Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Konde Kartini

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 9 April 2023 | 17:46 WIB
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

WANITA muda dengan balutan busana ala Kartini itu berjalan dengan anggun melewati anak tangga. Sesekali beliau berdiri mematung di dekat pagar. Tangannya erat menggenggam teralis hitam keemasan itu. Dari depan ruang kelas VII-A berada di lantai dua, Bu Guru Kinanthi melihat ke bawah.

Berulang kali dia menghela napas panjang.  Tangan kanan sibuk mengambil bunga sawo kecik berjatuhan di pagar teras kelas tersebut.  Mata bening itu tiba-tiba saja berlinang, seolah memendam rasa kecewa di dalam hati kecilnya. Berulang kali wanita muda itu menyeka air matanya yang terus berjatuhan tidak terbendung.

Aula sekolah tempat dia mengajar sangatlah ramai.  Satu demi satu panitia bagian perlengkapan berdatangan.  Kursi berwarna biru tua ditata rapi oleh Pak Gun dan Pak Makin. Pak Firdaus dan Pak Ridwan memasang banner.  Sedangkan Pak Ali dan Pak Doni sibuk memasang korden. Semua terlihat sangat serasi dan indah.

Siswa perempuan semuanya memakai kebaya, jarit, dan konde. Sedangkan siswa lelaki memakai biskap dengan gagahnya.  Satu per satu siswa berdatangan dan duduk di tempat sudah tersedia dengan tertib. Di depan mereka ada banner bertuliskan: “Lomba Peragaan Busana dalam Rangka Peringatan Hari Kartini 2023.” 

Seminggu lalu, ketika rapat panitia. Kinanthi mengusulkan agar tidak semua siswa busana adat seperti itu, karena uang sewanya tidaklah murah. Sebaiknya hanya perwakilan dari masing-masing kelas saja. Biaya bisa ditanggung bersama. Dengan demikian, tidak akan memberatkan bagi walisiswa.  Satu siswa saja, untuk menyewa busana lengkap beserta tata rias minimal harus membayar Rp 200 ribu.

Belum lagi, setiap sepuluh siswa harus membawa nasi tumpeng dua tampah. Satu tampah untuk dimakan bersama teman sekelompoknya, sedangkan satu tampah lagi dibawa ke ruang guru.  Tapi, karena kalah suara, keputusan rapat berbeda dengan diingankan guru muda itu.

Tiba-tiba angan-angannya melayang. Teringat peristiwa tragis terjadi sekitar dua puluh tahun lalu.  Waktu itu dia masih SMP.  Seumuran siswa di depannya sekarang.  Tak terasa, air bening menetes dari sudat matanya.  “Bapak... Kinanthi kangen, Pak... Aku tidak ingin ada Kinanthi-Kinanthi lain yang mengalami nasib sepertiku,”  gumamnya.

Wanita itu berulang kali menghela napas panjang.  Wajah bapaknya terbayang nyata di hadapannya.  Memang, Kinanthi sejak kecil sudah yatim piyau.  Sehingga diasuh oleh bapak dan ibu angkatnya.

Inilah kisah hidup Kinanthi, sejak lahir sampai dewasa.  Kinanthi lahir di hari pasaran Jawa, yang menurut neneknya, kurang baik.  Dia akan membawa sial bagi keluarganya.  Kinanthi akan dibuang ke sungai oleh ayahnya.  Sampai di sungai, beliau tidak tega.  Lalu menitipkan anaknya pada orang tuanya.  Beberapa waktu kemudian.  Nenek dan kakek dari ayah Kinanthi meninggal dunia, karena sakit.

Ayah membawa pulang Kinanthi, karena tidak tega anak gadisnya hidup sendiri.  Semakin menambah keyakinan, bahwa Kinanthi anak pembawa sial. Tidak lama kemudian, ayahnya pun meninggal, karena sakit liver.

Kini, Kinanthi mula percaya, bahwa dirinya memang pembawa sial. Kinanthi kecil mendengar pembicaraan nenek dan kakek dari pihak ibunya. Lalu, dia pergi dari rumah.  Kini Kinanthi ikut orang lain.

Kinanthi kecil meminta ayah angkatnya membelikan kebaya, jarit dan konde. Tapi, karena tidak punya uang, ayah pinjamkan semuanya pada temannya yang punya salon tata rias. Naasnya, ketika perjalanan meminjam konde itu, ayah Kinanthi terlibat kecelakaan dengan mobil. Beliau meninggal dunia.

