3 Poin Inti Artikel:
-
Hujan Mengubah Skenario Final: Pertandingan terpaksa dihentikan pada pukul 4 sore karena hujan deras. Sebagai jalan tengah, disepakati satu laga ganda putra pada malam hari antara Lamongan dan Cepu; yang mana kemenangan diraih oleh Lamongan sekaligus mengunci trofi.
-
Dominasi Sang Kampiun Jawa: Kesuksesan Lamongan tak lepas dari duet maut Lecocq d'Armandville dan Soemadi. Nama terakhir merupakan petenis yang sudah tersohor sebagai juara ganda tingkat Pulau Jawa pada masa itu.
-
Penyelamat Wajah Bojonegoro: Nyonya Schuppers yang awalnya hanya pemain pengganti dadakan, malah tampil heroik dan memenangkan nomor tunggal serta ganda putri, menjadi satu-satunya kebanggaan bagi tim Bojonegoro di ajang tersebut.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tim tenis Lamongan resmi keluar sebagai kampiun dalam turnamen bergengsi perebutan trofi "Bojonegoro Club Cup" yang diselenggarakan di Cepu pada Sabtu, 9 September 1933 silam.
Kepastian gelar juara ini didapat secara dramatis lewat satu laga ganda putra pamungkas di malam hari melawan tuan rumah Cepu, menyusul turunnya hujan deras yang menghentikan paksa seluruh sisa laga pada pukul 16.00 sore.
Menariknya, di tengah dominasi Lamongan yang diperkuat sang juara tenis se-Jawa, seorang srikandi asal Bojonegoro bernama Nyonya Schuppers justru menjadi pahlawan tak terduga yang sukses menyelamatkan kehormatan timnya di saat para pemain pria berguguran.
Buat kamu para pecinta sejarah dan olahraga, kisah kompetisi tenis yang penuh intrik ini bukan sekadar karangan. Jejak rekamnya tertulis otentik dalam arsip surat kabar masa kolonial De Indische courant terbitan 13 September 1933, yang kini bisa kamu akses di situs pangkalan data sejarah Belanda, delpher.nl.
Turnamen tenis bergengsi pada hari Sabtu, 9 September 1933 silam tersebut mempertemukan lima tim elit dari berbagai daerah, yakni Bojonegoro, Tuban, Gresik (Grisee), Lamongan, dan Cepu.
Pada kategori tunggal putra, Lamongan dan Cepu tampil tangguh menyingkirkan lawan-lawannya. Salah satu momen paling disorot adalah pertemuan antara andalan utama Bojonegoro, Ir. Vermeulen, yang harus berjibaku melawan Soemadi dari Lamongan.
Baca Juga: Elsyaralle Adonia Ramadhan, Juara 3 Tenis Nasional 2025: Tantangannya Menjaga Konsistensi Latihan
Laga tunggal putra antara Bojonegoro dan Lamongan sayangnya tak tuntas (berhenti di skor 6-1 untuk Lamongan) karena lapangan keburu diguyur hujan deras.
Namun, di sektor ganda putra, ketangguhan Lamongan tak tertandingi. Pasangan Lecocq d'Armandville dan Soemadi terbukti terlalu superior dibandingkan semua lawannya, sukses menggasak Bojonegoro (6-2, 6-1) dan menjegal Cepu (6-2, 6-2).
Kejutan dari Sektor Putri
Cerita paling menarik justru datang dari tim putri Bojonegoro. Karena sebuah keadaan yang tak terduga, pemain andalan mereka, Nyonya Gunsch, berhalangan hadir. Sebagai gantinya, Nyonya Schuppers maju ke lapangan. Tanpa disangka, ia menuntaskan tugasnya dengan sangat luar biasa!
Nyonya Schuppers menang secara dramatis atas wakil Cepu di tunggal putri melalui tiga set ketat: 6-4, 8-10, dan 7-5. Media saat itu bahkan secara khusus memujinya: "Di saat para pemain pria (Bojonegoro) hampir tidak bisa berbuat apa-apa, Nyonya Schuppers berhasil menjunjung tinggi kehormatan Bojonegoro."
Tak berhenti di situ, Nyonya Schuppers yang berpasangan dengan Nyonya Vermeulen juga kembali memetik kemenangan solid atas tim putri Cepu dengan skor 6-2, 7-5.
Menjelang sore pukul 16.00, hujan deras mengacaukan jadwal sisa. Panitia dan tim akhirnya mengambil jalan pintas: Lamongan dan Cepu akan diadu lagi dalam laga ganda putra pada malam hari.
Syaratnya, jika Lamongan menang, piala resmi menjadi milik mereka dan tim lain yang belum bermain harus mundur. Lamongan pun berhasil membuktikan tajinya dan membawa pulang piala.
Meski gagal juara, panitia dan peserta memberikan apresiasi tertinggi kepada tuan rumah Cepu yang sukses menjamu para tamu dengan sangat gemilang.
Perlu diketahui, olahraga tenis mulai berkembang sekitar 1920-an di Indonesia. Selanjutnya, Persatuan Lawn Tenis Seluruh Indonesia (Pelti) dibentuk pada 1935.(*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko