Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Nostalgia di Jembatan Lori Pengangkut Kayu Buatan Belanda

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 28 Oktober 2023 | 21:13 WIB
KOKOH: Seno menunjukkan kondisi jembatan kereta lori yang dibuat pada zaman kolonial Belanda. Seno merasa bernostalgia, karena semasa kecil rel itu masih dilintasi kereta bermesin uap. (LUKMAN HAKIM/R
KOKOH: Seno menunjukkan kondisi jembatan kereta lori yang dibuat pada zaman kolonial Belanda. Seno merasa bernostalgia, karena semasa kecil rel itu masih dilintasi kereta bermesin uap. (LUKMAN HAKIM/R

 

BLORA, Radar Bojonegoro - Jembatan kereta lori zaman kolonial Belanda di Kelurahan Sorogo, Kecamatan Cepu jadi saksi bisu aktivitas pengangkutan kayu antara Cepu, Blora-Batokan, Bojonegoro. Besi jembatan tampak masih kokoh. Namun, bantalan rel mulai lapuk. Beberapa ada yang sudah patah.

Seno salah satu warga sekitar lokasi jembatan selalu teringat cerita ibunya saat masih kecil, bahwa jembatan itu sudah dibangun sejak zaman Belanda. Dirinya sendiri sempat merasakan sekitar 2003 lalu, kereta stoomtram kayu masih melintas.

‘’Saya saat itu masih sekolah, sekitar 2003 terakhir stoomtram kayu dengan mesin uap melintas. Kalau usia ibu saya sekarang 70 tahun, berarti jembatan sendiri sudah 100 tahun lebih,” ungkapnya sambil menunjuk bagian demi bagian jembatan tersebut.

Dikutip dari koran Hindia Belanda de locomotife, transportasi di Cepu mulai berkembang pesat sejak dua perusahaan Semarang Joana Stoomtram (S.J.S) dan Nedherlansch Indische Spoorweg (N.I.S) membangun dan mengoperasikan stasiun di kawasan Cepu sekitar 1901-1902.

Sementara, dikutip dari dokumen Pemkab Blora, pembangunan jalur loco dilakukan pada 1915 silam. Saat ini, kondisi bangunan jembatan kereta lori pengangkut kayu jati itu masih digunakan untuk perlintasan kereta pengangkut wisatawan.

Seno merasa bernostalgia saat melihat kereta melewati rel lama tepat di depan rumahnya itu. Pada tahun 2000-an, masih banyak turis mancanegara berkunjung. ‘’Nostalgia, dahulu saat kecil banyak turis datang, rerata dari Inggris dan Jerman, sekarang sudah tidak ada,” terangnya.

Menurut Seno, kemungkinan kereta stoomtram kayu tidak melintas lagi karena terlalu berat. Sedangkan, beberapa bantalan rel ada yang patah. Selain itu, bibir anak sungai acap kali tergerus longsor. Sehingga, saat ini yang melintas jembatan Belanda itu hanyalah kereta berbahan bakar solar, bernama Ruston.

Trayek rel kereta yang terhubung Heritage Trainz Loco Tour itu menjadi kesan tersendiri baginya. Seno berharap akan ada lagi turis datang menaiki kereta tua dan melintas di depan rumahnya.

Saat ini, kereta-kereta diparkir di Wisata Loco Tour yang dikelola Perhutani KPH Cepu. Difungsikan saat wisatawan menyewa kereta. ‘’Dari loco tour (Jalan Sorogo, Cepu) sana mentok sampai TPK Batokan (Kasiman, Bojonegoro). Lalu, kembali lagi, jarak yang ditempuh dua sampai tiga kilometer,” katanya. (luk/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#hindia belanda #lori #Loco Tour #stoomtram #jembatan #belanda #cepu #loco #Kolonial Belanda #kayu #bojonegoro #heritage #nostalgia #Pemkab Blora #kereta #blora