Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Putih Abu-Abu dan Kenangan Masa lalu

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 16 April 2023 | 18:03 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

ENTAH mengapa tiba-tiba aku mengenang masa itu. Belum terlalu lama, kira-kira sekitar 9 bulan lalu. Kala aku masih berseragam putih abu-abu. Saat kali pertama masuk ke sekolah itu, aku tidak banyak punya kenalan. Hanya punya dua kawan dekat, Anto dan Dono.

Mereka berdua cukup sering menemaniku makan siang di kantin. Kebetulan rumah kami saling berdekatan. Masih cukup jelas di ingatanku gambaran gedung sekolah waktu itu. Gedung sekolah swasta itu belum sebagus dan sehijau seperti sekarang. Dulu sekolah itu masih kumuh dan belum begitu menarik. Dinding masih banyak retak. Catnya banyak yang luntur. Namun, jangan salah, sekolah itu tetap jadi sekolah favorit dengan banyak peminat.

Bila telah masuk tahun ajaran baru, para orang tua berbondong-bondong mengadu nilai anaknya agar mampu menembus sekolah prestis itu. Sampai-sampai sekolah itu dijuluki “sekolahnya anak-anak pintar”. Meski sebenarnya kalau boleh jujur, aku tertarik masuk sekolah itu karena seragamnya cukup keren seperti seragam pelajar di film-film.

Lahan sekolah itu cukup luas. Gedungnya berbentuk letter U, di tengahnya terdapat lapangan kecil penuh dengan rerumputan. Membedakannya dengan lapangan berada di depan, kawan-kawan lain biasa menyebut Lapangan Upacara. Dan, Lapangan Rumput untuk berada di belakang.

Sejak pertama masuk ke sekolah itu, ada beberapa hal membuatku terganggu. Selain banyaknya siswa nakal suka menagih uang jajan, hal lain mengganggu adalah galian lubang di tengah lapangan rumput dipenuhi dengan tumpukan sampah.

Sebetulnya galian lubang itu sudah diberi papan tanda bertuliskan Dilarang Membuang Sampah. Biasanya setiap malam Pak Bon juga rutin mengangkut sampah di lubang galian itu untuk dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS) sampah. Hanya, sampah itu tetap saja menumpuk karena kebiasaan siswa-siswa tolol buta huruf membuang sisa makanan beserta bungkusnya.

Berkali-kali aku coba mengeluh pada Anto dan Dono. Mereka pun hanya mengangguk membenarkan, malahan mereka menyambut keluhanku dengan keluhan lainnya; guru bahasa Indonesia yang jarang masuk tapi hanya memberi PR (pekerjaan rumah). Atap sekolah bocor tidak segera direnovasi, serta siswa tukang palak. Lalu, Dono akan mengalihkan obrolan tentang episode baru dari anime favoritnya, dengan judul-judul tidak pernah membekas di ingatanku.

Suatu waktu, kedua kawan dekatku itu menyarankanku untuk bergabung ke dalam OSIS. Alasannya agar aku lebih memiliki power mengajak siswa lainnya menjaga kebersihan dan juga menyuarakan keluhan-keluhanku agar segera dibenahi para pengurus sekolah.

Hanya bagiku pribadi, OSIS tak lebih sekadar tempat untuk cari muka. Di sekolah ini, aku tidak paham dengan peran OSIS yang sedang menjabat. Selain bisa akrab dengan guru killer, dan juga ajang pamer ke siswi-siswi cantik.

Suatu hari, kelasku kedatangan siswi baru bernama Andini. Sejak kali pertama memperkenalkan diri di depan kelas, aku  merasakan perasaan aneh. Pandanganku terpana wajahnya yang manis. Suaranya lembut, serta kulit sawo matangnya membuatku lupa mengenai permasalahan sekolah yang bobrok.

Perasaan ini aneh mengingat aku tak pernah menaruh rasa sama pada gadis lain di kelasku. Saat, Andini harus duduk semeja dengan Jupri, entah kenapa aku merasa kesal. Menurutku Jupri hanyalah lelaki sok tahu dan pembual andal. Selalu menceritakan betapa hebat dirinya. Andini sendiri sebenarnya terpaksa harus duduk di situ, karena satu-satunya bangku kosong hanyalah bangku berada di samping Jupri.

