TUBAN, Radar Tuban - Idealnya, car free day (CFD) bebas dari seluruh kendaraan bermotor. Namun, tidak demikian halnya dengan kawasan hari bebas kendaraan bermotor di Jalan Sunan Kalijaga.
CFD di jalan protokol ini tak ubahnya seperti pasar Minggu. Kendaraan bermotor tetap lalu lalang di separo ruas jalan yang ditutup untuk berdagang.
Asap kendaraan pun terpapar di sepanjang jalan tersebut. Belum lagi bisingnya suara kendaraan.
Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Tuban Gunadi mengakui konsep CFD di Tuban tidak seperti pada umumnya. ''Saya malu dengan konsep CFD seperti ini,'' kata dia kepada Jawa Pos Radar Tuban sambil menunjukkan kondisi padat dan ruwetnya kendaraan bermotor yang lalu lalang di separo ruas Jalan Sunan Kalijaga. Begitu juga semerawutnya kendaraan bermotor yang parkir di antara tempat berjualan.
Sesuai nama dan fungsinya, terang mantan camat Grabagan itu, CFD harus bebas dari seluruh kendaraan bermotor. Jalan pun ditutup total hanya untuk pejalan kaki, sepeda, pedagang, dan aktivitas lain. ''Kalau ini sudah menyebut CFD ya tutup total,'' tegas dia.
Gunadi kemudian mencontohkan CFD di Banyuwangi. Di sepanjang jalan di kawasan hari bebas berkendaraan tersebut tidak hanya marak dengan aktivitas masyarakat yang bersantai, berolahraga, dan berpedagang, namun juga beragam kegiatan.
Untuk mengisi kegiatan di CFD, kata dia, pemkab setempat menginstruksikan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bergantian menggelar kegiatan.
Di Bumi Wali, kata Gunadi, kawasan CFD kurang dimanfaatkan instansi pemerintah. Dia kemudian mencontohkan beragam lomba yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Tuban pada peringatan Hari Kunjung Perpustakaan dan Bulan Gemar Membaca. Menurut dia, kalau lomba selama tiga hari (17―19 September) tersebut digelar pujasera, kompleks CFD atau di Jalan Sunan Kalijaga tentu lebih semarak. Dan, tentu saja lebih menghidupkan CFD.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Tuban Agus Wijaya mengatakan, kritik dishub tersebut menyemangati institusinya untuk mengembalikan fungsi CFD. Dikatakan dia, sebelum puasa tahun lalu, institusinya selaku pembina pedagang CFD berusaha mengembalikan fungsi CFD.
Ketika itu, seluruh akses kendaraan bermotor pengunjung menuju area CFD ditutup total. Dari timur, dipasang barikade di barat kantor Kecamatan Tuban. Begitu juga di Jalan Walisanga dan mulut-mulut gang di sepanjang CFD. Di titik-titik barikade tersebut, ditempatkan petugas dari dinas perhubungan (dishub) dan satpol PP.
Langkah mengembalikan CFD sesuai lazimnya, kata mantan kabag humas dan media pemkab setempat itu, mendapat dukungan dari paguyuban pedagang. Mereka menyisihkan sebagian iuran untuk memberikan dana transport plus konsumsi kepada petugas dari dua instituti tersebut.
Kondisi bebasnya CFD dari kendaraan bermotor, seingat Agus, hanya berlangsung sebulan. Setelah Lebaran, kondisi CFD kembali sedia kala. Ditanya pemicu CFD tidak bebas dari kendaraan, Agus menegaskan tergantung dari konsistensi aparat dari dishub dan satpol PP.
Di bagian lain, dia juga menyoroti ''sepinya'' kehadiran pemerintah di CFD. Idealnya, menurut mantan camat Montong itu, pemerintah bisa memanfaatkan berkumpulnya banyak orang untuk menyosialisasikan programnya. Seperti dilakukan diskoperindag dengan mengedukasi wirausaha kepada mahasiswa dan pelajar melalui peminjaman tenda untuk berjualan. ''Kalau mau dikembalikan seperti CFD pada umumnya, mari ditata bareng-bareng,'' tegas dia.
Editor : M. Yusuf Purwanto