Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Mengenal Boma, Maskot Piala Dunia U-17 2025 yang Terinspirasi dari Pelatih dan Pemandu Bakat Banyak Jasa

Yuan Edo Ramadhana • Selasa, 4 November 2025 | 22:59 WIB
Boma, maskot Piala Dunia U-17 2025. (Dok. FIFA)
Boma, maskot Piala Dunia U-17 2025. (Dok. FIFA)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Salah satu tradisi yang selalu dinanti dalam gelaran Piala Dunia adalah pengenalan maskot sebagai sarana promosi turnamen tersebut. Tidak hanya di tingkat senior saja, Piala Dunia kelompok umur, termasuk U-17 kini juga punya maskot sendiri-sendiri.

Umumnya, maskot-maskot tersebut dirancang sesuai budaya dan keunikan negara asal, sama seperti untuk gelaran tingkat senior. Misal pada 2023 lalu, Indonesia selaku tuan rumah turnamen memiliki Bacuya, alias Badak Cula Cahaya yang dirancang sebagai pesepakbola berwujud badak jawa.

Untuk Piala Dunia U-17 edisi 2025, FIFA resmi memperkenalkan maskot baru bernama Boma pada Kamis (30/10) lalu. Sama seperti kebanyakan maskot sebelumnya, Qatar selaku tuan rumah memilih maskot berbasis fauna, berupa burung hantu gurun khas negara tersebut.

Namun berbeda dengan kebanyakan maskot Piala Dunia yang berupa pesepakbola, Boma merupakan seorang pelatih sepak bola. Ternyata ada kisah yang cukup menarik dalam pembentukan latar belakang burung hantu satu ini.

Boma dinamai demikian dengan dua alasan. Yang pertama, ‘boma’ berarti burung hantu dalam Bahasa Arab. Yang kedua, karakter tersebut dirancang berdasarkan sosok pelatih asal Serbia, Velibor Milutinovic, yang lebih akrab disapa Bora atau Milu.

Sebagai pelatih, Bora Milutinovic punya catatan mentereng di tingkat timnas, dengan berhasil mengantar lima dari delapan negara yang dilatihnya ke Piala Dunia. Yakni Meksiko, Kosta Rika, Amerika Serikat, Nigeria, dan Tiongkok.

Dari semua negara tersebut, Bora hanya gagal mengantar Tiongkok ke babak eliminasi Piala Dunia edisi 2002, itupun karena turnamen tersebut juga merupakan penampilan perdana Tiongkok. Tak ayal dirinya sampai dijuluki ‘Miracle Worker’, alias pembuat keajaiban di Amerika Serikat.

Tiga sisanya adalah Honduras, Jamaika, dan Irak. Bora memutuskan mundur dari Honduras karena memandang lingkungan kerjanya buruk, sementara itu dirinya gagal mengantar Jamaika dan Irak ke Piala Dunia.

Menurut rilis resmi FIFA, setelah pergi dari Irak, Bora pergi ke Qatar dan menerima pekerjaan sebagai pemandu bakat dan pelatih timnas kelompok umur negara tersebut. Sebelumnya dirinya juga sudah akrab dengan lingkungan sepak bola Qatar, karena sempat melatih salah satu klub setempat, Al-Sadd.

Selain merancang sistem pencarian bakat dan pengembangan pemain sepak bola Qatar hingga kini, dirinya juga banyak berperan di luar lapangan hijau untuk negara tetangga Arab Saudi tersebut. Bora merupakan penasihat teknis manajemen Aspire Academy, pemilik kompleks Aspire Zone tempat Piala Dunia U-17 2025 dihelat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Alkass English (@alkassenglish)

 Baca Juga: Ingin Nonton Laga Timnas Indonesia U-17 Secara Gratis? Ikuti Langkah Ini Untuk Nonton di FIFA+

Selain itu, Bora juga merupakan anggota tim sukses kampanye dan penyelenggaraan Piala Dunia 2022 lalu, yang juga digelar di Qatar. Bora, yang kini sudah sepuh, masih tinggal di Qatar hingga sekarang.

Karena itu, sosok Bora dituangkan dalam wujud burung hantu, yang sering melambangkan pengetahuan dan kebijaksanaan. “Boma dan Bora merupakan lambang yang cocok dengan turnamen tempat awal mula talenta sepak bola muda melebarkan sayap di tingkat dunia. Boma juga merupakan wujud penghormatan kepada Bora dan seluruh pemandu bakat yang punya visi, keahlian dan pemikiran untuk mencari bakat muda di segala kondisi,” bunyi rilis resmi FIFA.

Tentu, Bora menyambut baik penyelenggaraan Piala Dunia kelompok umur sebagai ajang pencarian bakat. “Kalau waktu saya muda dulu tidak ada sarana pencarian bakat muda, sekarang sudah ada Piala Dunia U-17, U-20, U-23 serta Olimpiade untuk mengukur kemampuan pemain muda,” jelasnya dalam wawancara media bersama FIFA.

Lalu apa pendapatnya terhadap Boma, yang dirancang berdasarkan dirinya? “Saya suka dengan maskotnya. Persis seperti saya, namun lebih imut dan cakep, jadi menurut saya bagus sekali”, kelakar Bora. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#burung hantu #indonesia #BOMA #Piala Dunia U-17 2025 #fifa #Piala Dunia U-17 #piala dunia #maskot #maskot piala dunia #bora #kelompok umur #qatar