RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sofia Nuria Lisa dalam menempuh pendidikan di negeri orang berbuah manis. Setelah melewati dua tahun penuh perjuangan menyelesaikan gelar magister.
Perempuan asal Desa Guyangan, Kecamatan Trucuk itu berhasil menuntaskan pendidikan S-2 Occupational Health and Safety Inje University, Korea Selatan, dengan predikat cumlaude, IPK sempurna 4,5 dari 4,5.
Capaian tersebut menjadi buah dari perjalanan panjang Lisa sebagai penerima beasiswa Global Korea Scholarship (GKS) 2023. Sebelumnya, perempuan 27 tahun tersebut menempuh pendidikan S1 Public Health di Universitas Airlangga Surabaya. Kemudian, menjalani sekolah bahasa Korea selama setahun. Setelah itu, Lisa melanjutkan studi S2 selama dua tahun.
Baca Juga: Niken Ayu Putri Prameswari: Suka Membaca dan Mengulik Sejarah
"Awalnya suka drama korea. Malah keterusan belajar bahasanya sampai pernah buka les privat online buat ngajar bahasa Korea. Sampai akhinya ada tekad dan niat kuat untuk mencoba mendaftar beasiswa ini. Alhamdulillah langsung lolos one shoot," kisahnya.
Di balik angka sempurna tersebut, tersimpan perjuangan yang tidak mudah. Enam bulan pertama menjadi masa paling berat bagi Lisa. Selain harus beradaptasi dengan cuaca, makanan, dan budaya Korea, dia dituntut menjalani aktivitas laboratorium sejak pukul 09.00 hingga 17.00. Jika ada jam kuliah bisa mulai pukul 06.00 dan berakhir hingga pukul 22.00 atau 23.00.
"Belum lagi kalau ada projek sama profesor bisa pulang subuh, bahkan tidak pulang. Aku struggle banget di awal enam bulan pertama. Karena posisi benar-benar di lab sendiri, tidak ada senior maupun junior. Dengan 3 profesor," kenangnya.
Baca Juga: Lulu Citra Salsabila, Biasa Memasak Bersama Ibu
Lisa menceritakan, sempat ada titik benar-benar ingin pulang karena merasa sudah tidak kuat. Namun, keinginan menyerah itu perlahan ditepis. Dukungan sang bunda menjadi salah satu penguatnya. Lisa kembali mengingat besarnya perjuangan yang telah dilakukan untuk sampai di Korea Selatan.
“Banyak yang ingin berada di posisiku sekarang. Yakin mau menyerah?” pikirnya kala itu.
Tekad itu akhirnya terbayar. Lisa mampu menyelesaikan studi dengan hasil sempurna. Tak hanya berprestasi secara akademik, selama kuliah dia juga aktif bekerja paruh waktu di foreigner support center sebagai penerjemah dan konsultan bagi pekerja migran Indonesia (PMI).
Bagi Lisa, IPK 4,5 bukan sekadar angka. Di baliknya ada keberanian untuk mencoba, ketekunan bertahan, serta air mata yang menemani perjalanan.
Ke depan, ia ingin melanjutkan karir di Korea Selatan. Seperti, mimpi awalnya ketika bertekad melanjutkan S-2. Menetap, berkembang, dan bercahaya di negeri yang memberinya gelar magister itu.
"Punya mimpi itu gratis, tapi untuk mewujudkannya butuh tekad, niat, dan pengorbanan. Bahkan diiringi perpisahan dan air mata. Apapun itu, coba dulu, hasilnya serahkan kepada Yang di Atas. Hidup cuma sekali, jangan sampai menyesal karena tidak pernah mencoba," pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Hakam Alghivari