Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Mimpi Qarib

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 2 Juli 2023 | 18:45 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

MIMPI yang dialami Qarib menjelang Subuh kemarin itu masih terbayang-bayang di pelupuk matanya. Antara sadar dan tidak, ia melihat perintah itu jelas di hadapannya.  Lelaki dengan memakai jubah putih itu tiba-tiba datang mendekatinya.

Tubuhnya penuh dengan kilauan cahaya. Tak lama berselang Ia  memerintahkan Qorib agar bersegera melaksanakan ibadah kurban. Setelah menyampaikan perintah tersebut, tak lama sinar cahaya kemilauan itu melesat lewat jendela rumahnya. Kemudian menghilang ditelan kesunyian malam.

Tubuh Qarib malam itu tampak gemetaran. Ia tak mampu berucap apa-apa. Sekujur tubuhnya keluar keringat dingin. Segera ia terbangun dari tidurnya dan mengambil segelas air putih. Napasnya masih terlihat naik turun seperti habis berlari puluhan kilometer. Dihabiskanya segelas air putih untuk menghilangkan rasa takut. Setelah agak tenang ia mengucapkan istigfar berkali-kali.

Pandangan matanya masih tertuju pada jendela rumahnya. Ia masih berpikir keras tentang keberadaan sesosok cahaya yang menghilang itu. Ia menduga-duga bahwa yang datang adalah malaikat yang turun dari langit. Bukankah di sepertiga malam itu para malaikat turun dan mendoakan bagi hamba yang melaksanakan Salat Tahajjud. Allah akan mengabulkan permintaan hamba apabila ia meminta. Allah juga akan menghapus dosa seorang hamba apabila ia meminta ampun. Allah pula akan mengangkat derajat seorang hamba dan ditempatkan pada maqam yang mulia.

Malam terus merayap melalui pintu rumahnya. Angin perlahan masuk dan mengusap wajahnya dengan lembut. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.00. Qarib segera beranjak ke kamar mandi. Mengambil air wudu lalu menggelar sajadahnya untuk bermunajat kepada sang Khalik.

Terlihat air matanya meleleh dari kedua pelupuk mata. Ia sadar bahwa selama ini ada langkahnya yang salah. Seumur hidupnya belum pernah ia melaksanakan kurban. Padahal ia dianugrahi dengan harta yang berlimpah.

Ia hanya menumpuk-numpuk harta dan memamerkan kekayaannya itu melalui media sosial (medsos). Rumah dan mobil mewah belum mampu membuahkan kebahagiaan. Sebab, kekayaan yang didapatkannya itu bukan diperoleh dari hasil yang halal. Proyek ia kelola sekarang berurusan dengan pihak berwajib. Ditengarai negara mengalami kerugian hampir satu miliar rupiah karena ulahnya.

Qarib sejak dulu dikenal sebagai seorang pekerja keras. Hampir separo hidupnya digunakan untuk mengejar kekayaan. Ia seakan menjadi manusia robot atas perintah keinginan nafsu serakahnya. Ia mengangap harta kekayaan yang diperolehnya itu hasil dari kecerdasan otak dan kemampuan matematikanya.

Harta bagi dirinya adalah segala-galanya. Laksana Qorun yang hidup di zaman nabi Musa, hidup bermewah-mewah dan tidak peduli dengan perintah agama serta lingkungan sekitar. Qorun telah lupa daratan. Ia telah mabuk harta. Harta yang ia kumpulkan itu akhirnya ditelan bumi bersama pemiliknya.

Demikian halnya dengan Qarib. Dahulu, pagi hingga larut malam yang dipikirnya adalah uang semata. Tanpa sedikit pun berkurban demi agama dan lingkungan sekitar. Sedekah untuk dirinya saja kadang ia abaikan.

***

 Baca Juga: Dua Puluh Lima Tahun Kemudian

Di malam yang kedua Qarib dihantui oleh mimpinya lagi. Ia  bermimpi diajak oleh lelaki dengan jubah putih itu ke sebuah padang pasir tandus. Tanpa ada makanan dan sumber mata air. Ia dibiarkan begitu saja oleh lelaki berjubah putih tersebut.

Di antara terik panas gurun pasir, Qarib harus bertahan hidup. Dipandanginya gurun pasir itu dengan perasaan gamang. Ia melihat ke arah kanan bukit. Tampak dari jauh terlihat  samar bayangan mata air. Kemudian ia berlarian mendekat.Ternyata bukan sumber mata air ia dapatkan. Hanya serpihan debu pasir yang melayang terbawa angin.

Akhirnya ia duduk untuk beristirahat. Mengatur napasnya dalam-dalam. Tak berselang lama ia melihat samar bayang air dari bukit di samping kirinya. Ia berlarian kekencang-kencangnya mengambil air tersebut. Setelah sampai di bukit itu, ia tidak mendapatkan air sedikit pun kecuali debu pasir yang tertiup angin.

Hingga berulang kali ia lakukan tetapi hasilnya nihil. Ia merasakan kerongkongannya terasa mulai tercekik. Berharap ada seteguk air untuk menghilangkan dahaganya. Di balik keputusasaan, ia tersungkur di gurun pasir yang tandus.

Ia berteriak keras meminta tolong agar diberikan air minum. Ia hampir pingsan. Teriakannya tak terdengar lagi. Lewat tengah malam ia sadar dan terbangun dari mimpinya. Napasnya ngos-ngosan, mimpi yang barusan dialaminya itu seperti kejadian nyata. Betul-betul terjadi. Segera ia mengambil air minum untuk mengusir dahaga yang masih terasa.