Aku sempat cerita ke Anto. Menurutnya, perasaan aku rasakan saat ini adalah apa dinamakan cinta. Aku terlalu naif bila merasa tidak paham perasaan seperti itu. Namun, lain halnya menurut Dono, yang aku rasakan saat ini namanya sange. Menurutnya lelaki manapun pasti sange melihat gadis seperti Andini, kecuali bapaknya.

Hari demi hari berlalu, aku makin yakin bahwa yang kurasakan ini namanya jatuh cinta. Kegelisahanku tentang permasalahan sekolah yang bobrok lambat laun makin pudar. Berganti dengan kegelisahanku ketika melihat Jupri semakin akrab dengan Andini.

Saat aku mencurahkan keluh kesah ke Anto maupun Dono, mereka selalu tidak mempunyai solusi jernih.

‘’Telpon saja, tembak saja, Coba dekati dulu,’’ sarannya memberi solusi yang menurutku tak menjawab apapun. Sebab jauh di lubuk hatiku, aku hanya tidak percaya diri.

Seringkali aku hanya memerhatikan foto-foto di akun Instagram-nya sebagai bentuk rinduku pada Andini. Agaknya berlebihan, namun itulah terjadi. Suatu hari, bapak tidak sengaja melihatku memerhatikan galeri-galeri penuh dengan foto selfie Andini.

Tegurnya sederhana: ‘’Kalau masih sekolah, fokus saja belajar. Jangan cinta-cintaan dulu, bikin lupa diri.”

Sejenak jawaban itu sulit kuterima. Seakan bapak tidak paham situasi sedang kualami sekarang. Hampir setiap hari harus kujalani penuh semangat dan harapan. Semangat bertemu Andini dan harapan mempunyai kesempatan bersamanya. Jam istirahat aku habiskan untuk memerhatikan gerak-geriknya, mendengar suara lembutnya sambil sesekali cemburu ketika ia saling sapa dengan lelaki lain. Sesekali riang saat menyadari matanya sempat melirikku.

Berganti semester, nilaiku anjlok. Setelah ambil rapor, di rumah aku disambut ocehan ibuku. Untung saja bapak masih santai-santai saja. Akupun mulai sadar bahwa aku sudah telanjur tenggelam dalam perasaan. Aku kehilangan kepedulian terhadap diriku dan lingkungan sekitar.

Aku tidak lagi gelisah dengan sampah, guru yang tak becus, siswa tukang palak, dan problem-problem dulu kerap aku gelisahkan. Aku juga baru menyadari tentang playlist punk rock yang mulai tergantikan dengan musik slow rock. Sungguh aku mulai jijik dengan diriku sendiri.

Hari demi hari, aku kembali menata diri. Dimulai dari menghidupkan kembali playlist punk rock, aku mulai fokus belajar. Mengerjakan tugas, serta kembali mengeluhkan masalah-masalah hadir di sekitar. Singkat cerita, tahun berikutnya aku mulai terbebas dari perasaan kasmaran. Walupun kalau boleh jujur, aku masih suka pada Andini. Setidaknya aku sudah tidak tenggelam dalam romantisme monyet itu.

Karena nilai-nilai sekolah semakin membaik dan dikenal inisiatif, aku pun ditunjuk sebagai ketua kelas baru. Setiap jam pelajaran, aku semakin aktif bertanya dan menjawab di kelas. Dengan segala kegiatan dan performa, aku merasa menjadi contoh bagi siswa lainnya. Bahwa semua bisa melakukan perubahan di sekolah tanpa harus menjadi ketua OSIS. Hingga suatu hari, aku merasa telah sampai titik puncak sebagai siswa teladan.

Hari itu kerja bakti di sekolah. Saat yang lain telah usai membersihkan kelas serta rerumputan di sekitar halaman, aku sibuk membersihkan sampah tertumpuk di tengah lapangan rumput. Aku membersihkannya sendiri.

Mengangkutnya dengan karung sendiri. Mendorongnya sendiri menggunakan gerobak ke pembuangan sampah. Belum sampai bersih, Bu Wati menyuruhku untuk berhenti dan membiarkan sisanya dibersihkan oleh Pak Bon. Aku meyakinkan wali kelasku agar tetap membersihkannya sendiri, namun beliau tetap saja menyuruhku untuk istirahat.

Untuk mengujinya, aku kembali beraksi keesokan harinya. Aku pun datang cukup pagi ke sekolah segera membersihkan tumpukan sampah yang sama. Entah mimpi apa aku semalam, Andini yang kebetulan datang cukup pagi pun turut membantuku membersihkan sampah. Tidak butuh waktu lama (sebab sebelumnya, separo dari sampah telah kubersihkan sendiri), kami berdua berhasil membersihkan tumpukan sampah itu. Lapangan rumput pun terlihat lebih baik dari sebelumnya. Terpenting, aku memiliki kesempatan bercengkerama dengan Andini.

Kami menghabiskan beberapa menit sebelum pelajaran untuk bercengkrama. Obrolan pun berlanjut via WhatsApp. Ternyata selama ini Andini punya kegelisahan sama denganku. Ia mengakui kekagumannya pada diriku. Dirinya hanya bisa mengeluh, sementara aku mampu bertindak waktupun sendirian.

Hubunganku dengan Andini sebenarnya belum dapat dikatakan akrab. Aku tak pernah memulai obrolan lebih dulu dengannya, kecuali Andini sendiri memulai menanyakan tugas atau arti dari istilah tak dipahaminya. Tapi, bagiku hal kecil semacam itu lebih dari cukup membuatku bahagia.

Satu semester telah berlalu. Aku pun memutuskan menyatakan cinta pada Andini. Tak ingat seperti apa aku menyatakannya, namun yang teringat jelas adalah aku mengungkapkan perasaan melalui chat WhatsApp. Juga teringat jelas diingatan balasannya di luar dugaan. Kemungkinan untuk ditolak sebenarnya masuk dalam dugaanku, hanya tidak terduga adalah kenyataan bahwa dia telah mempunyai kekasih.

Lebih tidak terduga lagi ia berpacaran dengan Jeremi, ketua OSIS sedang harum namanya. Namanya beberapa kali disebut setelah sekolah dinobatkan sebagai Sekolah Teladan Bebas Sampah. Sebuah penghargaan bergengsi tingkat provinsi, dan pihak sekolah menganggap keterlibatan OSIS sebagai penggerak utama.

Ini memungkinkan Jeremi menerima pujian dari para guru, memegang piala, serta menyampaikan pidato di lapangan saat sesi upacara. Kalau aku tak salah ingat, penghargaan itu diumumkan saat upacara bendera, satu minggu sebelum aku menyatakan cinta pada Andini.

Sejak itu, sekolahku semakin dikenal sekolah favorit guru-guru berintegritas. Kebersihan lingkungan baik, dan peluang mendapatkan pekerjaan besar. Sementara itu, aku tak lagi menonjol di sekolah. Aku menjalani hari seperti biasa, seakan telah kehilangn semangat hidup.

Agaknya berlebihan, tapi itulah terjadi. Perlahan satu-satunya yang kupikirkan hanyalah segera menyelesaikan sekolah dengan cepat. Tidak ada lagi membekas diingatanku setelah itu, kecuali belajar dan belajar.

Akupun masih terus berupaya mengingat-ngingat, mencoba mencari kenangan lain membekas setelah kejadian itu “Woy! Maju mas…. Maju!!” Kenangaku tiba-tiba diusir oleh teguran beberapa orang yang mengantre bersamaku, di antara hiruk pikuk ribuan orang lainnya berbondong-bondong hendak melamar pekerjaan.

Mengalihkan pandangaku dari wajah Jeremi bersama istrinya; Andini, yang terpampang jelas di baliho besar yang terpasang di gedung.

Sekilas, kalimat tertulis di baliho sedikit membekas di ingatanku, sebelum terhapus oleh udara pengap di antara ramainya pelamar kerja berdesak-desakan. “Kami Sekeluarga Mengucapkan Selamat Hari Raya, Selamat Merayakan Hari Kemenangan, Mohon Maaf Lahir dan Batin”

“Jeremi Wardan, Walikota Jayabaru beserta Keluarga”. (*)

 

 

BAYU SAPUTRA
Perum Mutiara Citra Graha Sidoarjo

Editor : M. Yusuf Purwanto
#cerpen #walikota #sma #asmara #Sekolah