Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tren Wisata Kapal Pesiar ke Antartika Diprediksi Tetap Bakal Meningkat, Meski Hantavirus Meledak

Bhagas Dani Purwoko • Selasa, 12 Mei 2026 | 19:22 WIB
HANTAVIRUS: Tren pariwisata kapal pesiar menuju Antartika diprediksi tetap bakal meningkat.
HANTAVIRUS: Tren pariwisata kapal pesiar menuju Antartika diprediksi tetap bakal meningkat.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sebuah peringatan keras muncul dari wilayah paling terisolasi di bumi. Sebanyak 29 negara kini berkumpul di Jepang untuk merancang aturan yang lebih ketat bagi industri pariwisata Antartika menyusul wabah Hantavirus mematikan di kapal pesiar Hondius yang menewaskan tiga orang.

Hingga Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi lima kasus positif dan tiga kasus terduga lainnya, termasuk seorang warga negara Inggris di wilayah terpencil Tristan da Cunha. 

Lonjakan jumlah turis yang mencapai lebih dari 117.000 pengunjung pada 2025 dinilai telah melampaui kapasitas perlindungan alami ekosistem kutub, sehingga memicu desakan perlunya regulasi wajib, termasuk kemungkinan pengenaan biaya masuk seperti di Kepulauan Galapagos.

Tragedi di Kapal Pesiar Mewah: Harga Mahal untuk Sebuah Risiko

Dilansir dari laman Marine Link, para pencari petualangan rela merogoh kocek hingga 16.950 Euro (sekitar Rp290 juta) untuk menikmati kemewahan Grande Suite di kapal pesiar menuju Semenanjung Antartika. Namun, perjalanan yang dijanjikan sebagai "Petualangan Atlantik" ini berubah menjadi mimpi buruk medis.

Baca Juga: Kasus Hantavirus Meledak 200% di Argentina, Apa yang Terjadi?

Wabah di atas kapal berbendera Belanda tersebut terjadi hanya beberapa hari sebelum pertemuan internasional di Jepang dimulai. Fokus utama pertemuan ini adalah mengevaluasi apakah Sistem Perjanjian Antartika yang ada saat ini masih cukup kuat untuk membendung risiko polusi dan penyakit.

"Tentu saja, sekarang, setelah apa yang telah terjadi, akan ada kebutuhan untuk memperbarui pedoman medis mereka," kata Amy White, wakil presiden di VIKAND Solutions, penyedia layanan medis maritim.

Booming Pariwisata: Tumbuh Tanpa Rencana?

Dalam satu dekade terakhir, jumlah pengunjung ke Antartika meledak tiga kali lipat. Kekhawatiran terbesar para ahli bukanlah pada angka tersebut, melainkan pada ketidaksiapan sistem pendukungnya.

Claire Christian, Direktur Eksekutif Antarctic and Southern Ocean Coalition (ASOC), memberikan kritik tajam: "Saya pikir kesenjangan utamanya adalah tidak adanya rencana untuk pertumbuhan tersebut. Diperlukan regulasi yang lebih komprehensif dan wajib."

Ekosistem Rapuh yang Mulai Retak

Pariwisata Antartika terkonsentrasi di garis pantai Semenanjung Antartika, tempat satwa liar seperti penguin, singa laut, dan paus berkumpul. Kehadiran manusia yang masif membawa ancaman spesies invasif dan patogen baru ke lingkungan yang selama ini terisolasi.

Baca Juga: 23 Kasus Hantavirus Terdeteksi Sejak 2023, Jumlah Kasus Terbanyak di Jakarta!

Prishani Vengetas, dokter hewan konservasi dari World Wildlife Fund (WWF), memperingatkan bahwa populasi satwa liar Antartika sudah berada di bawah tekanan besar akibat perubahan iklim.

"Semakin kita terlibat dan memberi tekanan pada sistem itu, semakin kita akan merusak perlindungan alami populasi tersebut," tegasnya.

Babak Baru: Akankah Ada 'Tiket Masuk' Antartika?

Selama ini, aturan pariwisata sebagian besar ditentukan oleh industri itu sendiri melalui badan IAATO. Meskipun IAATO mengeklaim telah menerapkan protokol ketat, seperti disinfeksi pakaian dan jarak minimum dengan satwa, banyak pihak menilai swaregulasi saja tidak cukup.

Dalam pertemuan di Jepang minggu depan, beberapa opsi radikal akan dibahas:

  1. Biaya Masuk Wajib: Dana tambahan untuk konservasi, meniru model Venesia dan Galapagos.

  2. Kuota Pengunjung: Membatasi jumlah orang yang boleh turun ke daratan.

  3. Audit Pemerintah: Mengalihkan wewenang penegakan aturan dari industri ke pemerintah negara peserta perjanjian.

Informasi Tambahan dan Referensi

Untuk memahami lebih dalam mengenai protokol kesehatan global di wilayah maritim, Anda dapat merujuk pada pedoman resmi World Health Organization (WHO) atau melihat standar lingkungan yang ditetapkan oleh IAATO. Studi mengenai dampak aktivitas manusia terhadap patogen di kutub juga dapat ditemukan melalui pangkalan data Nature Portfolio.

Baca Juga: Kemenkes Sebut 23 Warga Indonesia Terserang Hantavirus dalam Waktu 2 Tahun, Kenali Gejala dan Pencegahannya Sejak Dini

Meskipun industri pariwisata menyatakan mereka beroperasi dalam kerangka berbasis sains untuk meminimalkan dampak, tragedi Hondius menjadi pengingat pahit: di Antartika, alam tidak memberikan toleransi bagi kesalahan sekecil apa pun. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#hantavirus #antartika #hondius #Wisata #Kapal Pesiar