RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Ketika bulan Muharram tiba, suasana batin terasa lebih hening. Ia membuka tahun hijriyah, tetapi juga membuka lembaran amalan sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ — salah satunya adalah puasa Tasua dan Asyura, dua hari yang menyimpan banyak makna sejarah dan spiritual.
Muharram disebut sebagai “syahrullah al-muharram” — bulan Allah yang suci. Dari sekian amalan di dalamnya, Nabi menyebut bahwa puasa di bulan ini adalah yang paling utama setelah puasa Ramadan. Dan dari sekian hari di Muharram, dua hari yang paling ditandai dalam sirah Nabawiyah adalah tanggal 9 dan 10.
Tasua dan Asyura: Lebih dari Sekadar Tanggal
Tasu’a adalah tanggal 9 Muharram, sedangkan Asyura adalah tanggal 10. Nabi ﷺ berpuasa pada hari Asyura karena merupakan hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun. Namun yang menarik, Rasulullah kemudian memerintahkan agar umat Islam juga berpuasa sehari sebelumnya, yakni tanggal 9, agar berbeda dari tradisi kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10.
Jadi, sejak saat itu, umat Islam mengenal puasa Tasu’a dan Asyura sebagai satu rangkaian, bukan sekadar ritual tanggalan, tetapi simbol dari identitas keimanan.
Bagaimana Cara dan Niat Puasa Tasu'a dan Asyura?
Tata cara puasanya seperti puasa sunah lainnya: dimulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Yang membedakan adalah niatnya, yang bisa diucapkan malam hari sebelum puasa, atau bahkan pagi hari — selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa sejak subuh.
Dilansir dari NU Online, berikut niat yang biasa diamalkan:
Niat Puasa Tasu’a (9 Muharram):
نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Tâsû’â-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya: Saya niat puasa Tasu’a karena Allah ta’âlâ.
Niat Puasa Asyura (10 Muharram):
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma Âsyûrâ-a lilâhi ta’âlâ.
Artinya: Saya niat puasa Asyura karena Allah ta’âlâ
Bila lupa niat malamnya, seseorang masih diperbolehkan berniat di pagi hari — asalkan belum makan atau minum sejak fajar.
Keutamaan yang Tidak Main-main
Puasa Asyura punya satu keutamaan besar: dapat menghapus dosa setahun yang lalu. Ini bukan berarti seseorang bebas dari dosa besar begitu saja, tetapi sebagai bentuk penghapusan dosa-dosa kecil dengan niat tobat dan kebaikan lain yang menyertai.
Sementara itu, berpuasa pada hari Tasu’a, selain menegaskan identitas umat Islam, juga menjadi bentuk kehati-hatian dalam perhitungan penanggalan. Para ulama menyebut bahwa kadang penentuan awal Muharram bisa berbeda di masa lalu, maka berpuasa dua hari berturut-turut adalah bentuk kehati-hatian.
Sebuah Kontemplasi Awal Tahun
Puasa Tasu’a dan Asyura bukan sekadar amalan sunah yang bernilai pahala. Ia adalah ruang kontemplatif untuk merenungi bagaimana Nabi Musa diselamatkan dari tirani, bagaimana Rasulullah ﷺ memosisikan umat Islam dengan identitas yang berbeda, dan bagaimana setiap umat diberi peluang memperbarui dirinya di awal tahun hijriyah.
Jadi ketika hari itu datang, bukan sekadar menahan lapar. Tapi juga menahan keluhan, menahan amarah, dan melepaskan diri dari kelalaian yang mungkin mengiringi bulan-bulan sebelumnya.
Berpuasa di awal tahun bukan bentuk menyiksa diri, melainkan menyambut tahun baru dengan jiwa yang bersih — seolah berkata pada diri sendiri: aku ingin memulai lagi, dengan niat yang lebih benar, dan dengan hidup yang lebih baik. (kam)
Editor : Hakam Alghivari