Sepeda onthel ditumpangi ayah Kinanthi terseret sampai sebelah timur jembatan. Tubuh ayahnya terlempar, kepalanya membentur gapura. Mak prakkk... darah merah keluar deras dari telinga. Tidak bisa dihindari lagi, nyawa pria itupun melayang dari raganya.  Seketika, dia meninggal dunia.

Mendengar kabar bahwa bapanya tertabrak mobil, Kinanthi dan ibu angkatnya bergegas berangkat ke puskesmas.  Kedua wanita itu tidak bisa menahan tangisnya. Pria malang itu telah kembali kepada Yang Maha Kuasa.  Ketika membuka jenazah bapaknya, Kinanthi kaget sekali.  Wajahnya pucat pasi, namun sama sekali tidak ada luka pada wajah maupun tubuh ayah angkatnya itu.  Di tangan pria itu masih mendekap konde, ya... kondhe Kartini.

Thit thit... thit thit... terdengar suara dari hapenya.  Kinanthi mengintip sejenak, ternyata ada email masuk.  Oh... dari kesharlindung, ada apa ya? Tanya Kinanthi dalam hati.

Thulit... thulit... ternyata Pak Yozi  memasukkan Kinanthi dan sebelas teman lainya ke WhatsApp (WA) grup baru. Namanya Nominasi Belanda.

Bagaimana mungkin dia dapat penghargaan besar dan dalam waktu secepat itu. Kebetulan dua minggu lalu wanita tersebut menjuarai Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional. Tapi, juara tahun lalu saja, baru diberangkatkan ke Australia bulan ini.  Sampai sekarangpun belum pulang ke tanah air. Sedangkan Kinanthi, baru dua minggu dia ditetapkan sebagai juara.  Namun, saat ini sudah mendapat panggilan untuk shortcourse ke Negeri Kincir Angin tersebut.

Ada rasa ragu dalam hati, apa mungkin suaminya mengizinkan?  Ternyata di luar dugaan, suaminya sama sekali tidak merasa keberatan. Demikian pula izin dari sekolah tempat dia mengajar, juga dinas pendidikan sudah beres.

Sebelum berangkat ke Belanda, Kinanthi harus menyelesaikan segala urusannya di sekolah. Seperti foto untuk album kenangan kelas 9 di Gunung Pegat, menikmati kuliner sega byor di bawah gunung yang elok. Juga bertemu mantan siswanya, yang dulu biasa-biasa saja. Ternyata, memiliki unggah-ungguh dan sopan-santun luar biasa.

Sementara di depan matanya.  Kinanthi melihat siswanya kecelakaan motor, sampai meninggal dunia. Dia sangat sedih.  Namun, tidak bisa berbuat apa-apa.  Anak sekecil itu,  tapi sudah diizinkan naik motor oleh orang tuanya.  Seusai takziah, Kinanthi segera pulang. Dia harus mengemas pakaian dan segala keperluan untuk kepergiannya ke Belanda selama dua minggu.

Guru desa akan pergi ke Eropa. Tentu banyak yang harus dipersiapkan.  Ada kisah berburu longjhon, jaket bulu angsa, dan penutup telinga. Juga, oleh-oleh untuk teman-teman dan siswanya, harus sudah beli di Jakarta. Karena tidak mungkin juga membawa semua dari Belanda. Namun, barang-barang itu benar-benar asli, didatangkan dari negeri asalnya.

Betapa bahagianya. Kinanthi pergi ke Belanda bersama para juara nasional. Mereka didampingi Prof Wardiman. Mantan menteri pendidikan nasional era 1990-an pada masa pemerintahan Presiden Suharto.

Sejenak Kinanthi bisa melupakan kisah memilukan tentang Konde Kartini. Malam pertama di Hotel Campanille. Perbedaan waktu antara di Indonesia dan Belanda membuat Kinanthi harus terbangun di tengah malam.  Dia mengira itu sudah subuh.

Kinanhi bersama teman sekamarnya bergegas mandi dan Salat Subuh.  Lalu memakai jas, sebelum menuju ruang makan.  Tapi, ternyata ruang makan masih sepi.  Dari grup WA, mereka tahu.  Bahwa saat itu masih tengah malam. Mereka belum mengubah setting jam di handphone-nya.  Mereka semua tertawa sapai menangis. (*)

 

*Emi Sudarwati
Pendidik tinggal di Baureno, Bojonegoro

Editor : M. Yusuf Purwanto
#cerpen #Budaya #konde #kartini #sejarah