insan seni sudah lelah dan pasrah. ‘’Kami lapar dan anak kami masih butuh sekolah,’’ pekiknya. Edi menyampaikan, seniman adalah pekerjaan paling terpukul selama pandemi. Itu karena selama pandemi pemerintah menutup semua pintu rezekinya.
Setiap kali para seniman akan manggung kecil-kecilan, mereka selalu berurusan dengan aparat keamanan. Kondisi ini menjadikan mereka membatalkan pentas. ‘’Dalam kondisi sesulit itu, tidak ada bantuan yang diberikan untuk mengganti kebutuhan mereka sehari-hari,’’ ratapnya.
Dalam unjuk rasa tersebut, pria berambut gondong itu menyampaikan tiga tuntutan. Pertama, meminta kelonggaran untuk kembali mencari rezeki. Kedua, meminta payung hukum atau aturan yang melindungi saat mereka tampil. Ketiga, meminta bantuan subsidi untuk pekerja seni agar asap dapurnya kembali mengepul.
‘’Kami hanya butuh makan, tolong longgarkan sedikit agar kami bisa tampil walau hanya terbatas,’’ tegas Edi menahan tangis. Demo tersebut melibatkan semua elemen pekerja seni. Sekitar pukul 08.00, puluhan seniman itu kumpul di sekitar Taman Bermain Anak, Jalan Pahlawan untuk dandan.
Para waranggono tayub tampil lengkap dengan kebaya, sanggul, dan riasannya. Sementara para seniman laki-laki menggunakan surjan lurik, pakaian khas Jatim, dan pakaian tradisional lain. Mereka ingin menunjukkan identitasnya selaku pekerja seni sesuai bidang yang ditekuni.
Sekitar pukul 10.00, para seniman yang terdiri dari musisi, pengrawit, pramugari, waranggono, dan pekerja seni lain berangkat ke Pemkab Tuban. Setelah sekitar satu jam bergantian orasi, Kepala Disparbudpora Tuban Sulistiyadi menemui pendemo. Dia menjelaskan bahwa larangan keramaian masih berlangsung selama PPKM level III dan level IV. Itu artinya seniman masih belum bisa diberikan kelonggaran pentas seperti tuntutannya.
‘’Semua aturan daerah PPKM level 3 dan level 4 langsung dari pemerintah pusat,’’ tegasnya. Setelah mendengar penjelasan Pemkab Tuban, Edi kembali berorasi. Dia bahkan sujud di depan kaki kepala disparbudpora sebagai permohonan yang paling dalam dari para seniman agar bisa kembali beraktivitas untuk mencari rezeki. ‘’Kami mohon,’’ tutur Edi sambil bersujud dan langsung ditenangkan oleh seniman lain yang hadir.
Setelah itu, sepuluh perwakilan seniman diundang untuk hearing di ruang rapat Aryo Tejo. Di ruang tersebut para seniman ditemui asisten pemerintahan Joko Sarwono dan Sulistiyadi. Dalam pertemuan tersebut, jawaban yang diberikan Pemkab Tuban tetap sama. Yakni, masih belum bisa mengizinkan pementasan dalam bentuk apa pun selama penerapan PPKM level 3 dan 4.
‘’Tuban statusnya masih PPKM level 3, jadi keramaian belum boleh,’’ tegas Joko. Setelah pertemuan yang tidak memberikan solusi bagi pekerja seni tersebut, para seniman kembali orasi. Sebelum membubarkan diri, salah seorang seniman mengatakan siap untuk kembali menggelar aksi hingga tuntutan mereka untuk bisa beraktivitas dipenuhi oleh pemkab.
Editor : Indra Gunawan