Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Peraturan Kartu FVS di Piala Dunia U-17 2025: Alternatif dari VAR, Sarana Pelatih Protes ke Wasit Secara Sah

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 5 November 2025 | 00:36 WIB
(Dok. FIFA)
(Dok. FIFA)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Mungkin ketika Anda menyaksikan pertandingan-pertandingan Piala Dunia U-17 2025, Anda akan melihat pemandangan pelatih atau staf pelatih berlari ke arah wasit atau wasit ke-empat sambil mengacungkan kartu. Tentu bukan berarti pelatih tersebut mengusir wasit dari pertandingan, namun metode tersebut merupakan peraturan baru yang sedang dalam masa uji coba oleh FIFA dan IFAB selaku perumus aturan sepak bola.

Kartu yang dapat diacungkan oleh pelatih kepada wasit tersebut adalah kartu Football Video System, alias FVS. Sekilas sistem ini mirip Video Assistant Referee (VAR) dalam definisinya, namun keduanya tidak sama dalam praktiknya, meskipun sama-sama menggunakan bantuan kamera replay.

Sebagai pengingat kembali, VAR diputuskan atau ‘dipanggil’ oleh wasit sendiri untuk membantu mengambil keputusan. Selain itu, VAR memiliki pengawas, alias wasit VAR di balik layar untuk membantu pengamatan wasit.

Menurut catatan BBC dan IFAB, FVS merupakan sistem yang sedikit berbalik dengan VAR, namun penerapannya serupa. Alih-alih wasit sendiri, FVS diajukan oleh pelatih setelah insiden dalam permainan, misal pelanggaran, tuduhan penalti, atau gol. Kurang lebih, sistem ini serupa dengan sistem coach’s challenge atau protes pelatih yang diterapkan dalam ajang seperti bulutangkis, bola voli, tenis atau hoki es.

Lalu kenapa FVS jarang terlihat di sepak bola saat ini? Pertama, sistem ini baru dirancang tahun lalu dan diujikan pada tahun ini. Kedua, FVS dirancang sebagai alternatif yang lebih murah dari VAR untuk pertandingan tingkat lebih rendah.

“FVS dirancang untuk penggunaan dalam pertandingan yang hanya memiliki satu hingga empat kamera pembantu, alih-alih untuk pertandingan tingkat tinggi yang biasanya dibantu banyak kamera dalam jumlah dan ukuran besar,” jelas laman BBC.

Sejauh ini, sistem FVS sudah diuji coba di Piala Dunia U-20 dan Piala Dunia U-17 Wanita tahun ini, dan juga akan dicoba di Piala Dunia U-17 saat ini. Di tingkat klub, sistem FVS sedang diujikan di kasta ketiga Liga Italia dan Spanyol, yakni Serie C dan Tercera Division, plus kasta utama sepak bola wanita kedua negara tersebut, yakni Serie A Femminile dan Liga F.

Dalam penerapannya, setiap pelatih akan diberi sebuah kartu. Salah satu dari mereka memegang kartu berwarna biru, sementara pelatih yang lain akan memegang kartu berwarna ungu. Perbedaan warna tersebut hanya mencerminkan perbedaan identitas pemegang kartu, dan keduanya punya hak dan makna yang sama.

Jika pelatih atau staf pelatih ingin memprotes keputusan wasit menggunakan sistem FVS, mereka dapat mengangkat kartu di tangan mereka, kemudian menyerahkan kartu kepada wasit ke-empat (yang biasanya bertugas mengumumkan pergantian pemain). Namun sebagaimana telah disebutkan, pelatih atau staf hanya dapat mengajukan protes dengan FVS setelah pelanggaran, offside atau gol terjadi saat itu juga.

“FVS hanya boleh digunakan untuk insiden yang dianggap jelas terjadi dan mengandung kekeliruan wasit, misal keputusan  penalti, pelanggaran, keputusan gol dan kartu merah langsung,” bunyi pernyataan FIFA sebagaimana dikutip BBC.

Selain itu, pemain tidak boleh mengajukan sendiri protes menggunakan FVS. Namun pemain dibolehkan meminta pelatih mereka mengajukan protes lewat FVS.

Sama seperti bola voli, bulutangkis dan sebagainya, setiap kubu punya dua kali kesempatan mengajukan protes, dan satu kesempatan esktra jika pertandingan masuk ke babak extra time. Jika protes mereka ternyata benar, maka kesempatan yang dipakai dikembalikan, sehingga jatah protes tetap berjumlah dua. Sementara jika keputusan wasit mematahkan protes tersebut, jatah protes berkurang satu.

Akhirnya, berbeda dengan VAR yang terdiri dari wasit pengawas dan operator video di balik layar, FVS hanya memiliki operator video saja, yang bertugas di pinggir layar replay. Sehingga keputusan akhir dari protes sepenuhnya berada di tangan wasit. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#pelanggaran #protes #Piala Dunia U-17 2025 #kartu merah #fifa #kamera #Piala Dunia U-17 #wasit #FVS #video #challenge #ifab #var #piala dunia #pertandingan #kartu #replay