RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ketika Mario Götze mencetak gol kemenangan ke gawang Argentina pada final Piala Dunia 2014 di Maracana, banyak yang meyakini Jerman akan memasuki era dominasi baru dalam sepak bola dunia.
Saat itu, Die Mannschaft tampil sebagai tim paling komplet. Mereka menjuarai Piala Dunia setelah menghancurkan Brasil 7-1 di semifinal dan mengalahkan Argentina di partai puncak. Gelar tersebut menjadi trofi dunia keempat bagi Jerman sekaligus menegaskan status mereka sebagai salah satu kekuatan terbesar dalam sejarah sepak bola.
Namun perjalanan setelah malam bersejarah di Rio de Janeiro ternyata tidak berjalan sesuai harapan.
Baca Juga: Australia Tunjukkan Kelas, Bungkam Turki 2-0 di Piala Dunia 2026
Empat tahun kemudian, Jerman justru mengalami salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah mereka dengan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2018 di Rusia. Hasil tersebut mengejutkan banyak pihak mengingat mereka datang sebagai juara bertahan.
Lebih menyakitkan lagi, kegagalan serupa kembali terulang di Qatar pada 2022. Untuk kedua kalinya secara beruntun, Jerman harus angkat koper sebelum babak gugur dimulai.
Kini, menjelang laga pembuka Grup E Piala Dunia 2026 melawan Curacao di Houston, Amerika Serikat, skuad asuhan Julian Nagelsmann datang dengan misi yang lebih besar daripada sekadar meraih tiga poin.
Mereka ingin membuktikan bahwa era kelam itu telah berakhir.
Ambisi Jerman Mengejar Bintang Kelima
Di atas kertas, Jerman merupakan salah satu favorit untuk melaju jauh di turnamen kali ini. Mereka datang ke Amerika Utara dengan modal yang cukup meyakinkan setelah mencatat kemenangan dalam sejumlah laga uji coba dan mempertahankan tren positif yang telah berlangsung sejak September tahun lalu.
Nagelsmann juga memiliki skuad yang dipenuhi pemain-pemain berkualitas dari klub-klub elite Eropa. Kombinasi pemain berpengalaman dan generasi baru membuat Jerman kembali dipandang sebagai salah satu kandidat juara.
Namun tekanan tetap besar.
Publik sepak bola Jerman tidak lagi hanya berbicara soal peluang mengangkat trofi. Setelah dua kali gagal lolos dari fase grup, target pertama yang harus dicapai adalah mengembalikan Jerman ke babak gugur.
Barulah setelah itu mimpi meraih bintang kelima dapat dibicarakan lebih serius.
Manuel Neuer Kembali Jadi Sorotan
Salah satu nama yang paling banyak mendapat perhatian menjelang turnamen adalah Manuel Neuer.
Kiper veteran Bayern Munchen itu kembali dipercaya mengawal gawang Jerman meski kini telah berusia 40 tahun. Keputusan tersebut sempat memunculkan perdebatan di kalangan penggemar sepak bola Jerman.
Neuer memang masih dianggap sebagai salah satu penjaga gawang terbaik dalam generasinya. Namun kondisi kebugaran serta performanya dalam beberapa musim terakhir menjadi bahan diskusi.
Ia bahkan melewatkan sejumlah pertandingan persiapan karena cedera betis sebelum akhirnya kembali berlatih bersama tim utama.
Laga melawan Curacao bisa menjadi kesempatan pertama bagi Neuer untuk menjawab keraguan tersebut sekaligus membuktikan bahwa ia masih layak menjadi pilihan utama Nagelsmann.
Curacao Datang Tanpa Beban
Meski lebih diunggulkan, Jerman tetap tidak bisa menganggap enteng lawannya.
Curacao datang sebagai salah satu cerita paling menarik di Piala Dunia 2026. Negara kepulauan kecil di Karibia itu untuk pertama kalinya tampil di putaran final dan menjadi tim dengan peringkat FIFA terendah di turnamen.
Mereka juga memiliki sosok berpengalaman di kursi pelatih. Dick Advocaat yang kini berusia 78 tahun akan mencatat sejarah sebagai pelatih tertua yang pernah memimpin tim di Piala Dunia.
Bagi Curacao, laga melawan Jerman merupakan kesempatan untuk menikmati momen terbesar dalam sejarah sepak bola mereka. Status underdog membuat mereka tidak memiliki tekanan sebesar lawan yang dihadapi.
Situasi tersebut justru bisa menjadi modal berbahaya.
Ujian Pertama Kebangkitan Jerman
Meski kualitas kedua tim terpaut cukup jauh, pertandingan ini tetap menyimpan arti penting bagi Jerman.
Setelah dua Piala Dunia berakhir dengan kekecewaan, kemenangan di laga pembuka akan menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan diri sepanjang fase grup.
Nagelsmann tentu berharap anak asuhnya dapat menghindari kesalahan yang pernah menghancurkan perjalanan mereka pada 2018 dan 2022.
Karena bagi Jerman, Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang mengejar trofi kelima.
Ini juga tentang membuktikan kepada dunia bahwa salah satu raksasa terbesar sepak bola akhirnya telah keluar dari bayang-bayang kegagalan yang menghantui mereka selama delapan tahun terakhir. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari