RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Peringatan wafatnya Yesus Kristus diperagakan secara visual oleh para umat Katolik di Gua Maria, Sendanghajo Wireskrat Blora kemarin (18/4). Jalan salib yang ditempuh Yesus diperankan oleh pemuda dan umat Katolik, dengan 14 stasi yang menggambarkan perjalanan Yesus hingga proses pemakaman.
Agenda tersebut menyedot animo masyarakat sekitar, terutama umat Katolik yang sedang memperingati wafatnya Yesus Kristus. Seorang memperagakan yesus yang disalib, dan beberapa orang lainnya sebagai orang yang menyiksa dan menagkap Yesus. Setelah prosesi selesai, para umat katolik menjalankan ibadah Jumat Agung.
Romo Kepala Paroki Santo Pius X Blora Benediktus Prima Novianto Saputro menyampaikan, para pemeran visualisasi Jalan Salib sudah mempersiapkan diri sejak dini hari pukul 04.00 WIB.
Beberapa adegan diperankan dengan baik. Sehingga, memukau umat yang menyaksikan. Pertunjukan tersebut merupakan usaha untuk merenungkan sabda tuhan. ’’Hal ini bisa membantu kita semua (umat katolik) untuk memahami betapa besar cinta Tuhan kepada kita,” tuturnya dalam sambutannya di Gua Maria.
Spirit religius dan keimanan umat katolik di Blora terus dipupuk dengan visualisasi Jalan Salib. Ada 14 perhentian atau stasi Jalan Salib. Yaitu, Yesus dijatuhi hukuman mati. Yesus memanggul salib. Yesus jatuh untuk kali pertama. Yesus berjumpa dengan ibu-Nya. Yesus ditolong oleh Simon dari Kirene. Wajah Yesus diusap oleh Veronika.
Yesus jatuh untuk kedua kalinya. Yesus menghibur perempuan-perempuan yang menangisi-Nya. Yesus jatuh untuk ketiga kalinya. Pakaian Yesus ditanggalkan. Yesus disalibkan. Yesus wafat di kayu salib. Yesus diturunkan dari salib. Yesus dimakamkan.
Koordinator Visualisasi Jalan Salib Maximiana Pancastuti, menjelaskan persiapan dilakukan lebih kurang satu bulan, melibatkan Orang Muda Katolik (OMK), ketua lingkungan, kategorial dan beberapa umat katolik.
Prosesi visualisasi memakan waktu sekitar 1 jam lebih 15 menit. Ada perbedan, tahun lalu dilaksanakan di gereja, dua tahun lalu di Wireskat, tetapi melewati Jalan Salib. ’’Tahun ini kami buat beda karena hanya melewati jalan utama saja, tapi rangkaian peristiwanya hampir sama,” ucapnya. (luk/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana