HUJAN turun membungkus seluruh kota. Kilau tajam petir dan gelegar guntur menghiasi awal malam. Pukul sepuluh, aku menikmati hujan malam yang deras itu dengan membaca novel dan secangkir teh hangat di meja belajarku. Sungguh nikmat sekali, ya memang ini adalah zona nyaman terbaikku.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kamarku.
“Tok-tok-tok, nak tolong buka pintunya.”
Ternyata suara Ayah yang mengetuk pintu dan memanggilku, aku pun segera membukakan pintu. Tn terlihat sambil membawakan nasi goreng. Tepat sekali aku masih belum makan malam dari tadi. Eh, tapi kok Ayah membeli nasi goreng tiga bungkus.
“Satu bungkus itu buat siapa, Yah?” tanyaku.
“Oh ini buat Ibumu yang ada di rumah sakit, apa kau bisa mengantarkan makanan ini ke Ibumu nak. Karena Ayah setelah selesai makan langsung berangkat kerja. Mungkin bakal pulang pagi.” jawabnya dan menyuruhku mengantarkan nasi goreng untuk Ibu di rumah sakit.
‘’Iya baiklah Yah, nanti aku antar makanan Ibu pukul sebelas.” aku langsung mengiyakan permintaan ayah.
Setelah selesai makan aku langsung berganti pakaian dan mengenakan jas hujan, karena hujannya semakin deras. Ketika motor kunyalakan bulu kudukku langsung merinding entah apa yang terjadi serasa ada yang mengintip di balik pohon mangga sebelah rumah.
Seketika aku mencoba perhatikan sosok di balik pohon mangga itu. Terlihat sosok perempuan berbaju putih sedang menyisir rambutnya sambil menatapku dengan wajah tersenyum.
Aku yang sudah semakin merinding melihat sosok itu langsung tancap gas, karena kondisi di kampungku sudah sepi sekali. Tidak ada orang yang lewat sama sekali.
Ketika sudah melewati gang kampung, jok belakang sepeda motorku terasa cukup berat, padahal itu kosong. Aku merasa ada firasat aneh, seperti ada yang ikut bonceng.
Takut untuk menoleh ke belakang, aku mencoba untuk menengok lewat kaca spion. Betapa kagetnya aku melihat sosok perempuan kulihat di balik pohon mangga tadi ikut bonceng di jok belakang dengan rambut yang menutupi wajahnya. Aku yang sudah sangat takut langsung ngebut agar cepat sampai ke rumah sakit.
Di tengah perjalanan, aku melihat ada masjid dan memutuskan untuk berhenti sejenak untuk menenangkan pikiran sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah sakit yang jaraknya tinggal 2 kilometer lagi.
Tiba-tiba ada seseorang menghampiriku dan bertanya.
“Mas, tadi kamu sadar ada perempuan berbaju putih ikut bonceng?” tanya orang itu kepadaku.
“Eh, mas kok tahu?”
“Iya, tadi aku lihat saat kamu mau belok ke masjid dan tiba-tiba sosok perempuan itu langsung hilang ketika kamu masuk area masjid ini.” ujarnya.
“Saya sudah merasa ada firasat tidak baik, ketika melihat sosok perempuan di balik pohon dengan wajah tersenyum melihat ke arah saya saat mau berangkat menuju rumah sakit.” jelasku.
“Sekarang mas sementara tenangkan pikiran dulu, jika sudah tenang bisa melanjutkan perjalanan lagi. Saya pulang dulu ya mas, hati-hati di jalan.”ucapnya.
Sekitar 30 menit kemudian dan jam sudah pukul 23.35, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah keluar dari area masjid, aku sudah tidak merasakan diikuti oleh sosok perempuan tadi dan sedikit membuatku tenang.
Akhirnya aku sampai di rumah sakit dan terlihat sudah sepi tetapi lampu masih menyala, biasanya jam 11 lebih lampu sudah dimatikan. Aku langsung masuk dan mencari perawat agar tahu di mana kamar ibu berada.
Tetapi, aku tidak melihat sama sekali ada orang yang lewat di rumah sakit dan mencoba memutuskan untuk mencari sendiri.
Aku sudah diberitahu oleh ayah, nomor kamar ibu yaitu A-24. Sepertinya akan butuh waktu lama untuk mencari apalagi rumah sakit ini luas.
Lantai satu sudah aku telusuri semuanya dan aku masih belum menemukannya. Sudah 15 menit aku berkeliling di lantai satu dan aku memutuskan untuk mencari di lantai selanjutnya.
