Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

I-League Resmi Larang Influencer, Content Creator, Media Klub dan Reporter Rekam Pertandingan Super League dan Championship Musim Ini

Yuan Edo Ramadhana • Jumat, 12 September 2025 | 02:02 WIB
PENYEMANGAT: Seluruh elemen suporter Persibo berikan dukungan moral kepada seluruh pemain saat berlatih di Stadion Letjen H. Sudirman musim lalu (19/1). (YUAN EDO RAMADHANA/RADAR BOJONEGORO)
PENYEMANGAT: Seluruh elemen suporter Persibo berikan dukungan moral kepada seluruh pemain saat berlatih di Stadion Letjen H. Sudirman musim lalu (19/1). (YUAN EDO RAMADHANA/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Hingga musim lalu, sebagian kecil laga BRI Super League (dulu Liga 1) dan utamanya Pegadaian Championship (dulu Liga 2) tidak disiarkan di televisi atau layanan streaming resmi. Sehingga penonton dan media ofisial klub peserta yang merekam pertandingan langsung dari tribun, baik melalui streaming maupun cuplikan pertandingan jadi penyelamat para penonton yang tidak dapat datang ke stadion.

Namun mulai musim ini, siap-siap bagi para media klub dan penonton dari kalangan influencer untuk kecewa berat. Pasalnya I-League (dulu PT LIB) selaku penyelenggara liga memasang larangan bagi mereka untuk merekam pertandingan kedua liga tersebut.

Keputusan tersebut awalnya diinformasikan oleh I-League dalam LOC’s Workshop Pegadaian Championship 2025/2026. Perusahaan kemudian mensosialisasikan secara umum peraturan tersebut melalui rilis resmi perusahaan pada Kamis sore (11/9).

I-League tidak menahan diri untuk menyatakan alasan mengapa peraturan tersebut diberlakukan. “Untuk menjaga profesionalisme dan keberlanjutan ekosistem penyiaran, I.League menetapkan batasan tugas yang jelas bagi rekan-rekan media serta para pembuat konten komersial,” bunyi pernyataan tersebut.

Poin pertama, I-League kembali menegaskan larangan bagi jurnalis media non-pemegang hak siar, baik tulis maupun fotografi, untuk mengambil video pertandingan seperti yang telah lama berlaku. “Saat ini I-League belum memberikan izin untuk itu. Kebijakan ini diterapkan karena semua hak siar untuk pertandingan telah dikelola secara eksklusif oleh pihak yang memiliki lisensi resmi, dalam hal ini Emtek,” jelas perusahaan tersebut.

Selain melindungi hak siar, larangan diberlakukan juga untuk kreator konten dan influenser, terutama dengan tujuan monetisasi konten. Dalih I-League, larangan diberlakukan agar tidak terjadi tumpang tindih konten dan perlindungan konten profesional.

“Alasan pembatasan perekaman video untuk tujuan komersial adalah adanya potensi kegiatan yang signifikan dan tumpang tindih dengan hak siar resmi. Perlindungan terhadap hak siar ini sangat penting agar penyelenggaraan kompetisi dan liputan media dapat terus berjalan secara profesional dan berkelanjutan,” lanjut pernyataan perusahaan pimpinan Ferry Paulus tersebut.

I-League juga mengklaim bakal merancang sistem kerjasama atau endorsement khusus bagi para kreator konten yang masih ingin merekam pertandingan Super League dan Championship, dengan tujuan agar konten tidak saling bertabrakan. “Detail mengenai mekanisme tersebut akan diumumkan secara resmi pada tahap berikutnya, setelah melalui proses diskusi dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait,” papar I-League.

Meskipun tidak disebut dalam pernyataan resmi, media resmi milik klub peserta juga terkena imbas peraturan ini. Mengutip dari Jawa Pos, materi workshop menyebutkan media ofisial tidak diperkenankan merekam pertandingan dari tribun menggunakan kamera profesional.

Lalu bagaimana dengan penonton biasa yang ingin merekam pertandingan menggunakan handphone mereka? Secara teknis, I-League masih membolehkan para penonton umum untuk merekam jalannya pertandingan, selama tidak bersifat komersil atau dengan tujuan monetisasi.

“Selama aktivitas produksi konten oleh penonton, seperti merekam video atau mengambil foto, bersifat non-komersial seperti sekadar membagikan pengalaman pribadi di media sosial tanpa tujuan menjual atau monetisasi, I-League memandangnya sebagai bagian tak terpisahkan dari semarak pertandingan,” jelas perusahaan.

Peraturan ini juga berlaku untuk influencer dan kreator konten, namun hanya untuk kegiatan di luar lapangan, misal suasana di tribun atau chant suporter. Selebihnya, jika konten dianggap menampilkan aksi di dalam lapangan hijau, I-League dan Emtek dapat mengenakan sanksi bagi kreator konten atau influencer, bahkan termasuk penghapusan akun. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#championship #pembuat konten #Liga 2 #BRI Super League #penonton #siaran #rekaman #Pegadaian Championship #kreator konten #media klub #streaming #televisi #pertandingan #hak siar #liga 1 #Super League #monetisasi #influencer