Qarib berjalan ke ruang tamu dan menyulut rokoknya dalam-dalam. Kepulan asap rokok menyebar ke seluruh ruang tamu bersama kekalutan dialaminya. Lagi-lagi ia melihat ke arah jendela dan mencari sesosok lelaki jubah putih tersebut. Ia dibuat penasaran.

Lalu dibukanya pintu rumahnya itu. Ia keluar dan mengamati sekitar. Tidak ada seorang pun yang dijumpai di luar. Hanya  terlihat jalanan agak basah karena guyuran hujan semalam. Di luar masih terlihat gelap. Segera ia tutup kembali pintu rumahnya dan duduk di ruang tamu. Bersama kepulan asap yang terbang, matanya menerawang ke bola lampu. Ia terseret pada pusaran cahaya. Qarib larut dalam cerita pernah didengarnya waktu kecil dahulu. Hampir setiap malam sebelum berangkat tidur. Ibunya selalu menemani dengan kisah para nabi.

Kisah Siti Hajar dan putranya Ismail yang ditinggalkan di gurun pasir tandus tanpa makanan dan minuman sedikit pun. Naluri sebagai seorang ibu pasti tidak akan tega mendengar tangis anaknya yang kehausan. Segera Siti Hajar berlarian dari bukit Shafa ke bukit Marwa untuk mencari sumber mata air. Itu dilakukanya sebanyak tujuh kali putaran tanpa rasa lelah.

Di tengah keputusasaan itu Siti Hajar berdoa kepada Allah SWT agar diberikan pertolongan. Tidak berapa lama dari bawah kaki Ismail muncul sumber mata air tanpa henti. Sumber mata air itu kita kenal dengan nama air zamzam. Sumber mata air yang tak pernah habis hingga sekarang.

Berkat ketabahan dan keikhlasan wanita salehah itu. Dengan perasaan bersyukur Siti Hajar mendapatkan pertolongan tanpa ia sangka-sangka.

***

 Baca Juga: Pinjami Aku Seragammu

Qarib tidak mampu mencari jawaban atas mimpi-mimpinya itu. Hidupnya seakan-akan dikejar-kejar lelaki berjubah putih. Sepanjang hari ia hanya terlihat mondar-mandir di sekitar rumahnya. Semua aset rumah dan kendaraan terlihat diberi garis polisi. Ia tak mampu berbuat apa-apa. Ia hanya pasrah atas kejadian tersebut. Kekayaan yang ia kumpulkan pagi hingga larut malam tersebut akhirnya tak mampu ia kuasai.

Ia hanya mampu melihat petugas dari KPK mengeledah isi rumahnya. Barang-barang gratifikasi yang disiapkan untuk para pejabat pemerintah dibawa keluar. Mereka mengamankan dalam koper besar.

Borgol sudah melingkar di dua tanganya. Mobil tahanan KPK siap mengantarkan ke jeruji penjara. Qarib sadar atas kejadian hari ini, seakan membuka tabir  mimpi-mimpinya yang beku. Mendekati bulan Dzulhijjah, perintah berkurban pada hakikatnya bukan sekadar menumpahkan darah binatang. Tapi lebih dari itu, jiwa berkurban adalah sikap kepasrahan dan keikhlasan dalam menjalankan ketaatan.

Sebagian waktu yang kita miliki harusnya kita kurbankan untuk kepentingan akhirat. Bukankah kita diberikan waktu dua puluh empat jam adalah sebuah kesempatan kita untuk berbuat baik. Sebagian harta kita miliki  juga harus kita kurbankan untuk kepentingan agama dan kemaslahatan manusia.

Dengan wajah tertunduk, Qarib digelendang ke mobil tahanan KPK. Sepanjang jalan dilewatinya banyak dijumpai pedagang kambing dadakan di pinggir jalan. Tenda-tenda semipermanen mulai bermunculan.

Melihat beberapa hewan kurban itu, air matanya jatuh ke kursi mobil didudukinya. Sebenarnya kemampuan untuk berkurban waktu itu sangat terbuka lebar. Hanya membeli seekor kambing bagi Qarib saat itu sangatlah mudah. Tapi, ia tak segerakan perintah itu untuk dilaksanakan.

Banyak alasan waktu itu sebagai bahan pertimbangannya. Ujung-ujungnya hanya persoalan kepentingan dunia yang tidak pernah habis. Mobil yang ditumpanginya terus melaju kencang di jalanan. Saat mobil berbelok ke arah kanan. Ia berjumpa dengan lelaki yang berjubah putih sambil membawa seekor kambing warna putih. Kambing tersebut terlihat sangat terawat, bulu-bulunya tersisir rapi.  Postur tubuhnya juga  terlihat jangkung dengan jengot putih memanjang.

Sambil mengusap-usap matanya dengan tangan yang masih terborgol. Qarib merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan tadi. Denyut nadinya mendadak naik. Tubuhnya gemetaran. Mulutnya komat-kamit membaca istighfar berulang kali. Tabir mimpi telah terkuak. Qarib telah kalah dengan mimpinya menjadi seorang konglomerat. Sejurus kemudian tubuhnya limbung dari kursi mobil.

Kepalanya terbentur dengan keras. Tubuhnya terlihat tak bergerak lagi. Belum sempat diadili, Qarib terlelap dalam mimpi panjangnya. Sesosok bayangan putih terlihat melesat membawa mimpi Qarib menjauh dari mobil tahanan. Sebelum malam merayap di seluruh kota. Sebelum takbir berkumandang menyambut Idul Qurban.

***

 Baca Juga: Taqdir Naik Haji

Bumi Utara, 14 Juni 2023            

 

 

 

*SUHARSONO
Guru Bahasa Indonesia mengajar di MAN 1 Lamongan.

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#cerpen #kurban #Korupsi #islam #harta #ibadah #Idul Adha #Kasus #Mimpi