Saat aku mau menaiki tangga menuju lantai dua, terdengar ada suara anak kecil sepertinya memanggilku dari arah belakang.
‘’Kakak, mau kemana……aku ikut dong.”
Baca Juga: Mimpi Qarib
Ketika mendengar suara itu, refleks menoleh ke belakang. Tetapi, saat aku menoleh ke belakang betapa terkejutnya, melihat ada anak kecil kepalanya berlumuran darah duduk di kursi roda sambil melambai-lambaikan tangannya ke arahku.
Tatapannya yang mengerikan itu hampir membuatku pingsan. Tetapi aku bergegas balik badan dan cepat bergegas menaiki tangga.
Saat sudah sampai di lantai dua, aku berdoa semoga saja bertemu dengan salah satu perawat agar bisa cepat menemukan kamar Ibuku. Hampir setengah jam aku menelusuri lantai dua tetapi aku masih belum menemukan kamar itu dan tidak ada satupun orang yang lewat.
Saat mau perjalanan menuju lantai tiga, yaitu lantai terakhir, tidak sengaja aku melihat dari arah kejauhan. Terlihat ada seseorang memakai jas hitam sedang menatap pintu kamar jenazah dengan tatapan kosong dan wajah pucat. Aku yang sudah berpikiran aneh-aneh memutuskan untuk tidak menghampiri orang tersebut.
Takutnya nanti malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena aneh saja sudah tengah malam ada orang yang sedang menatap pintu kamar jenazah dengan tatapan kosong dan wajah pucat. Mungkin saja itu sosok penunggu di lantai dua ini, aku tanpa pikir panjang langsung melanjutkan menuju lantai tiga.
Di lantai tiga, akhirnya aku bertemu dengan perawat yang lewat, aku langsung menanyakan dimana kamar Ibuku.
“Iya mas, ada yang bisa saya bantu?” tanya perawat tersebut.
“Saya mau tanya, kamar nomor A-24 itu di mana ya? Soalnya saya dari tadi sudah cari dari lantai 1 dan 2 tetapi masih belum ketemu.” jawabku.
“Kamar A-24 itu ada di lantai tiga, ikuti saya mas. Saya tunjukkan kamarnya.” ucap perawat tersebut.
Akhirnya aku sudah sampai di kamar Ibu dan berterima kasih kepada perawat yang sudah membantuku itu.
Aku membuka pintu kamar itu dan terlihat Ibu sedang menonton televisi. Ibu menoleh ke arahku, setelah itu langsung bertanya.
“Nak, kenapa kamu datangnya lama sekali. Apakah ada masalah di perjalanan?” tanya Ibu.
“Ah engga kok Bu, cuma bingung saja cari kamar Ibu di mana apalagi tadi saat aku sampai rumah sakit sudah sepi. Jadi aku terpaksa mencari sendiri. Untungnya pas sampai di lantai tiga ketemu dengan salah satu perawat yang lewat dan akhirnya aku menemukan kamar ibu.” jawabku.
‘’ Syukurlah kalau kamu baik-baik saja nak, terima kasih ya sudah mau menjenguk Ibu.”ucap Ibu.
“Iya Bu,aku ditugaskan Ayah untuk menjaga Ibu semalaman ini dan besoknya Ayah datang ke sini menggantikanku.”
Aku tidak menceritakan kejadian sebenarnya kepada Ibu. Takutnya nanti membuat Ibu kepikiran yang aneh-aneh dan sekarang aku memutuskan untuk tidur di sofa sambil menonton pertandingan sepak bola agar melupakan kejadian seram tadi.
Keesokan harinya, aku mendapatkan telepon dari Ayah.
“Nak, nanti pukul 10 Ayah datang ke rumah sakit.”
“Baik, kalau bisa secepatnya yah. Soalnya aku ada tugas yang belum kukerjakan.”
“Oke kalau begitu nak, maaf ya membuatmu repot. Kemarin malam kamu baik-baik saja kan?”tanya Ayah.
“Tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja. Cuma kemarin kebingungan mencari kamar ibu.”jawabku.
Akhirnya pukul 10 Ayah datang dan aku pun langsung pulang ke rumah, karena sudah tidak sanggup berlama-lama di rumah sakit ini semenjak kejadian yang kualami tadi malam. (*)
*Kevin Dias Syahputra
Menyukai sastra. Alumni SMAN 3 Mojokerto