Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Welda Sanavero, Magister Sastra Dunia Asal Jiken Blora yang Telurkan Berbagai Buku hingga Best Seller

Hakam Alghivari • Sabtu, 13 April 2024 | 21:00 WIB

 

INSPIRATIF: Sosok Welda Sanavero menginspirasi atas karya-karya sastra yang telah ia rilis.
INSPIRATIF: Sosok Welda Sanavero menginspirasi atas karya-karya sastra yang telah ia rilis.

 

BLORA, Radar Bojonegoro - Welda Sanavero memang terlahir untuk sastra. Bagaimana tidak, Sanavero berhasil menjadi orang Indonesia yang pertama kali menyandang gelar magister sastra dunia yang ia tempuh selama satu tahun lebih di Nalanda University India.

Perempuan asal Desa Jiworejo, Kecamatan Jiken itu telah menggeluti dunia sastra sejak masih berada di bangku madrasah aliyah. Saat sedang menempuh pendidikan di India, ia menemukan banyak hal. Terlebih soal akar dari sebuah sastra.

’’Aku pengin tahu sastra yang sebenarnya itu seperti apa. Kenapa kok selama ini harus Eropasentris? Padahal sastra dunia mempelajari semua sastra yang ada di dunia. Misal Yunani, Timur Tengah, bahkan Asia itu sendiri,” ucapnya.

Menurutnya dengan sastra, ia bisa bebas berekspresi tanpa adanya kekhawatiran. Karena itu, dirinya juga telah menelurkan berbagai buku hasil karyanya sendiri. ’’Yang pertama itu ‘Perempuan yang Memesan Takdir’. Lalu, ‘Paragraf-Paragraf untuk Nurlela’, ‘Perempuan yang Berjalan Sendirian’, dan yang terakhir ‘The Sounds of Silence’ yang diterbitkan di India,” ucap perempuan 29 tahun itu.

Ia juga mengatakan, buku-bukunya merupakan kisah-kisah berdasarkan kehidupan nyata seorang santri yang selalu tertutup. ’’Aku menulisnya dari sudut pandang perempuan yang lagi nyantri. Sama seperti kisahku. Santri itu seperti tertutup di dalam bilik stigma. Sehingga, dianggap hanya nurut,” ujarnya.

Di dalam buku, lanjut dia, ada hal tabu bagi kehidupan pesantren. ’’Maka dari itu, setelah buku pertama rilis, ternyata di-banned di beberapa pesantren. Tapi, malah jadi best seller,” tuturnya. Selain menjadi pengarang, dirinya juga sempat mengajar menjadi dosen tamu di salah satu universitas di New Delhi, India. (hul/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#sastra #sastrawan #magister #blora #jiken #dunia