Tabuhan gamelan menjadi salah satu titik fokus Muhamad Maskan Hadi ketika duduk di panggung pertunjukan wayang. Sebab, tidak hanya cukup menguasai alur cerita dibawakan menjadi seorang dalang dituntut menguasai banyak unsur seperti ilmu karawitan.
Sesuai jenis wayang ditampilkan. Misal wayang kulit atau krucil. Dalam satu kesempatan, Maskan mulai bercerita tentang ketertarikannya terhadap seni pertunjukan wayang hingga menjadi dalang.
Dengan percaya diri, dia menunjukkan fotonya ketika mengisi sebuah acara. Tepatnya, peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 2023 di Desa Napis, Kecamatan Tambakrejo. Ia tampak mengenakan blangkon khas atribut para dalang.
Menggenggam gagang wayang kulit sembari mikrofon tertempel di dadanya. Tidak luput, tepat di sebelahnya duduk para sinden yang siap menembang Jawa. Maskan mengungkapkan, awal perjalanannya menjadi seorang dalang tidaklah instan.
Ketertarikannya bermula saat sering diajak sang kakek menonton wayang semasa kecil. Dan, merasa semakin tertarik saat masih duduk di bangku kelas tiga SD. Dia mengungkapkan, ada satu kejadian saat itu yang membuatnya terpanah dan ingin mempelajari wayang lebih dalam.
’’Saat itu kepala sekolah masuk kelas dan menggambar tokoh Gatot Kaca. Di sini, saya mulai semakin tertarik,” kata pria 22 tahun itu. Dia merupakan dalang pertama di keluarganya. Karena orang tua maupun kakek dan neneknya tidak berporfesi demikian sebelumnya.
Namun, lanjut dia, berdasar cerita ada keturunan dalang dari nenek moyang yang berasal dari Kecamatan Ngraho. Meski jauh, dikatakan tetap miliki trah atau keturunan. Maskan menyebut, debut atau penampilan resmi pertamanya sebagai dalang terjadi secara menarik.
Yakni, ketika pernikahan kakaknya. Ia diminta menjadi dalang dalam acara hiburan setelah prosesi akad digelar. Ini terjadi pada 2022 lalu. ’’Setelah itu, diberi kepercayaan menjadi dalang di desa. Mengisi pertunjukkan untuk hari kemerdekaan,” imbuhnya.
Dalam membawakan cerita, Maskan lebih fokus pada penokohan Mahabarata. Seperti wahyu kembar cakraningrat jayaningrat yang menggambarkan seorang Raja Pringgodani Gatot Kaca dalam mencari wahyu karena merasa belum waktunya menjadi senopati.
Juga, cerita tentang Semar Mbangun Kayangan. Dia menuturkan, kini tengah mendalami jenis pertunjukan wayang kulit dan krucil. Guna mengenal lebih jauh, ia tidak segan menimba ilmu hingga Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
’’Tidak tahu mungkin pendek pengetahuan saya. Tapi, belum menemukan sanggar di daerah Bojonegoro, khususnya di Kecamatan Tambakrejo untuk mendalami seni pewayangan. Mungkin ada, tapi tidak terlalu aktif. Biasanya ikut sanggar di Jawa Tengah,” ucapnya.
Dia menyampaikan, terjunnya dalam dunia seni wayang tidak lepas dari tekad melestarikan budaya. Terlebih, di Kecamatan Tambakrejo, menurutnya, saat ini hanya tersisa dua dalang. Yakni, Damin dan Sarimin.
Dia menceritakan, di kecamatan setempat terdapat pertunjukan wayang yang masih sangat kuno atau tradisional. Menggunakan wayang krucil minimalis dan klasik. Dalangnya pun berusia sekitar 76 tahun. ’’Sehingga, butuh regenerasi,” tuturnya.
Maskan menambahkan, dalam langkahnya memutuskan menjadi dalang tentu mengalami berbagai tanggapan. Baik positif maupun negatif. Namun, ia yakin, adanya masukan atau tanggapan menjadi bahan bakar agar terus berkembang. Seperti masukan terkait tangga nada.
’’Karena memang dalam wayang tidak hanya untuk memahami dan menyampaikan cerita. Tapi, juga harus paham iringan dan tangga nada. Seperti gamelan. Ini saya baru mempelajari sekitar 2019. Sebenarnya, bakat condong di seni tari. Tapi, entah mengapa tidak ke sana, malah ke sini belajar seni pedalangan,” pungkasnya. (*/bgs)
Editor : Hakam Alghivari