Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Wisata Edukasi Gerabah di Desa Balong: Bermain Tanah, Bawa Pulang Karya

Achmad Syaeroyzi • Minggu, 28 Juni 2026 | 08:00 WIB
TELATEN: Susanto menunjukkan cara pembuatan berbagai macam gerabah kepada para siswa yang datang. (IST./RDR.BJN )
TELATEN: Susanto menunjukkan cara pembuatan berbagai macam gerabah kepada para siswa yang datang. (IST./RDR.BJN) 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tangan-tangan mungil itu tampak belepotan tanah liat. Ada yang sibuk memutar meja kayu, ada pula yang keningnya berkerut serius demi membentuk sebuah celengan berbentuk karakter animasi. 

Riuh tawa bocah-bocah setingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama (SMP) riuh rendah memenuhi ruangan. Suasana hidup itulah yang kini menjadi pemandangan karib di Griya Kramik Balong, yang terletak di Desa Balong, Kecamatan Jepon, Blora. 

(ISTIMEWA)
(ISTIMEWA)

Tempat ini bukan sekadar gerai pajangan tempat transaksi jual-beli gerabah sepi senyap. Lebih dari itu, ia telah bermetamorfosis menjadi ruang kelas alam, sebuah destinasi wisata edukasi favorit bagi para pelajar. 

Baca Juga: Cerpen Radar Bojonegoro: Ritus Penghancuran Berhala Diri oleh Suharsono

‘’Anak-anak kami ajari membuat celengan, cobek, sampai mewarnainya. Kalau mereka ingin belajar lebih jauh, kami dampingi sampai proses finishing,’’ ujar Pengelola Griya Kramik, Susanto.

Bagi yang penasaran dan ingin menyelami seni mengolah tanah liat ini lebih dalam, Susanto dan timnya siap sedia mendampingi. ‘’Kalau mereka ingin belajar lebih jauh, kami dampingi terus sampai proses finishing,’’ imbuhnya.

Baca Juga: 7 Hidden Gem Soto Ayam Enak di Surabaya Ini Harganya Mulai 10 Ribuan Aja

Merintis usaha sejak 2013, langkah kaki Susanto menemui babak baru saat bangunan pusat edukasi dan produksi resmi berdiri pada 2017. Sejak saat itu, tempat ini nyaris tak pernah sepi. Kunjungan biasanya melonjak drastis saat kalender akademik memasuki masa jeda pembelajaran atau pertengahan semester.

Meski peminat edukasi terus mengalir, Susanto tak menampik adanya tantangan klasik. Bahan baku tanah liat yang kini mulai sulit diperoleh di pasaran. Beruntung, skala produksi edukasi ini tidak sekolosal para perajin genteng.

Alhasil, pasokan masih aman terkendali. Sebagian besar tanah liat andalan didapatkan dari area persawahan di Desa Balong sendiri, walau sesekali mereka harus berburu dan membeli dari luar daerah.

Baca Juga: Banyak Orang Fokus pada PK AC, Padahal Fitur Ini Justru Lebih Berpengaruh ke Tagihan Listrik

Sembari sibuk memandu anak-anak sekolah, napas bisnis Griya Kramik Balong tetap berdenyut kencang di ranah digital. Mereka getol memasarkan aneka produk secara online. Pesanan yang datang pun beragam dan dinamis mengikuti selera pasar, mulai dari asbak minimalis, vas bunga estetik, hingga suvenir berbentuk karakter animasi yang digandrungi anak muda.

Mengingat tingginya antusiasme, Susanto menyarankan agar rombongan sekolah yang ingin datang berkunjung melakukan reservasi via WhatsApp minimal satu minggu sebelumnya. 

Aturan ini dibuat bukan tanpa alasan. Pengelola butuh waktu presisi untuk menyiapkan seluruh bahan baku dan perlengkapan praktik, agar pengalaman belajar anak-anak berjalan maksimal. Apalagi, paket edukasi yang ditawarkan terhitung sangat ramah di kantong. 

‘’Untuk paket edukasi sebanyak 50 peserta, biaya dipatok Rp 20 ribu per anak. Seluruh hasilnya dapat dibawa pulang,’’ terangnya. 
Dari sebongkah tanah liat yang kotor, anak-anak pulang membawa pulang sebuah karya, lengkap dengan memori masa kecil tentang indahnya melestarikan warisan tradisi. (ozi/ind)

Editor : Hakam Alghivari
#Wisata #Edukasi #Balong #gerabah #blora