Kebakaran Pasar Ngawen Petugas 11 Jam Berjibaku dengan Api,Kerugian Ditaksir Rp 30,69 Miliar
Hakam Alghivari• Kamis, 11 Januari 2024 | 19:39 WIB
PENYELIDIKAN: Tim Inafis Polres Blora masih melakukan penyelidikan serta olah TKP di lokasi kebakaran Pasar Ngawen kemarin (10/1). (LUKMAN HAKIM/RADAR BLORA)
BLORA, Radar Bojonegoro - Api yang melahap bangunan Pasar Ngawen baru bisa dinyatakan aman setelah petugas pemadam kebakaran (damkar) berjibaku dengan api selama 11 jam lebih. Mulai pukul 14.30 WIB hingga pukul 01.00 WIB kemarin (10/1).
Terkendala material susah dipadamkan dengan air. Kerugian ditaksir mencapai Rp 30,69 miliar. Sementara, untuk penyebab kebakaran belum bisa dipastikan. Sebab, hingga siang kemarin (10/1), pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan di lokasi kebakaran. Garis polisi telah dipasang untuk mengamankan sekitar lokasi diduga awal mula api berkobar.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Blora Pujo Catur Susanto menerangkan, petugas damkar bersama elemen lain turut membantu memadamkan api hingga dini hari. Empat mobil damkar dikerahkan. Ditambah dua mobil damkar dari Grobogan dan Rembang.
Dibantu mobil tangki air sebanyak sepuluh unit. ’’Kami nyatakan aman pukul 01.00 WIB. Kami mulai (pemadaman) pukul 15.30 WIB,” ujarnya. Pujo menjelaskan, walapun sudah dinyatakan aman, api masih tersisa di beberapa titik.
Karena petugas sudah kelelahan dan api tersisa tidak membahayakan. Akhirnya, diputuskan pemadaman dilakukan kemarin pagi (10/1). ’’Semalam sudah sangat larut, petugas juga sudah kelelahan dan api sudah tidak membahayakan karena terkurung bangunan besi, diputuskan diselesaikan paginya,” terangnya.
Pihaknya mengungkapkan, lamanya proses pemadaman karena terjadi angin kencang. Petugas kesulitan memotong api yang bertambah besar. Selain itu, karena ada bahan yang terbakar tidak bisa dipadamkan dengan air. Yakni, berupa karbit. Semakin disiram air, malah meledak.
Ia menambahkan, alat pemadam api ringan (APAR) di kantor pasar tidak mampu memadamkan api.
Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menengah (Dindagkop UKM) Blora Kiswoyo menyampaikan, bila ditaksir kerugian sebesar Rp 30,69 miliar. Rinciannya, nilai bangunan Rp 15,5 miliar, kerugian 60 pedagang kios Rp 608 juta, kerugian 800 pedagang los Rp 14,29 miliar, serta kerugian 150 pedagang dasaran Rp 300 juta.
’’Penyebab kebakaran sementara diduga pedagang menyalakan lilin saat pemadaman listrik. Namun, lupa dipadamkan, ditinggal pulang. Tapi, penyebab resmi kami menunggu hasil olah TKP yang masih dilakukan pihak kepolisian,” jelasnya.
Ia menerangkan, titik kebakaran berada di Blok A hingga Blok X dan Blok Z. Jumlah lapak dagangan yang terbakar sebanyak 800 lapak pedagang los, 150 lapak pedagang pelataran dan 60 kios dinyatakan hangus. Adapun 71 kios terdampak rusak berat dan ringan.
Sementara itu, Kapolsek Ngawen Lilik Eko Sukaryono mengatakan, guna kemanan warga, garis polisi sudah dipasang. Hingga siang kemarin (10/1), polisi belum bisa menentukan penyebab pasti kebakaran. Pihaknya masih dalam proses penyelidikan di sekitar lokasi kejadian.
’’Masih proses penyelidikan, kami imbau kepada warga agar tidak masuk kedalam area yang sudah diberi garis polisi,” terangnya. (luk/bgs)
PEMADAMAN: Kondisi Pasar Ngawen kemarin (10/1), masih menyisakan asap keluar dari sisa-sisa reruntuhan yang hangus terbakar. (RAHUL OSCARRA DUTA/RADAR BLORA)
Gerak Cepat, Bupati Wadul Pusat
Upaya Forkopimda Blora terhadap kebakaran Pasar Ngawen dipercepat. Sebab, banyak warga mendesak mendapatkan pertolongan. Khususnya, pedagang yang terdampak. Gerak cepat Bupati Blora Arief Rohman pun tak main-main
Dirinya langsung tancap gas ke lokasi setelah kunjungan di Jakarta kemarin siang (10/1). Saat itu juga, ia juga langsung wadul ke Direktur Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk segera mengatasi permasalahan itu.
Bupati Blora, Arief Rohman mengatakan, ia langsung menelepon Direktur Kemendag yang ternyata rekan sejawatnya. ’’Ini saya langsung wadul orang pusat. Kebetulan orang Blora juga. Kami minta bantuannya. Karena anggaran pembangunan pasar ini kan banyak ya,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan, dalam sambatannya itu, bantuan pembangunan pasar tersebut nantinya bakal dibantu Kementerian PUPR. ’’Dulu pembangunannya Pasar Ngawen ini kan dibantu. Sekarang, kami juga mohon bantuannya lagi. Pembangunannya nanti koordinasi dengan Kementerian PUPR,” tuturnya.
Saat ditanyai soal relokasi oleh Jawa Pos Radar Bojonegoro, dirinya menyampaikan masih perlu koordinasi dengan pihak terkait. Sebab, perlu pertimbangan. ’’Relokasinya nanti menggunakan lapangan di Ngawen. Tapi, masih dirakorkan dulu. Intinya, harus gerak cepat,” ungkapnya.
’’Di samping itu, pihak kepolisian biar menyelesaikan penyelidikannya dulu, setelah itu beres dibersihkan, segera dibangun ulang,” imbuhnya.
Selanjutnya, terkait pedagang yang terdaftar dalam KUR dalam perbankan juga bakal koordinasikan. ’’Soal itu, nanti dikoordinasikan juga dengan perbankan. Didata bersama. Jangan sampai memberatkan pedagang,” tegasnya. (hul/bgs)
Pedagang Ingin Relokasi
Setidaknya ratusan lapak di Pasar Ngawen ludes dilahap si jago merah. Walau begitu, pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro saat di lokasi, masih terdapat pedagang berjualan di tengah evakuasi berlangsung kemarin (10/1). Para pedagang pun berharap segera relokasi.
Supriyanti salah satu pedagang los yang masih berjualan mengatakan, berharap segera ada bantuan untuk para pedagang. Sebab, menurutnya, ini satu-satunya mata pencaharian. ’’Mohon dibantu aja. Misal dipindah sementara, nggih monggo. Tolong disampaikan, karena ini juga kasihan teman-teman yang lebih parah. Ada yang ludes ratusan juta,” terangnya.
Pedagang kios terdampak, Shokheh berharap segera ada bantuan. Diketahui, tiga kios dagangannya ludes terbakar. Menurutnya, kerugian yang dialami ditaksir ratusan juta. ’’Sedih banget. Tiga-tiganya ludes bles. Kerugiannya kira-kira ya Rp 500 juta. Segera dibantu lah untuk para pedagang ini,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Dindagkopukm Blora Kiswoyo mengatakan, pihaknya tengah mencari jalan keluar terkait bencana tersebut. Bersama dengan stakeholder dan forkopimda. Pihaknya pun gerak cepat memberikan bantuan instan.
’’Kami sudah sediakan sembako, langsung turun lapangan bareng forkopimda dan dinas lain. Baznas juga sudah bantu. Dinsos juga sudah buka dapur umum,” jelasnya.
Terkait relokasi, dirinya belum berani memutuskan. Sebab, perlu adanya rapat koordinasi dengan pihak-pihak terkait. ’’Sudah bilang pak bupati juga. Untuk lapangan yang mau dibuat sementara juga menunggu persetujuan camat setempat. Secepatnya lah, karena untuk masyarakat,” tuturnya. (hul/bgs)
Mengais Harapan dari Sisa-Sisa Kebakaran
Duka mendalam tercermin dari raut muka para pedagang Pasar Ngawen usai kebakaran hebat kemarin (10/1). Bagi pemilik dagangan yang ludes terbakar hanya bisa pasrah. Sebagian lagi mengais barang dagangan yang masih tersisa.
Seperti halnya Kasrini, pedagang sembako saat ditemui Jawa Pos Radar Bojonegoro tampak masih syok dengan kejadian kebakaran kemarin (91). Jari jemarinya menggenggam sisa beras di lapak yang hangus terbakar. Dengan perlahan genggamannya itu dimasukkan ke dalam kantong plastik.
’’Masih tidak menyangka, kalau kebakarannya sampai segini. Ini ambil beras yang masih bisa dibawa pulang, untung-untung bisa dibuat makan ternak,” ungkapnya sambil mengais beras yang terbakar.
Saat pasar dilalap api, dirinya sudah pulang. Ia mendapat kabar saat sampai di rumah sekitar pukul 14.15 WIB. Dirinya tidak sempat mengamankan dagangannya. Karena saat menjenguk lapaknya, api sudah mulai membesar. Dirinya hanya bisa pasrah.
’’Ya diikhlaskan, memang musibah. Saya pun kaget saat dikabari pasar terbakar,” ucap ibu asal Desa Begajing, Kecamatan Japah tersebut.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro di lokasi pada pukul 07.10 WIB kemarin, tampak kepulan asap masih menyembul di beberapa titik kebakaran. Warga berduyun-duyun mendatangi lokasi, melihat hamparan bangunan yang hangus terbakar.
Puji Handayani, pedagang pakaian yang usahanya ludes terbakar juga tampak menabahkan diri. Ia memandangi hamparan pasar sudah luluh lantah. Matanya berkaca-kaca, namun tak meneteskan air mata.
Saat kebakaran terjadi, dirinya juga sudah pulang. Karena saat itu terjadi pemadaman listrik. ’’Saya sudah pulang, karena listrik padam. Banyak pedagang yang sudah pulang saat kebakaran,”ucapnya.
Tak ada satupun pakaian yang dijualnya terselamatkan. Dirinya menaksir kerugian sekitar Rp 200 juta. Puji sendiri sudah berjualan sejak pasar belum mengalami pembangunan pada 2016 lalu. (luk/bgs)