‘’Atau pas hari libur saya menjenguk anak yang saya pondokkan. Istri sama adiknya saya ajak, istilahnya sambang ke kakaknya yang lagi mondok di Denanyar, atau mbaknya yang di Malang. Selain kita meluangkan waktu bersama keluarga, sekaligus saya kepingin waktu itu menjadi satu perekat daripada keluarga, biar selalu ada komunikasi dan kebersamaan,’’ tutur Sekretaris Umum Yayasan Pondok Pesantren Sunan Drajat ini.
Menurut Iwan, sesibuk apapun dalam kehidupan ini, kita akan kembali kepada keluarga. Karena itu, keluarga perlu dibentuk melalui kebersamaan. Meski bertemu tidak begitu lama, namun pertemuannya yang berkualitas.
‘’Contoh jalan-jalan samping laut, minum kopi, minum teh, bercengkrama dan tidak ada batasan istilahnya guyub. Dari sana anak bisa keterbukaan dan menyampaikan sesuatu akhirnya terjadi komunikasi. Kedua ingin membentuk rasa simpati dan empati sesama saudara,’’ ujar Wakil Ketua Komisi Pengembangan Ekonomi Umat MUI Pusat tersebut.
Iwan menjelaskan, komunikasi itu tidak via telepon saja. Kebersamaan terbentuk melalui hati ke hati. ‘’Saya berharap keluarga itu tidak ada jarak antara keluarga dan anak, dengan aturan ada sopan santun,’’ jelasnya.
Laut menjadi salah satu tempat yang disenangi Iwan. ‘’Kalau tidak bisa tidur, saya sempatkan ke pinggir laut Paciran. Mancing setengah jam. Kalau mata sudah sayup-sayup, pulang tidur. Itu saya lakukan kapanpun di saat saya butuh refreshing untuk tidur. Kadang-kadang dari luar kota acara dewan pulang jam 11 malam, tidur tidak bisa, jam 2 keluar mancing, mengajak teman kampung, mancing 30 menit satu jam, pulang, menenangkan diri. Mancing, selain hobi, itu memang menjadi ketenangan sendiri. Di sana inisiatif atau ide-ide banyak muncul,’’ ujar anggota DPRD Jawa Timur ini. (sip/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto